Sanubari

Sanubari
Mengantar Atmaja Cek Up.



Sesampainya di rumah Atmaja, terlihat Atmaja sedang berjemur duduk di kursi rodanya. Mbok Yem mendekati Ali dan Bari.


"Selamat pagi Den Brian, Mas Ali."


Mereka berdua tersenyum kepada Mbok Yem.


"Papa tidak apa-apa 'kan, Mbok?" tanya Bari.


"Tidak apa-apa, Den," jawab Mbok Yem heran kenapa Bari berkata seperti itu.


Bari menatap Ali yang mengendikan bahunya.


"Glenca ada, Mbok?"


"Dari semalam Nyonya Glenca belum pulang," jawab mbok Yem.


"Aku tau kemana Glenca pergi," ucap Bari.


"Kemana."


"Di sebuah apartement."


"Bagaimana kalau kita kesana," ajak Ali.


Bari mengangguk.


Tak berselang lama, mobil terios berwarna hitam datang. Glenca turun dari mobil itu bersama dengan Kampleng sebagai supirnya.


Bari dan Ali menghampiri Glenca.


"Dari mana kamu?" tanya Bari kasar.


"Apa urusan kamu," jawab Glenca Ketus. Glenca dengan sombongnya masuk ke rumah.


"Kampleng, habis dari mana Glenca?" tanya Bari Lagi.


"Non Glenca habis menginap di rumah saudaranya, Den."


"Perempuan atau Laki-laki?" tanya Bari lagi.


"Perempuan, Den."


"Kamu tidak bohong kepadaku, kan?"


"Tidak, Den. Saya sendiri yang mengantarkan Non Glenca."


Bari percaya dengan Kampleng. Bari menganggap Kampleng adalah orang yang dapat di percaya karena dia sudah lama bekerja untuk papanya.


Dari sudut jendela Glenca tersenyum sinis menatap Bari dan Ali.


Al bersbisik kepada Bari. "Kita ke kamar Glenca. Kita introgasi dia supaya mau mengaku."


Bari mengangguk sepakat dengan usulan Ali. Glenca sudah mengetahuinya dari dalam rumah, dia berakting mual berlari menuju wastafel. Bari dan Ali hanya melihatnya. Dalam pikiran mereka berdua masih bertanya-tanya tentang kehamilan Glenca.


Glenca menatap Bari yang berdiri di pintu kamar dengan wajah pura-pura lesu, napasnya terengah-engah.


"Kenapa kalian kesini? Ini kamarku. Apa Kalian mau berbuat kurang ajar denganku.


Bari mendengus kesal, lalu dia pergi diikuti dengan Ali. Glenca yang melihatnya tersenyum licik karena telah memperdaya Bari dan Ali.


...***...


Di hari Minggu, Sanu yang terbangun dari tidur panjangnya hendak menelpone ibunya. Sanu takut kalau ibunya tidak mendapat perawatan lagi dari Latif.


Suara handphone berdering.


📱"Halo, Ibu."


📱"Sanu, Ada apa?"


📱"Ibu sehat, kan?"


📱"Sehat, memang ada apa?"


📱"Tidak apa-apa, Bu? Sanu hanya ingin bertanya kabar saja."


📱"Ibu sehat, Nak. Dokter Latif merawat Ibu dengan baik. Kamu tidak usah terlalu khawatir."


"Ya sudah kalau begitu, Bu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Sambungan berakhir.


Sanu lega sekarang. ternyata apa yang dipikirkan Sanu salah. Sanu kemudian menelpone dokter Latif hendak meminta maaf.


📱"Halo, Dok."


📱"Sanu ...?"


📱Maaf kalau mengganggu, Dok?"


📱"Tidak masalah, Sanu. Lagian ini hari libur."


📱"A-aku mau mengucapkan terima kasih karena Dokter telah merawat Ibu saya."


📱"Tidak usah berlebihan, Sanu. Itu tugas saya sebagai Dokter. Melayani masyarakat yang membutuhkan."


📱"Aku juga ingin minta maaf atas kejadian tempo ..."


📱"Tidak usah minta maaf, Sanu. Itu pilihan kamu, aku hargai itu. Semoga kamu bahagia dengan pasanganmu."


📱"Terima kasih atas doanya." Sambungan berakhir. Kini Sanu sudah lega persoalan yang mengganjal di hatinya sudah teratasi.


Tak berselang lama, Dara datang membuka pintu dengan wajah yang cemberut.


"Kamu kenapa, Dara? Baru datang sudah manyun?" tanya Sanu.


Sanu menahan senyum melihat tingkah lucu Dara. "Memang castamernya kenapa?"


