Sanubari

Sanubari
Kemarahan Mira.



Suara langkah kaki terdengar dari kamar, Sanu segera melihat siapa yang datang.


"Dara, Elfa, Rina ..." Sanu melambaikan tangan dari atas tangga.


Dara, Elfa dan Rina bersorak menghampiri serta memeluk Sanu.


"Kak Sanu ini kebiasaan, setiap mau pulang tidak mengabari terlebih dahulu," omel Dara.


"Lha ... kan kejutan," ucap Sanu.


"Dara biasa saja." Dara melipat kedua tangannya di dada sambil memalingkan wajahnya.


Sanu tersenyum menggoda Dara. "Oh, begitu ...? Kue lapisnya buat Eko dan Agus saja deh."


"Jangan!" Dara dengan cepat memegang lengan kiri Sanu lalu bersandar di bahunya sambil memajukan bibir bawahnya.


Rina dan Elfa tertawa melihat kelakar Dara.


"Dara mah tidak bisa akting," cibir Elfa.


"Masuk yuk, Tidak enak ngomong di dekat tangga." Sanu mengajak mereka bertiga masuk.


Sanu memberi hadiah Rina dan Elfa satu toples kue lapis dan bakpia. Rina dan Elfa mengucapkan terima kasih. Lalu mereka bedua kembali ke kost nya.


"Hadiah untuk pak Nazar mana, Kak?" tanya Dara.


"Ini." Sanu menunjukan kardus persegi panjang berwarna kuning bertuliskan brem.


"Brem? Makanan apa ini, Kak?" tanya Dara lagi.


"Itu makanan terbuat dari singkong yang sudah difermentasi?" jawab Sanu.


"Sejenis tape?"


"Bukan, pokoknya orang di daerahku menyebutnya brem."


"Dara terus melihat bungkus berwarna kuning itu. "Kelihatannya enak, Dara coba ya!"


"Jangan! Itu 'kan buat pak Nazar."


Dara memajukan bibirnya, menaruh kembali makanan berwarna kuning itu.


"Bagaimana pitcingmu satu minggu ini, Dara?"


"Dara masuk top guys, dong. Yang zero-zero itu si Eko sama Agus. Katanya tidak semangat kalau tidak ada Kak Sanu," jawab Dara sambil makan kue lapis.


"Mereka berdua belum berubah, mudah-mudahan segera sadar," ucap Sanu sambil merebahkan tubuhnya.


...***...


Pagi yang cerah, matahari terlihat bersahabat menyinari bumi. Bari hendak berangkat ke kantor menaiki motor sport berwarna birunya. Mira sedang ke Luar Negri mengurusi bisnisnya. Bari menyapa Bondan dan Jaka yang berjaga di sepanjang malam.


Bari dan tim sudah berusaha keras mencari investor untuk memberi pinjaman kepada


perusahaan Atmaja. Namun, tidak satupun yang mau memberi suntikan dana. Perusahaan Atmaja sedang pailit akut, jadi investor ragu untuk menanamkan saham. Jika satu bulan ini utang belum dibayar, bisa dipastikan perusahaan Atmaja gulung tikar.


Satu-satunya cara adalah membujuk mamanya untuk membantu Atmaja. Bagi Bari ini tidak mudah, karena Mira begitu membenci Atmaja. Siang Ini mamanya akan pulang, Bari disuruh menjemputnya di Bandara.


Bari sampai di kantor duduk di kursi empuk presdir sambil menghubungi Ali untuk datang ke ruangannya. Ali tanpa berlama-lama segera mengindahkan panggilan Bari.


"Ada apa, Brian?"


"Tolong nanti kamu handle pekerjaan sebentar, aku mau menjemput mama di Bandara."


"Baik," Ali memberi kunci mobilnya kepada Bari.


Bari tersenyum kepada Ali lalu beranjak dari kursinya menuju Bandara.


Perjalanan selama dua puluh menit di lalui Bari dengan sempurna. Bari duduk di kursi tunggu sambil memainkan handphone nya. Setengah jam menunggu, Mira menelpone Bari mengabarkan pesawat yang ditumpanginya akan segera leanding.


Dari kejauhan Bari melambaikan tangan saat melihat Mira memakai kaca mata hitam dengan celana kain panjang dan blazer berwarna abu-abu, terlihat modis menyambut lambaian tangan anak kandungnya. Mira segera menghampiri Bari cipika-cipiki. Bari membawakan koper besar mamanya menuju tempat parkir mobil.


