Sanubari

Sanubari
Bari Sadar.



Glenca sedang bersembunyi di salah satu apartemen yang ada di pulau Bali. dia menggunakan uang penjualan apartemen dan beberapa harta dari Atmaja untuk bertahan hidup disana. Setiap kali keluar dari apartemen dia menggunakan wig berambut panjang dan masker untuk menutupi identitasnya.


Polisi dengan alat pengintai terbaru bisa mengetahui keberadaan Glenca lewat sidik


jari yang di tinggalkan. Salah satu barang dari Glenca disinari sebuah laser, lalu dengan sendirinya komputer akan mengarahkan kemana Glenca berada. Komputer dengan sinar laser yang berwarna merah itu menunjukan titik lokasi dimana Glenca berada.


"Daerah ubud Bali, cepat segera hubungi rekan yang ada disana," perintah komandan polisi.


Polisi segera menghubungi kepolisian yang ada di Bali, lalu mengirim foto Glenca. Polisi sudah tau tempat Glenca bersembunyi, tinggal ditangkap.


Glenca terlihat santai menonton televisi, dia tidak tau kalau polisi sedang menuju apartemennya.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


"Siapa ...!" seru Glenca.


Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara Beberapa orang bercengkrama di luar pintu kamar.


Glenca mengintip dari balik pintu, dia terkejut dan panik, beberapa polisi menunggu di depan pintu. Glenca tidak bisa kabur, dia tinggal di lantai dua puluh. satu-satunya cara hanya lompat lewat balkon, tapi itu tidak mungkin. Itu sama saja bunuh diri. Glenca mengunci pintu, polisi yang berada di luar mengetahui itu. Polisi berteriak memaksa Glenca untuk membuka pintu, atau akan didobrak. Salah satu dari polisi meminta kunci cadangan kepada petugas loby.


Glenca masih berada di dalam kamar, memikirkan bagaimana caranya keluar dari apartemen ini.


"Brengsek! Aku tidak mau masuk penjara!" pekik Glenca sambil mengacak-acak rambutnya.


Glenca mendongak, melihat atap langit-langit. Dia memiliki ide kabur melalui langit-langit itu. Glenca mengambil tangga, lalu memukul atap langit-langit itu memakai palu hingga hancur, sedangakan polisi masih berteriak memberi peringatan kepada Glenca.


Salah satu dari polisi sudah mendapat kunci duplikat kamar Glenca. polisi segera membukanya, Glenca terlihat sudah menaiki tangga dan masuk kedalam lubang eternit. Tapi polisi dengan sigap menangkap kaki Glenca kemudian menariknya ke bawah. Glenca jatuh mengerang kesakitan. Tanpa ampun lagi polisi langsung memborgol tangan Glenca.


"Tunggu, Pak. Saya bisa jelaskan." Glenca meronta.


"Jelaskan di kantor polisi," tegas pak polisi.


"Salah saya apa, Pak! Kalian belum tau siapa saya! Kalian akan saya tuntut!" teriak Glenca berusaha menakut-nakuti polisi.


Polisi tidak menghiraukan ocehannya Glenca, Mereka tetap menggelandang Glenca masuk ke sel tahanan.


...***...


Esok harinya, Ali dan Mira yang mendapat kabar kalau Glenca sudah ditangkap. Mira mengajak Jaka dan Bondan untuk melihat Glenca di tahanan. Dia ingin memberi perhitungan kepada Glenca.


Mira sampai di kantor polisi, tersenyum sinis berjalan menuju sel tahanan yang di tempati Glenca. polisi mengeluarkan Glenca dari sel guna berbicara dengan Mira.


"Nyonya, tolong lepaskan saya dari sini," mohon Glenca menangis dan berlutut di hadapan Mira.


"Kamu telah membunuh Atmaja, mencelakai anakku sampai saat ini belum sadarkan diri, membuat Sanu kehilangan kakinya, lalu apakah aku harus memaafkanmu?" Mira menatap Glenca dengan tatapan membunuh.


"Maafkan aku Nyonya, aku sudah menyesali perbuatanku. Jika anda memaafkanku, aku rela menjadi budak anda selamanya," ucap Glenca menangis tersedu-sedu.


Mira mendekatkan wajahnya ke wajah Glenca, tersenyum sinis.