"Tadi Dara itu hampir closing, tapi tiba-tiba ada satu castamer yang ngrecoki."


"Terus, tidak jadi closing." dara duduk melempar tas punggungnya ke sembarang tempat.


Dara mengangguk memajukan bibir bawahnya.


"Ya sudahlah Dara, belum rejeki, di ikhlasin saja."


"Kak Sanu mah enak tinggal ngomong. Dara yang ngelakuin nyesek, Kak."


"Kak Sanu juga pernah mengalami hal seperti itu. Tapi Kak Sanu mencoba mengikhlaskan. Hari berikutnya bisa tiga," ucap Sanu.


"Enak ya prosesnya Kak Sanu. Besok zero besoknya lagi bisa tiga.'


"Bukan di situ poinnya. Kalau kita mengikhlaskan sesuatu, Tuhan pasti akan menggantikan yang lebih baik."


"Iya deh ... yang sudah jadi manager," ucap Dara ketus.


...***...


Hari senin, Sanu sudah bersiap berangkat ke kantor bersama dengan Dara. Tidak lupa juga tas punggung Polo yang selalu menemani Sanu dahulu saat masih di lapangan.


"Cincinnya Kak Sanu bagus sekali ... pasti harganya mahal," ucap Dara yang melihat cincin di jari manis Sanu.


"Ini cincin pemberian dari Ibuku," alasan Sanu.


"Tumben Kak Sanu bawa tas punggung?" tanya Dara.


"Nanti Kak Sanu mau kelapangan, Kak Sanu bosan ada di kantor."


"Yakin mau ke lapangan lagi, nanti kulitnya hitam lho," ucap Dara.


"Kamu apaan sih, Tidak masalah kalau hitam, kan ada sanblock."


Suara handphone bergetar di saku celana kiri Sanu. Pesan Dari Bari, mengajaknya untuk menemani mengantar pak Atmaja control ke rumah sakit.


Sanu menaruh tas punggungnya ke sudut ruangan.


"Kenapa?" Tanya Dara.


Sanu tersenyum nyengir. "Hari ini Kak Sanu tidak jadi ke lapangan, ada tugas negara."


"Halah alasan, bilang saja Kak Sanu malas ke lapangan," cibir Dara.


"Tidak, Dara ... kak Sanu janji, besok pasti ke lapangan."


Dara memajukan bibir atasnya, lalu berangkat mendahului Sanu.


Bari sudah sampai di Depan Terminal Pasar Minggu. Sanu segera menemuinya.


"Hay ...!" Bari tersenyum mencium kening Sanu.


Sanu mulai terbiasa dengan kecupan dari Bari.


"Kita ke rumah papa dulu ya."


Sanu mengangguk, masuk ke dalam mobil.


"Kamu sudah makan, Sanu?"


"Belum Kak, kita cari makan dulu," ucap Sanu.


"Kita makan di rumah papa saja? Mbok Yem sudah menyiapkan sarapan untuk kita "


"Oke!" seru Sanu mengangkat jarinya ke atas membentuk huruf O.


Tak berselang lama mobil yang dikendarai Bari sampai di halaman rumah Atmaja. Sanu dan Bari turun menyapa pak Wagi suami dari mbok Yem yang sedang memotong rumput.


"Pagi Pak Wagi ..." sapa Sanu.


"Pagi Sanu, Den Brian," balas pak Wagi.


Mbok Yem terlihat sudah menyiapkan sarapan pagi.


"Den Brian!" Mbok Yem terkejut kedatangan Bari dan Sanu di pagi hari.


"Kita disuruh Ali datang kesini mengantar papa cek up."


"Iya, Den. Kampleng sedang sakit hari ini dia tidak masuk kerja."


"Papa di kamar ya, Mbok?"


"Iya, Den. sebentar Mbok mau bawa pak Atmaja kesini." Mbok Yem menuju kamar Atmaja.


Atmaja lebih baik dari sebelumnya, badannya lebih berisi dan wajahnya terlihat lebih cerah.


"Pagi, Pa ...," sapa Sanu mencium punggung tangan Atmaja.


Sanu mengambil bubur yang sudah disiapkan mbok Yem, lalu menyuapi Atmaja.


"Pa, sekarang Bari dan Sanu sudah tunangan, mohon Papa merestuinya." Bari memegang telapak tangan Atmaja.


Atmaja mengangguk merestui hubungan anaknya dengan Sanu. Bari tersenyum mengucapkan terima kasih.


"Sudah, ah. Biar Papa makan dulu," ucap Sanu.


"Kok cuma Papa yang disuapi, aku 'kan juga mau disuapi sama kamu." canda Bari.


"Nanti saja kalau sudah sah jadi suami istri," ucap Sanu.


Bersambung ...