Sanubari

Sanubari
Keterangan.



Bari dan Sanu begitu menikmati hari ini. Mereka bedua terlihat lelah beristirahat sejenak di sebuah gardu.


"Kita cari makan, yuk?" ajak Bari.


Sanu mengangguk. Mereka berdua kembali menaiki sepeda tandem mencari rumah makan terdekat.


Mereka berhenti di restotan padang. Seorang pelayan memberikan menu makanan. Bari dan Sanu memesan dua nasi dengan ayam balado dan minumnya jus jambu merah.


"Oiya, Sanu. Aku belum tau kenapa crew mu bisa keluar."


"Karena zero terus, Kak," jawab Sanu.


"Bukannya standart kamu tinggi?"


"Standart tinggi kalau tidak fokus percuma, Kak."


"Kamu mekirkanku?"


Sanu mengangguk pelan matanya sayup memandang Bari.


Pelayan restoran datang menghidang pesanan Sanu dan Bari.


Sanu dan Bari sejenak terdiam, berganti dengan acara makan. Hanya sendok, garpu dan piring yang berbunyi nyaring saling beradu satu sama lain.


Selesai makan mereka duduk di depan air mancur sambil melihat burung dara beterbangan.


Bari melanjutkan pembicaraan tadi.


"Kamu janji sama aku ya, Sanu. Jangan keluar sebelum jadi manager. Aku yakin kamu bisa, Sanu. kamu punya kemampuan itu." Bari berusaha menyakinkan Sanu.


"Bagaimana kalau aku gagal." Sanu menatap Bari lekat.


"Kamu harus yakin, Sanu. Berusahalah, aku akan bersamamu." Bari memegang tangan Sanu erat.


Sanu tersenyum bermata sembab. Bari lalu mencium tangan Sanu. Sanu tersipu malu. Suasana yang ramai seakan tidak terasa bagi Bari dan Sanu.


"Aku akan berusaha sekuat mungkin. Untuk masa depan," ucap Sanu.


Bari tersenyum memberi semangat untuk Sanu.


Senja mulai tiba, kebersamaan Sanu dan Bari berakhir di ujung sore. Bari mengantarkan Sanu hanya sampai terminal. sebab, keberadaan Bari tidak ingin di ketahui seseorang. Bari sudah berjanji, setiap habis bulan, akan mengajak Sanu jalan.


Sanu melambaikan tangan saat Bari melajukan motornya. Hari sudah mulai gelap, Sanu membuka pintu kost melihat Rina dengan wajah kesal menatap Sanu.


"Kamu kenapa, Rina?" tanya Sanu.


"Kamu kemana saja, Sanu. Aku kan sudah bilang sama kamu jangan meninggalkan kost."


"Maaf Rina? Aku tadi ke tempat Aida. Aku suntuk di kost, kebetulan tadi Aida menelponku untuk menemuinya," alasan Sanu.


"Ya sudahlah, yang penting kamu kembali dengan selamat. Aku pikir kamu mau bunuh diri," ucap Rina.


"Jadi kamu khawatir karena itu?" Sanu bertolak pinggang.


Rina mengangguk, tersenyum nyengir. "Habisnya, kamu seperti putus asa saat Bari tidak lagi ada di sini."


"Aku masih punya iman, Rina? Tidak mungkin aku melakukan tindakan seperti itu."


"Baguslah kalau begitu ... aku perhatikan wajahmu ceria sekali hari ini. Apa kamu bertemu dengan Bari?" canda Rina.


Sanu yang sedang minum air mineral tersedak hingga memuntahkan air itu dari mulutnya.


Rina terkekeh, "Aku hanya bercanda, kenapa setiap mendengar nama Bari raut Wajahmu selalu berubah?"


"Kamu ini, Rina!" Sanu menyeka mulutnya.


"Siapa yang yang mau keluar, Rina."


"Tadi pagi kamu bilang, kan? Secepat itu kamu berubah pikiran, Sanu?" Rina tidak mengerti dengan jalan pikiran Sanu.


"Aku berubah pikiran. Aku ingin melanjutkan proses di lapangan. Kali ini aku harus serius." Sanu memandang Rina dengan mata yang berbinar.


"Ini terlihat aneh bagiku, Sanu. Tadi pagi kamu merengek minta keluar, tapi malam ini ... apa yang terjadi denganmu, Sanu."


