
Glenca keluar dari ruangan Atmaja menyeka air mata buayanya, lalu tersenyum sinis memandang ke depan. Glenca duduk di ruang tunggu. Dokter yang memeriksa Atmaja menghampiri Glenca.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"
Dokter menghela napas panjang. "Suami Ibu sepertinya mengalami frustasi yang parah, sebagian syaratnya mati, kemungkinan besar suami Ibu mengalami stroke."
Glenca terbelalak menutup mulutnya. Tubuhnya lemas duduk di kursi tunggu. Dokter berusaha menguatkan Glenca.
"Sabar Bu Glenca. Saya dan tim akan berusaha semaksimal mungkin."
Glenca mengangguk mengeluarkan air matanya. Sang dokter pun pamit karena masih banyak pasien yang harus di periksa. Akting Glenca dihadapan dokter selesai, dia melebarkan bibirnya tertawa penuh kegembiraan.
"Sebentar lagi aku bisa menikmati harta Atmaja sepenuhnya."
Glenca lalu menelpone kekasih gelapnya Arya mengajak ketemuan di salah satu Kafe. Arya menyetujuinya. Glenca pun berangkat menuju Kafe tersebut.
Arya terlihat duduk sambil menunggu kedatangan Glenca.
"Hay, Sayang." Glenca menghampiri Arya sambil cipika-cipiki.
"Cerah sekali wajahmu hari ini, Sayang?" tanya Arya.
"Iya dong, Sayang. Aku punya kabar gembira untuk kita."
"O ya ...! Kabar apa?"
"Atmaja yang bodoh itu, kini terkena stroke," Ucap Glenca dengan sumringah.
"Benarkah ...?"
Glenca mengangguk. "Itu berarti aku bisa kuras hartanya semauku."
"Kamu memang hebat, Sayang," puji Arya.
"Kita bisa bersenang-senang, Sayang."
Di tengah euforia Glenca dan Arya, Bari tidak sengaja masuk ke kafe yang sama, melihat mereka berdua terlihat mesra. Bari lalu bersembunyi di antara para pengunjung yang ramai. Bari tau siapa itu Glenca, mereka pasti tengah merencanakan perbuatan yang buruk.
Bari ingin mengetahui pembicaraan mereka. Namun, jaraknya terlalu jauh, sehingga Bari hanya bisa memperhatikan gerak tubuh mereka.
Pengunjung kafe satu persatu mulai kembali bekerja. Tapi Glenca dan Arya masih duduk mengobrol sambil berfoto memamerkan kemesraannya.
"Dasar tidak tau malu," gumam Bari.
Bari tidak habis pikir, bagaimana jika papanya tau kalau Glenca sedang bermesraan dengan seorang pria. Bari hendak memfoto perbuatan Glenca, Tapi buat apa? Bari merasa Ini bukan urusannya lagi.
Bari pun pergi lewat pintu belakang Kafe, supaya tidak diketahui oleh Glenca dan Arya.
Hari mulai sore, Glenca memanggil pelayan kafe untuk meminta bil. Pelayan kafe menghampiri Glenca menghitung jumlah harga. Glenca memberikan kartu kredit kepada pelayan Kafe itu.
Pelayan kafe menuju tempat pembayaran hendak menggesek kartu kreditnya Glenca. Beberapa kali menggesek, tapi tidak bisa juga. Pelayan kafe pun menyerahkan kartu kredit itu kepada Glenca kembali.
"Maaf, Mbak. Kartu kredit anda tidak bisa digunakan lagi."
Glenca menatap tajam pelayan Kafe itu. "Apa kamu bilang. Tidak mungkin."
"Saya sudah mencobanya beberapa kali, Mbak. Tapi tetap tidak bisa," ucap pelayan kafe itu dengan sopan.
Glenca pun sangat geram mengapa kartu kreditnya tidak bisa digunakan. Dengan Terpaksa Arya yang membayar semua makanan dengan uang cash.
"Coba kamu cek di Bank, siapa tau sedang terjadi troble," ucap Arya.
Glenca menurut, dia segera menuju Bank terdekat.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu," ucap pegawai bank.
"Saya mau bertanya, kenapa kartu kredit saya sudah Tidak bisa digunakan." Glenca memberikan kartu kreditnya kepada pegawai bank itu. Pegawai Bank itu mencoba memeriksanya.
"Maaf, Mbak. Kartu kredit yang anda gunakan sudah di blokir."
