Sanubari

Sanubari
Tanpa kedua Kaki.



Nurjanah melihat anaknya yang terlihat senang, memberi jalan untuk melihat Sanu.


"Ini aku bawakan apel, Kak," ucap Agus.


"Bukan kalian ya yang beli, tapi kita bertiga, kalian berdua mah apa," cibir Dara.


Sanu tersenyum sedikit terhibur.


"Buburnya kok belum di makan?" tanya Rina yang melihat bubur ada di meja samping tempat tidur Sanu.


"Sini biar aku makan kebetulan aku lapar," ucap Agus yang tidak tahan melihat makanan.


Elfa dengan segera menonyor kepala Agus sampai mundur beberapa langkah. "Kamu itu ya, kalau ada makanan lupa daratan."


Ruangan 4x4 riuh dengan suara mereka berlima. Dara melihat seorang anak kecil berusia enam tahun bersembunyi di balik kain panjang ibunya.


"Ini siapa, kok lucu banget sih ...." Dara mencubit gemas pipi cabi Clara.


"Clara, Kakak," ucap Nurjanah menuntun Clara berkata. Clara tetap takut besembunyi dibalik tubuh Ibunya menatap mereka berlima dengan mata yang besar.


"Clara suka coklat? tanya Dara.


Clara mengangguk dengan wajah datar.


"Ikut Kakak yuk, nanti Kakak belikan coklat yang banyak untuk Clara?"


Clara tersenyum mengangguk. Dara menggandeng tangan Clara keluar pintu membeli coklat.


"Dara hebat ya, cocok untuk di jadikan ibu anak-anakku nanti," ucap Eko ngarang.


"Halah ... Dara tidak akan mau sama kamu. Kelapangan saja masih zero-zero," cibir Elfa.


Semua yang ada di ruangan pun tertawa. Sanu pun tertawa sedikit melupakan rasa sedihnya.


Rina yang paling dekat duduk disamping Sanu menatapnya lekat. Matanya merah, wajahnya terlihat sayu, Sanu habis menangis. Rina tau itu.


"Hey, Sanu? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Rina.


Sanu tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Syukurlah, kalau begitu. Aku senang mendengarnya."


Sanu kembali tersenyum


"Siapa dulu, dong! Kak Sanu ...!" Agus menepuk selimut bagian bawah Sanu. Agus terheran, matanya membulat, merasakan ada yang aneh. Tangan terus meraba kaki Sanu.


"Kenapa, Gus?" tanya Eko.


Agus menatap takut Eko.


"Kamu kenapa, Gus?" tanya Eko dengan nada meninggi.


Elfa yang penasatan ikut memegang selimut yang menutupi bagian bawah Sanu. Elfa ikut terkaget, wajahnya mendadak takut. Agus sedikit mengintip bagian bawah selimut yang menutupi kaki Sanu.


Perlahan mengintip. "Hah!" Agus terperanjat hampir jatuh ke lantai.


Seketika Sanu menangis, Rina yang berada di dekat Sanu langsung memeluknya.


"Kak Sanu, ka-kakinya hilang," ucap Agus dengan nada bergetar.


Agus, Elfa dan Eko merasa bersalah karena dari tadi merekalah yang paling berisik. Mereka kira Sanu baik-baik saja. Suasana ruangan 4x4 mulai hening, hanya ada tangisan Sanu yang memeluk erat tubuh mungil Rina.


Sedangkan Agus, Elfa, dan Eko tertunduk merasa bersalah.


"Kuat, Sanu. Kami di sini bersamamu," ucap Rina.


"Kami minta maaf, Kak Sanu. Dari tadi berisik tanpa tau kondisi Kak Sanu yang sebenarnya," ucap Eko merasa bersalah.


Sanu melepas pelukannya mencoba bersandar di dinding, Rina dengan cepat membantu Sanu menaruh bantal di dinding supaya Sanu nyaman.


"Tidak apa-apa, ini bukan salah kalian , mungkin ini jalan hidupku." Sanu menyeka pipi yang membasahinya mencoba tegar.


Dara sudah kembali bermain dengan Clara. Wajah Clara terlihat senang.


"Clara tadi dibelikan coklat ya sama Kak Dara," ucap Elfa.


Clara mengangguk sambil memakan wafer panjang.


"Kalian kenapa, kok pada serius gitu wajahnya?" tanya Dara menepuk pundak Eko.