"Sudahlah, Rina. Apa kamu tidak ingin aku kembali proses lagi?"


"Syukurlah kalau begitu, Sanu. Aku ikut senang mendengarnya."


...***...


Sanu memulai semangat baru, mencoba membangun kembali dirinya yang dulu. Hari-hari dilalui Sanu dengan berbagai aktifitas kantor. Standartnya pun perlahan mulai membaik. Satu minggu kemarin akhirnya Sanu masuk top guys, setelah sekian lama absen. Sanu kembali di percaya pak Nazar membawa orang baru. Memulai dari nol kembali.


Ini pertama kalinya Sanu membawa orang baru. Sanu begitu bersemangat. Dia tidak sabar menunggu akhir bulan supaya bisa bercerita dengan Bari tentang perkembangannya di lapangan.


Sanu baru sadar kalau perbuatannya kemarin itu merugikan dirinya dan crew. Wajar saja semua crew Sanu hilang. Kali ini Sanu tidak boleh membuat kesalahan lagi.


Sanu mencoba membuka pola pikir orang baru itu. Namanya Dara berasal dari kota Semarang. Baru lulus tahun ini. Datang ke Ibu Kota hendak mencari pekerjaan. Anaknya terlihat pendiam, sama seperti Sanu dulu. Sanu mengajaknya ke lapangan sampai sore. Dara terlihat bersemangat secara to the point dia ingin juga ke lapangan. Sanu begitu senang, baru kali ini mendapatkan crew yang mau di ajak ke lapangan.


Sanu mengajari Dara dengan kemampuan yang dia bisa. Sampai tiba saatnya Dara menjadi MD. Sanu juga sudah tidak sekamar dengan Rina. Sanu pindah kamar bersebelahan dengan Rina supaya bisa mengawasi Dara yang ngekost dengan Sanu. Rina juga begitu, dia mengajak salah satu crew nya yang berasal dari daerah satu kamar dengannya.


Hari minggu Sanu memutuskan untuk tetap pitcing. Dara juga tidak mau kalah, dia juga ingin ikut pitcing dengan Sanu. Padahal, Sanu melarangnya, tapi perempuan bergigi gingsul ini tetap kekeh pada pendiriannya.


Sanu kali ini pitcing ke daerah Koja menaiki kereta listrik turun di stasiun Kampung Bandan lalu naik angkot turun terminal Tanjung Priok naik angkot lagi sampai ke Koja. Sangat jauh dari Pasar Minggu.


"Jauh amat, Kak?" keluh Dara.


"Untuk perluasan teritory, Dara."


Dara hanya mengikuti perintah Sanu. Dara juga memiliki standar yang tinggi. Saat pengangkatan Dara menjadi MD baru. Dia bisa membuktikan hukum rata-rata dua kali.


Sanu dan Dara niat pitcing sampai sore. Baru juga setengah hari alat mereka sudah habis. Mereka berdua pun sangat senang.


"Teritory di sini bagus, belum ada yang pernah pitcing di sini," ucap Sanu.


"Masih siang, Kak. Mau ngapain kita?" tanya Dara.


"Jalan-jalan, yuk?" ajak Sanu.


Dara mengangguk setuju. Sanu mengajak Dara ke Kota Tua. menikmati keramaian disana, berfoto ria. melihat musisi jalanan memainkan gitarnya sambil menikmati kuliner disana. Kerak telur, Sanu selalu membeli kerak telur jika berada di Kota Tua.


Begitu menyenangkan hari ini. Tiba-tiba seseorang memangil Sanu dari kejauhan. Itu lukman mantan crew Sanu.


"Kamu apa kabar, Lukman?"


"Baik, Kak.


"Kenalin ini Dara, crew baru Kak Sanu."


Lukman bersalaman dengan Dara.


"Sekarang kamu kerja dimana?" tanya Sanu.


"Aku belum dapat kerja, Kak. Masih cari kerja. seharusnya aku dulu tidak mengikuti saran Kak Muna."


"Maksudmu?" Sanu memicingkan matanya.


"Dulu kak Muna menyarankanku untuk keluar."


Sanu sangat terkejut dengan pernyataan Lukman. Dia tidak menyangka, kalau Muna tega melakukan perbuatan ini. Pantas saja crew nya secara bersamaan mundur dari pekerjaan ini. Ini tidak bisa dibiarkan. Sanu harus melaporkannya kepada pak Nazar.