"Plak ...!" Suara tamparan di pipi terdengar begitu keras hingga mulut Glenca berdarah. Glenca meronta kesakitan.


"Aku akan membuatmu membusuk di sini." Mira berbalik badan, lalu berjalan meninggalkan Glenca didampingi Bondan dan Jaka.


Polisi penjaga kembali memasukan Glenca ke sel tahanan. Glenca memberontak, berteriak meminta Mira melepaskannya.


"Kalian akan menyesal memenjarakanku!" Glenca mulai stres meracau tidak jelas di penjara.


...***...


Mira datang memakai dres panjang berwarna kuning tiga perempat kaki dengan kaca mata hitam berjalan diantara Bondan dan Jaka.


Semenjak Mira melihat Sanu cacat, dia tidak pernah mengajak Sanu bicara. Bahkan, saat Sanu menyapanya pun Mira hanya terdiam. Sanu mulai berpikir kalau Mira sudah tidak ingin menjadi menantunya.


Bari sudah bisa di jenguk siapa saja, asalkan tidak berisik. Tapi Sanu tidak diperbolehkan dokter menjenguknya, itu atas perintah Mira. Sanu hanya bisa melihat Bari dari kaca jendela.


"Hari ini Ibu mau pulang, Nak? Clara tidak bisa di sini terus. Dia harus sekolah."


"Iya, Bu. Nanti kalau urusan Sanu sudah selesai, akan Sanu susul Ibu di kampung."


Nurjanah menghela napas. Sebenarnya Nurjanah mengkhawatirkan Sanu, tapi apa daya, dia harus kembali bekerja dan Clara yang masih solekolah. Nurjanah juga menyadari kalau Mira sikapnya mulai berubah saat melihat Sanu yang sudah tidak memiliki kaki.


Nurjanah melihat Sanu lekat, matanya berkaca-kaca memeluknya sebagai tanda perpisahan.


"Jaga kesehatan ya, Sanu."


Sanu mengangguk, meneteskan air matanya.


"Kak Sanu, kalau pulang Clara minta coklat ya," ucap Clara dengan polosnya.


"Clara sekolah yang rajin ya, nanti kalau Clara berprestasi di sekolah Kakak berikan tas." Sanu tersenyum mencubit gemas pipi cabi Clara.


Clara mengangguk mantap. Melambaikan tangannya saat berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.


Sanu kembali keruangannya, sekilas dia menoleh ke ruangan Bari melihat Mira menangis. Sekuat apapun wanita jika melihat anaknya terluka tak berdaya pasti akan luluh juga. Sanu ingin sekali menguatkan Mira. Tapi pasti Sanu di usir Mira dari ruangan.


Sanu melihat dari jendela, Mira terlihat panik memanggil dokter yang merawat Bari. Dokter datang berjalan cepat masuk ruangan, tanpa pikir panjang Sanu ikut masuk ingin melihat apa yang terjadi.


Terlihat layar berukurun sebesar televisi membentuk gelombang tidak beraturan. Dokter segera memeriksanya, Mira terlihat panik memegang erat tangan Bari.


"Selamat, Bu. Anak Ibu kemungkinan besar akan siuman." Tapi dia kemungkinan besar mengalami amnesia untuk Sementara waktu."


selang beberapa menit, Bari membuka matanya melihat Mira lamat-lamat. Bari menoleh, melihat Sanu dan dokter.


"dimana ini?" tanya Bari lirih.


"Di rumah sakit, Nak."


"Siapa anda?" tanya Bari.


"Aku Ibu kandungmu ... Mira Suganda dan kamu bernama Brian Atmaja." Mira menangis haru.


"Kak Bari," panggil Sanu.


Bari menoleh. "Siapa kamu?"


"Aku ..."


"Dia bukan siapa-siapa, hanya tetangga kamar saja." Mira dengan cepat memotong ucapan Sanu. Matanya melotot menatap Sanu.


Bari masih melihat Sanu. "Kenapa kamu memakai kursi roda?"


"Brian, lebih baik kamu istirahat dulu, Nak. Nanti mama bisa jelaskan ke kamu," ucap Mira mengalihkan pembicaraan.


Bari mengangguk.


Bersambung ...