Sanubari

Sanubari
Usaha Baru.



Mobil travel sudah sampai di depan rumah Sanu. Nurjanah dan Clara mnyambutnya dengan suka cita. Hari ini adalah ulang tahun Sanu yang ke dua puluh tahun. Sanu di bopong Nurjanah dan Aida duduk di kursi roda.


Nurjanah terharu melihat kepulangan Sanu. Memeluk hangat anak perempuannya.


"Aku pulang dulu ya, Bulek, Sanu." Aida berpamitan pulang ke rumah.


Sanu mengangguk mengucapkan terima kasih kepada Aida. Nurjanah mendorong Sanu masuk ke dalam rumah. Para tetangga yang mendengar Sanu kehilangan setengah kakinya, berbondong-bondong ingin melihat kondisinya. Wajar saja, banyak orang tua yang menginnginkan Sanu menjadi menantunya. Selain cantik, Sanu juga memiliki budi pekerti yang baik.


Tapi, setelah melihat keadaannya yang seperti ini, mungkin mereka berpikir dua kali untuk menikahkan anaknya dengan Sanu.


"Ya ampun cah ayu ... kok iso koyo ngene to ....(Ya ampun anak cantik .... kok bisa seperti ini)" ucap salah satu tetangga.


Sanu merasa risih, mereka seolah hanya ingin melihat penderitaan Sanu saja. Sanu pun masuk ke dalam kamar, beralasan lelah.


Nurjanah masih melayani tetangga, mengajak ngobrol dan bercanda.


Clara menemui Sanu, menatap sedih kakaknya, lalu tidur di pangkuannya. Sani membelai rambut Clara, rambutnya halus dan lurus seperti rambut Sanu.


Nurjanah menghampiri Sanu saat para tetangga sudah pulang.


"Sanu, makan dulu, Nak? Ibu sudah siapkan lauk kesukaanmu."


Sanu tersenyum. "Nanti saja, Bu. Sanu belum lapar. Sanu ingin istirahat dulu saja."


Nurjanah tersenyum, lalu menggendong Clara yang sedang tertidur di pangkuan Sanu.


Di Ibu Kota, Dara dan crew Sanu lainnya merasa sedih karena mendapat kabar dari Pak Nazar tentang pengunduran diri Sanu. Dara tak henti menangis duduk di rooftop, dia teringat masa-masa indah pitcing bersama Sanu.


Rina berjalan menghampiri Dara, memegang lembut bahunya.


"Diikhlaskan saja, Dara. Ini sudah keputusan Sanu."


"Tapi Kak Sanu sudah berjanji akan melihat Dara jadi asisten manager, Mana!"


"Ada atau tidak adanya Sanu, kamu harus tetap berjuang mengejar mimpimu. Crew kamu sudah banyak, sebentar lagi kamu akan menjadi asisten manager. Kamu buktikan kepada keluarga kamu, kalau kamu bisa sukses di sini."


Dara mengubah posisi duduknya, menatap lekat Rina, kemudian memeluknya.


"Kita berjuang sama-sama ya, Dara." Rina ikut terharu.


Dara melepas pelukannya gantian memegang lengan Rina. "Nanti kalau kita jadi asisten manager atau manager, kita temui kak Sanu."


Rina mengangguk menyunggingkan senyum. Hari itu mereka berdua berjanji satu sama lain untuk melanjutkan mimpinya.


Di rumah Mira Suganda, Bari mulai bisa berjalan lagi. Kondisinya masih lemah, butuh perawatan insentif untuk bisa memulihkan Bari. Mira memanggil dokter syaraf terbaik untuk merawat anaknya. Bagi Mira itu bukanlah masalah, uangnya tidak ada serinya. Yang dibutuhkan Mira sekarang adalah melihat anaknya sehat kembali.


"Brian makan dulu, Nak?" Mira menawarkan makan saat Bari duduk di teras.


Bari tidak bergeming, matanya menatap kosong ke depan seperti ada yang dipikirkan, tapi dia tidak tau sedang memikirkan apa.


"Makan dulu, Nak. Mama sudah menyiapkan beberapa buah dan sayur yang menyehatkan untukmu."


Bari menoleh menatap Mira. "Apa anda kenal dengan gadis yang bernama Sanu?"


"Deg." Jantung Mira terasa mau copot. "Sanu siapa, Brian." Mira beralasan.