Tidak ada yang menjawab, hingga Dara melihat sendiri kedua Kaki Sanu hilang sampai ke lutut. Dara terkejut menutup mulutnya, matanya membulat seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Dara menatap Sanu yang tersenyum kepadanya. Dengan langkah yang begetar, Dara menangis dipelukan Sanu.


"Kak Sanu ...." Dara begitu sedih melihat leadernya hidup tanpa kaki.


Sanu memegang lembut rambut Dara.


"Sudahlah, Dara. Ayo kita pulang, hari sudah mulai malam," ucap Rina.


"Maafkan Kak Sanu ya, Dara. Mungkin Kak Sanu tidak bisa menepati janji kepada bulekmu," ucap Sanu menangis di depan Dara.


"Tidak masalah Kak Sanu, Dara yakin bisa menjadi asisten manager tahun ini." Dara mencoba menghibur Sanu.


Sanu tersenyum menyeka pipinya.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, Sanu. Besok kita akan kesini lagi," ucap Rina tersenyum kepada Sanu.


Sanu tersenyum tipis memandang teman-temannya.


Malam tiba, Sanu kembali berbaring menatap kosong ke arah atap langit-langit. Dia mencoba menerima keadaannya yang seperti ini. Ibunya masih mnunggu di luar bersama Dara, terlihat kelelahan.


Seorang laki-laki tampan dengan brewok tipis datang menemui Sanu. Itu adalah Ali.


"Hay, Sanu ..."


Sanu melihat datar wajah Ali.


"Maaf mengganggumu, Sanu. Aku kesini hanya ingin bertanya."


"Tidak apa-apa, mau tanya apa?"


Ali mengambil kursi yang ada di pojok ruangan, lalu duduk disamping Sanu.


"Apa kamu kenal orang yang bernama Arya?"


Sanu sejenak terdiam mencoba mengingatnya.


"Kalau tidak salah dia itu temannya kak Bari. Aku sering bertemu dengan dia di Mall dengan Glenca."


"Glenca. Ada hubungan apa Arya dan Glenca?" tanya Ali menyeldik.


"Dia itu pacarnya Glenca, aku dan kak Bari pernah mengikutinya sampai ke apartemennya," jawab Sanu.


Ali menghepalkan tangannya, rahangnya mengeras.


"Ini pasti perbuatan Glenca," gumamnya.


"Kenapa, Kak."


"Tidak, Sanu. Aku curiga Glenca dalang dari semua ini."


"Jadi mereka ingin mencelakaiku?" tanya Sanu.


"Bukan kamu, tujuan Glenca adalah Brian dan pak Atmaja."


"Bagaimana kondisi kak Bari dan papa?" Sanu langsung teringat mereka berdua.


Ali terdiam, suasana lengang sejenak, lalu dia berdehem menelan salivanya. "Pak Atmaja meninggal di tempat, sedang Brian belum sadarkan diri."


Sanu terkejut menutup mulutnya, dia begitu terpukul dengan kabar yang disampaikan Ali.


"Aku ingin melihat Kak Bari, tolong bantu aku melihat kak Bari," rengek Sanu.


"Kondisimu belum stabil Sanu, kamu harus banyak istirahat," ucap Ali menenangkan Sanu.


Nurjanah pun mendengar teriakan Sanu, dia bergegas menghampiri Sanu.


"Kamu kenapa, Nak." Nurjanah memegang erat tangan Sanu.


"Sanu ingin bertemu dengan kak Bari, Bu?"


Nurjanah menoleh ke arah Ali. "Apa yang dimaksud Sanu itu pemuda yang berada di ruangan sebelah?"


Ali mengangguk.


"Sanu, kak Bari ada di ruangan sebelah kamu, besok saja, kalau kondisimu sudah membaik," ucap Nurjanah.


"Lebih baik kamu istirahat dulu, Sanu," ucap Ali.


Sanu mengangguk. Sanu sudah terlalu banyak membuat orang-orang yang ada di sekitarnya repot.


Nurjanah tersenyum menatap wajah ayu putrinya.


"Mari kita pulang, Bu. Sudah malam," ajak Ali.


"Ibu di sini saja Nak Ali, menemani Sanu."


"Tapi~~"


"Ibu tidak apa-apa," ucap Nurjanah menyakinkan Ali.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu Bu Nur, Sanu."


Ali keluar dari kamar Sanu. Sedangkan Nurjanah keluar kamar menjaga Clara yang sedang tertidur.