"Berapa lama Mama istirahat?" Tanya Bari saat menyetir mobil


"Satu bulan," jawab Mira tersenyum.


Bari terlihat ragu untuk meminta bantuan kepada mamanya. Waktunya kurang tepat, tunggu mamanya istirahat di rumah.


Bari tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma."


Setelah mengantar mamanya pulang, Bari segera menuju kantor untuk melakukan meeting mingguan.


Ali sudah mempersiapkan semua kelengkapan Bari. Tinggal menerima laporan dari staf yang bekerja membantu mencari investor. Hasilnya masih nihil, Bari tidak bisa berdiam diri. Nanti malam dia harus berbicara dengan mamanya.


"Apa rencanamu Brian?" tanya Ali saat berada di ruangan Bari.


"Aku akan mencoba meminta bantuan kepada mama."


"Setelah semua yang terjadi, kamu yakin mama kamu mau."


Bari tersenyum simpul. "Hanya ini satu-satunya cara."


"Aku mau tau, bagaimana cara kamu menyakinkan mama mu. Terus terang aku pesimis kalau harus meminta bantuan kepada bu Mira."


"Kita harus mencobanya terlebih dahulu."


Ali tersenyum tipis. "Aku hanya bisa mendoakanmu, semoga kamu berhasil."


...***...


Sore telah tiba, mentari mulai menunjukan lembayung senja yang sedap dipandang mata. Tim Sanu berkumpul hendak mendengarkan pengarahan dari leader mereka. Semua crew mendengarkan dengan seksama. Mereka seperti mendapat suntikan semangat saat Sanu ada di tengah-tengah mereka.


Selesai Evaluasi, seperti biasa Agus dan Eko membuat ulah menagih janji Sanu mengajak semua crew nonton film di Mall.


"Kak Sanu lupa." Sanu menepuk keningnya."


"Jadi kapan, Kak?" tanya Eko.


"Malam minggu saja, gimana?"


"Siap, Kak. Sambil makan-makan ya, Kak!" seru Agus.


Dara yang ada di samping Agus menonyor kepalanya. "Makan saja yang ada dipikiranmu."


Semua tim Sanu tertawa lepas.


Sanu merasa kehidupannya betul-betul sempurna. Memiliki crew yang lucu, Ekonomi Sanu mulai terangkat serta memilki Bari yang selalu ada di hatinya. Apa kabar Bari? Sanu merindukanmu.


Malam hari setelah selesai makan, Bari mencoba memberanikan diri bicara dengan Mira.


"Ada apa, Brian? wajahmu tampak gugup sekali."


Bari duduk disamping Mira dengan wajah serius. "Mama pernah janji, kan. akan mengabulkan permintaan, Brian."


Mira mengangguk. "Asal tidak berhubungan dengan papa kamu, Mama akan kabulkan."


Deg ... jantung Bari terasa berhenti sejenak. Mulutnya mulai keluh, dia khawatir kalau membicarakan perusahaan papanya Mira akan marah.


"Hey, Brian. Ada apa denganmu? apa kamu sakit?" tanya Mira sambil memegang kening Bari.


Brian tersenyum simpul. "Brian tidak apa-apa, Ma?"


"Kamu tidak seperti biasanya, Brian. Apa yang membuatmu seperti ini?"


Bari menghela napas dalam-dalam, mencoba memberanikan diri.


"Sebenarnya selama dua minggu ini Bari sedang mengurusi perusahaan nya papa yang sedang pailit. Perusahaan itu harus diselatmakan, Ma."


"Brian! Mama sudah bilang ke kamu, jangan pernah bantu lagi manusia bejat itu!"


"Papa sudah berubah, Ma. Sekarang dia sedang sakit parah. Bari harap Mama bisa membantu perusahaan papa."


"Bagus kalau si tua bangka itu sakit parah, ternyata doa Mama selama ini dikabulkan Tuhan," ucap Mira tersenyum sinis.


"Tolonglah bantu papa, Ma. Sekali ini saja, Brian memohon sama Mama."


Mira berdiri hendak menegaskan ucapannya. "Kamu boleh minta apa saja dari Mama, termasuk hidup sederhana di desa dengan Sanu. Tapi Mama tidak akan pernah sudi membantu pria bejat itu!" Mira meninggalkan Bari menuju kamarnya dengan kemarahan yang memuncak.


Bari memegang kepalannya dengan kedua tangannya, mengerang terlihat frustasi.


Bersambung ...