"Dia sering datang ke dalam mimpiku, menangis memegang kedua lenganku," ucap Bari dengan wajah datar.


"Itu hanya bunga tidur, Sayang. Lebih baik kamu makan supaya kondisimu cepat pulih," ucap Mira mengusap rambut anaknya.


...***...


Satu minggu telah berlalu, Sanu mencoba membuka warung kelontong kecil-kecilan. Ini usaha pertama Sanu. Uang dari income pasif Sanu lebih dari cukup untuk membuka warung di depan rumahnya. Sisanya lagi dibelikan mesin jahit supaya mempermudah ibunya bekerja.


Setiap pagi Nurjanah rencananya yang belanja ke pasar untuk mengisi warung kolelontong milik Sanu. Clara masih terlalu kecil untuk membantu Sanu. Walaupun tempatnya tidak strategis, tapi dengan ilmu pemasaran yang Sanu pelajari, dia yakin akan banyak pembeli berdatangan ke warungnya. Sanu tinggal duduk di dalam warung melayani pembeli yang datang.


Para warga tentu saja antusias, bisa beli sembako murah. Sanu begitu kewalahan melayani pembeli hingga Nurjanah membantu Sanu. Hingga siang hari sembako yang ada di warungnya Sanu habis, hanya tersisa deterjen dan minuman sachet.


Hari ini Sanu hanya mendapat lelah, tapi tidak mengapa, dia senang karena para warga begitu antusias mendatangi warungnya.


"Warga di kampung ini, kalau sudah mendengar diskon, langsung di serbu." Nurjanah menggeleng.


Sanu tertawa kecil, Nurjanah menutup warung di bantu oleh Clara. Kesibukan membuat Sanu bisa sejenak melupakan masalahnya. Siang harinya Nurjanah menjahit Baju pesanan pelanggan. Lebih mudah dan tidak bersusah payah karena mesin jahitnya baru. Nurjanah bisa menyelesaikanya lebih cepat dari pada memakai mesin jahit yang lama.


Sore telah tiba, Sanu yang duduk di teras sambil merajut kain, melihat dokter latif berjalan di depan rumahnya. pandanganya terlihat sinis, berbeda saat Sanu pertama kali bertemu dengannya.


Sanu tersenyum menyapa Latif, tapi Latif tanpa expresi berlalu begitu saja. Sanu baru teringat, satu minggu ini ibunya belum periksa ke puskesmas. Sanu pun memutar kursi rodanya menghampiri ibunya yang sedang sibuk menjahit.


"Ibu tidak periksa ke puskesmas?" tanya Sanu.


Nurjanah tersenyum masih fokus menjahit. "Tidak, Nak. Ibu sudah sehat."


Sanu tau Nurjanah sedang berbohong.


"Clara dimana, Sanu?" tanya Nurjanah.


"Bermain di lapangan sama temannya, memang ada apa, Bu."


"Ibu mau menyuruh Clara mengantarkan baju ke gang sebelah."


"Biar Sanu saja yang mengantarkan, Bu."


"Jangan, Sanu. Biar adikmu saja." Nurjanah merubah posisi duduknya menatap Sanu.


"Sanu bisa kok, Bu."


Nurjanah menghela napas. "Baiklah." Nurjanah memberikan plastik kresek yang berisi beberapa pakaian.


Sanu dengan cekatan mendorong kursi rodanya, Sanu tidak peduli akan menjadi tontonan tetangga. Sekalian dia ingin menemui Latif untuk meminta maaf atas kejadian waktu di rumah sakit.


Setelah mengantarkan baju, Sanu langsung ke tempat Latif. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan pelanggan ibunya.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


"Assalamualaikum!"


Latif membuka pintu, terkejut melihat Sanu ada di depannya. "Sanu ... tumben kamu kesini, silahkan masuk."


"Tidak usah, Kak."


Suasana lengang sesaat.


"mau bicara apa?" tanya Latif.


"Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian saat di rumah sakit."


Latif menunduk, tangannya mengepal, wajahnya merah, urat di sekitar lehernya terlihat membesar, dia sepertinya masih marah.


"Tidak usah minta maaf, aku sudah memaafkan." Latif lalu menutup pintu rumahnya.


Sanu terperanjat mengusap dada.


Bersambung ...