Sanubari

Sanubari
Bertemu dengan Atmaja.



Malam ini adalah malam pergantian tahun, harusnya Bari bisa jalan dengan Sanu. Tapi dia hendak menemui Sanu untuk mengajak ke rumah papanya. Bari menuju ke tempat Sanu bersama dengan Ali menaiki mobil.


Sanu sedang bersama dengan teman dan crew nya di depan kantor bakar ikan bersama. Suasana di kantor begitu riuh dengan nyanyian. Sanu pun ikut bergabung dengan mereka. Bernyanyi bersama membentuk lingkaran di tengah api pembakaran. Para pria bertugas menyiapkan ikan yang hendak di bakar. Sedangkan para wanita menyiapkan bumbunya.


Setelah api pembakaran di rasa cukup, Sanu menuju rooftop duduk sambil menikmati angin malam. Tak berselang lama, Rina datang menghampiri Sanu.


"Hey, Sanu. Kamu tidak jalan dengan Bari?"


"Tidak tau, Rina. Aku belum dihubungi kak Bari."


Rina mengangguk-anggukan kepalanya.


Dari pintu rooftop Eko memanggil Sanu. "Kak Sanu."


Sanu menoleh. "Iya, Eko. Kebiasaan deh!"


"Kak Sanu dicari dua pria ganteng."


"Siapa?" tanya Sanu penasaran.


"Katanya namanya Bari sama Ali."


Rina tersenyum menatap Sanu. Sanu segera menemui mereka berdua. Bari terlihat sedang mengobrol dengan Dara Dan Elfa di ruang observasi.


"Sanu," sapa Bari.


"Kak Bari."


"Kenalkan ini temanku Ali."


Sanu dan Ali bersalaman. Sanu duduk di depan dua pria tampan itu.


"Ada apa ya, kelihatannya serius?" Tanya Sanu.


Bari dan Ali saling menatap.


"Saya adalah pengacaranya pak Atmaja. kedatangan saya kesini untuk meminta bantuan anda," ucap Ali.


"Bantuan apa?"


"Pak Atmaja sedang sakit stroke, beliau ingin bertemu denganmu untuk minta maaf," ucap Ali.


Sanu menatap lekat Bari, lalu tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.


"Baik, saya akan menemui pak Atmaja." Sanu segera mengambil tas dan syal hijau yang selalu dipakainya setiap hendak pergi.


"Kak Sanu mau kemana?" tanya Dara yang melihat Sanu membawa tas.


"Kak Sanu mau pergi sebentar, Dara. Nanti akan kembali lagi kesini."


"Kak Sanu tidak asyik," cibir Dara memajukan bibirnya.


"Kak Sanu aku culik dulu ya, Dara. Nanti aku kembalikan dengan selamat." ucap Bari.


"Tapi jangan lama-lama ya, Kak. Soalnya kalau Kak Sanu tidak ada, malam ini kita tidak dapat traktiran."


Sanu mendelikan matanya. "Jadi karena itu, kamu mencegah Kak Sanu supaya tidak pergi."


"Iya," ucap Dara nyengir.


Ali dan Bima menahan tawa melihat tingkah Dara.


"Begini saja Dara, nanti kamu dan teman kantor kamu pesan makanan sepuasnya, biar Kak Bari yang bayar."


"Beneran ya, Kak." Dara sumringah.


Bari mengangguk


Dara pun begitu senang. Bari memberikan sejumlah uang berwarna merah kepada Dara. Sanu merasa tidak enak hati.


"Kak Bari ..."


"Tidak apa-apa Sanu. Aku senang membantu mereka."


"Terima kasih, Kak Bari." Dara langsung pergi setelah melempar senyumannya.


Sanu hanya bisa memgehela napas melihat kelakar Dara.


"Ayo kita berangkat," ucap Ali.


Mereka bertiga menaiki mobil yang terparkir di area pasar.


"Kenapa kamu tidak duduk di depan saja, Brian?" tanya Ali saat Bari dan Sanu duduk di belakang.


"Tidak, aku lebih suka duduk di sini."


"Bilang saja karena ada Sanu," ucap Ali yang menyetir mobil.


"Syal kamu bagus, siapa yang beliin," bisik Bari kepada Sanu.


"Sepertinya ada udang dibalik batu nie." gumam Ali yang terdengar oleh Bari.


"Bukan udang di balik batu. Tapi, roso tresno jalaran soko kulino."