"Apa ...! Tidak mungkin." teriak Glenca.
"Ini pasti perbuatan Atmaja," ucap Arya.
"Tidak mungkin, Sayang? Atmaja sedang di rumah sakit."
"Sangat mungkin, Sayang. Dia pasti menyuruh anak buahnya untuk memblokir kartu kredit kamu, bahkan kartu atm kamu."
"Sialan kamu Atmaja. Dari mana Atmaja tau nomor pin atm ku. Brengsek!"
Kini Glenca sudah tidak bisa lagi menggunakan uang prmberian Atmaja sesuka hatinya. Arya juga tidak kalah emosi, dia berusaha membuat rencana baru untuk menguasai harta Atmaja.
Glenca segera menuju rumah sakit tempat Atmaja dirawat. Terlihat Atmaja masih terbaring lemah. Glenca menatap Atmaja dengan wajah geramnya. Glenca merasa kebebasannya sudah di ambil Atmaja. Sebab Glenca tidak bisa hidup tanpa bersenang-senang.
"Awas saja kamu Atmaja, aku pasti akan mengeruk harta kekayaanmu," gumam Glenca.
...***...
Malam hari, Bari berkunjung ke tempat Sanu hendak mengajak Sanu makan malam. Disana sudah ada Dara, Elfa dan Rina yang sedang bercanda bersama.
"Hay semua ...," sapa Bari.
Dara langsung beranjak dari tempat duduknya. "Kak Bari. Pasti mau ketemu sama Dara ya?"
Bari tersenyum. "Aku ingin bicara dengan Sanu."
Dara memajukan bibir bawahnya. "Kenapa sih, Kak Bari selalu mencari Kak Sanu."
Bari hanya tersenyum nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya. Sanu menghampiri Bari.
"Ada apa," ucap Sanu lirih.
"Aku ingin mengajakmu makan malam, Sanu."
Mendengar ucapan Bari, Rina dan Elfa pun tidak mau ketinggalan. Mereka mendekat ke arah Sanu.
"Kalian kenapa?" tanya Sanu heran.
"Masak yang di ajak makan malam cuma Sanu. Kita kan juga mau ikut," ucap Rina dengan mata berbinar.
Sanu menatap bari sambil mengangkat satu alisnya.
"Tidak masalah, kita Sewa mobil saja. aku akan mengajak kalian ke restoran yang enak di Kota ini."
Mereka semua bersorak gembira, Rina dan Elfa segera mempersiapkan diri.
Mobil online sudah ada di depan kost mereka. Mobil itu berhenti di salah satu Mall yang terkenal di Ibu Kota.
"Mall nya bagus banget," kagum Dara.
Mereka semua menikmati suasana Mall sambil melihat pernak-pernik berwarna-warni yang bergelantungan. Wajar saja, sebentar lagi pergantian tahun. Biasanya setiap Mall akan menawarkan diskon besar-besaran. Bari mengajak Mereka berempat naik ke lantai dua menuju restoran jepang.
Mereka semua takjub dengan pelayanannya yang memakai pakaian kimono ala jepang. Pelayan restoran dengan sopan memberikan Menu makanan. Mereka semua duduk di meja bundar yang berputar pelan dengan sendirinya.
"Pilih saja makanan yang kalian suka," ucap Bari.
"Benar, Kak!" seru Dara.
"Jangan terlalu banyak makannya, Dara. Tadi kamu kan sudah makan," Ucap Sanu.
"Kak Sanu ini, merusak kebahagiaan saja."
Sanu menahan tawanya.
Mereka berempat memesan makanan yang berbeda supaya bisa saling mencicipi rasa makanannya.
Di tengah asyiknya mereka makan, seorang yang memakai dasi panjang menyapa Bari dari kejauhan. Itu adalah Arya, teman kuliahnya Bari sekaligus kekasih gelapnya Glenca.
"Kamu di sini," ucap Arya dengan gaya selengekannya.
Bari menatap Arya dengan malas. "Ya."
Arya menatap teman satu meja Bari, menandangnya dengan jijik.
"Kenapa, kamu tidak suka dengan mereka?" tanya Bari jengah.
"Mereka siapa?" tanya Arya sambil menyipitkan mata dan menekuk bibirnya ke atas.
"Temanku," jawab Bari singkat.
Sanu yang melihat Arya pun terkejut dan menghentikan sejenak makannya.