Mereka bertiga pun tertawa sambil melihat keramaian Ibu Kota.


Suasana Ibu Kota malam ini begitu ramai. walaupun masih beberapa jam lagi pergantian tahun, suara kembang api sudah menggema di udara, menghiasi langit malam Ibu Kota.


Sanu melihat dari kaca mobil yang berjalan pelan karena kemacetan lalu lintas.


"Kamu suka, Sanu?" tanya Bari.


Sanu mengangguk menyunggingkan senyum.


"Nanti setelah kita bertemu papa, kita akan menyalakan kembang api yang banyak."


Sanu sekali lagi mengangguk.


Setelah satu jam berada di mobil, akhirnya mereka bertiga sampai di rumah mewah Atmaja.


Glenca sudah menunggu kedatangan mereka duduk di ruang tamu.


"Mau apa kalian?" tanya Glenca.


Dengan langkah pelan, Bari menghampiri Glenca. "Bukan urusan kamu."


"Kalian masuk rumah orang tidak ada sopan santunnya!" hardik Glenca.


"Sepertinya kamu butuh ke psikolog, Glenca," ucap Bari.


"Berani kamu dengan Ibu tirimu."


Bari tidak menggubris cercaan Glenca lagi. Dia mengajak Sanu dan Ali menuju lantai atas menemui papanya.


Sanu masih terlihat ragu, berjalan pelan sambil memainkan ujung bajunya di belakang Bari dan Ali.


"Sanu, kamu tenang saja. Aku akan menjagamu." Bari memegang kedua lengan Sanu saat melihat Sanu ragu.


Sanu mencoba memantapkan diri.


Ali membuka pintu kunci kamar. "Ceklak."


Sanu melihat seorang pria paruh baya duduk di kursi roda dengan mulut mencong menunduk lesu. Sanu menutup mulutnya seolah tidak percaya melihat kondisi Atmaja yang dulu kekar kini begitu kurus dan rapuh.


Atmaja perlahan mendongak, melihat gadis yang dulu hampir dia perkosa di antara Bari dan Ali. Atmaja memandang lekat Sanu, matanya berkaca-kaca, butir airnya menggenang di sudut, membesar, lalu jatuh di kerutan pipinya.


Ali membantu mendorong kursi roda Atmaja mendekat ke Sanu. Dengan sekuat tenaga Atmaja memegang tangan Sanu. Namun, Sanu mundur satu langkah.


Bari meyakinkan Sanu. "Tidak apa-apa, Sanu. Papa kini sudah mengakui kesalahannya.


Sanu dengan tangan gemetar mrngulurkan tangannya ke Atmaja. Sekali lagi Atmaja berusaha meraih tangan Sanu. Hingga dia benar-benar memegangnya. Dengan mulut bergetar Atmaja meminta maaf dengan tulus kepada Sanu. Terdengar tidak sempurna memang, tapi Sanu seperti memahami perkataan Atmaja. Dengan air mata yang mengalir, Sanu pun memberikan maaf kepada Atmaja.


Bari dan Ali tampak senang melihat pemandangan itu. Atmaja menangis sesenggukan, seperti ada beban yang terlepas dari hidupnya.


"Selesai sudah misi kita mempertemukan Pak Atmaja dengan calon menantu," kelakar Ali.


Bari pun menyenggol lengan Ali. Sanu yang mendengar memicingkan mata ke arah Ali sambil tersenyum tipis.


"Papa sekarang sudah lega, kan. Ali tolong titip Papa sebentar ya," ucap Bari.


"Kamu mau kemana?"


"Aku ingin mengantarkan Sanu pulang ke Pasar Minggu."


"Bilang saja kalian mau pacaran?"


Bari dan Sanu saling melempar senyuman.


"Ya sudah hati-hati," ucap Ali.


Bari mendekati Atmaja. "Papa tenang saja, aku akan lebih sering mengajak Sanu kesini."


Atmaja mengedipkan mata sambil sesekali tersenyum. Ini hari yang membahagiakan untuk Atmaja.


Bari dan Sanu pun berpamitan.


Di lantai bawah sudah menunggu Glenca yang hendak membuat masalah. Dengan senyum sinis dia mencibir Sanu.


"Jadi wanita kampung ini yang bernama Sanu."


"Tutup mulutmu, Glenca!" bentak Bari.


Glenca terkekeh. "Kamu terlihat labil saat aku mencibirnya."


Bersambung ....