Sanubari

Sanubari
Palsu.



Arya mencondongkan tubuhnya berbisik kepada Bari. "Apa aku tidak salah melihat, Brian. Lihatlah cara makan mereka, begitu kampungan."


"Kalau kamu tidak suka silahkan pergi." Bari membalas bisikan Arya.


Arya tersinggung dengan perkataan Bari, tanpa sepatah kata dia pergi dengan raut wajah merah, matanya menatap tajam ke arah Bari.


"Dia siapa, Kak Bari?" tanya Rina.


"Bukan siapa-siapa."


"Ganteng sih, tapi kelihatan sombong," ucap Elfa sambil makan susi.


setelah mengisi perut, Bari mengajak mereka pulang. Rina, Elfa dan Dara tampak senang malam ini, mendapat traktiran dari Bari. Padahal rencananya Bari hanya ingin mengajak Sanu.


Mobil online berhenti di depan terminal Pasar Minggu. Bari dan yang lainya turun.


"Terima kasih. Kak Bari? Lain kali lagi ya ...?"ucap Dara.


Bari mengangguk sambil tersenyum.


"Kak Bari, aku ingin bicara denganmu," ucap Sanu berada di samping Bari.


"Cieee ...." yang lain menimpali.


Bari mengangguk.


"Ayo kita ke kost teman-teman, takut mengganggu," ucap Rina.


"Aku pernah melihat temanmu itu bersama dengan Glenca," ucap Sanu.


"Aku sudah tau."


"Terus ... apa kamu tidak khawatir dengan papa kamu."


"Papa memilih jalannya sendiri, jadi aku tidak mau ikut campur urusan mereka."


Sanu tersenyum simpul, menatap Bari.


"Aku pegi dulu ya, Sanu." Bari mencondongkan tubuhnya lalu mengecup kening Sanu.


Sanu merasa malu menggit bibir bawahnya. Malam di Ibu Kota masih terlihat ramai, Sanu menatap punggung Bari hingga tidak terlihat saat motor Bari melaju semakin jauh.


...***...


Tiga hari berlalu, Atmaja sudah bisa pulang ke rumah memakai kursi roda. Kampleng membawa Atmaja sampai dalam rumah. Glenca tengah asyik menonton tv di ruang tamu. Atmaja menatap tajam Glenca lalu menyuruh Kampleng menghampirinya.


"Sudah pulang, baguslah. Ingat ya, aku tidak mau merawatmu sebelum kamu membuka kembali kartu kredit dan atm ku," ucap Glenca.


Atmaja menggerakan lehernya kepada Kampleng.


"Maaf Nyonya tolong di baca." Kampleng menyerahkan surat yang dibungkus map merah kepada Glenca.


Glenca membuka isi map itu. Ternyata itu adalah surat permohonan cerai. Glenca terlihat marah, tidak terima dengan semua ini.


"Aku tidak rela kamu ceraikan."


Atmaja hanya menatap Glenca tajam, sambil meraung tidak jelas. Kampleng lalu menunjukan foto kemesraan Glenca dengan Arya. Glenca tidak bisa mengelak lagi, dia memohon kepada Atmaja agar tidak diceraikan.


Atmaja terlihat tidak bergeming, dia malah meninggalkan Glenca yang terduduk di lantai.


"Brengsek kamu, Atmaja. Ternyata selama ini kamu mengawasiku," batin Glenca.


Glenca lalu menuju tempat Arya menceritakan semuanya.


"Ach ...." Arya berteriak kesal. "Ini tidak boleh terjadi, kita harus mencari cara supaya kamu tetap menjadi istri Atmaja."


"Apa yang harus kita lakukan, Sayang. Atmaja sudah mengajukan perceraiannya."


"Bagaimana kalau kamu pura-pura hamil, aku punya teman seorang dokter yang bisa di ajak kerjasama."


"Itu Ide yang bagus, dengan begini Atmaja akan menunda proses perceraiannya."


"Aku akan mengatur semuanya, untuk saat ini kamu kebih baik pulang ke rumah, gunakan aktingmu, Sayang. Nanti malam kita bisa menemuinya."


Glenca tersenyum licik. "Dengan begini aku bisa membuat perhitungan dengan pak tua itu."


Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Itu Glenca membuka pintu dari luar. Atmaja tampak tidak suka dengan kedatangan Glenca. Atmaja meraung mengusir Glenca pergi dari sini.


"Sayang, maafkan aku. Tolong kamu urungkan perceraian ini. Aku sedang hamil," ucap Glenca.


"Hmmm ... hmmm ...!" Raungan Atmaja terdengar sampai luar rumah. Kampleng yang berdiri di halaman segera menaiki tangga.


"Ada apa, Tuan?"


Sudut mata Atmaja melirik Glenca. Kampleng tau apa yang dimaksud dengan bos nya itu.


"Maaf, Nyonya. Pak Atmaja menyuruh anda keluar. beliau tidak boleh berpikir terlalu berat dulu. Ini untuk kebaikan beliau."


Glenca mendengus kesal, dia mengepalkan tangannya menatap Atmaja lalu keluar dari kamar.


Kampleng menutup kembali pintu kamar Atmaja lalu menuruni tangga. Disana sudah ada Glenca yang melipat kedua tangannya di dada menatap tajam Kalpleng.


"Kenapa Nyonya menatap saya seperti itu?" tanya Kampleng.


"Bilang sama bos kamu, kalau aku tidak ingin bercerai. Aku sedang mengandung anaknya Atmaja."


"Itu bukan urusan saya, Nyonya. Tugas saya hanya menjaga pak Atmaja. Kalau masalah perceraian anda bisa bertanya dengan pengacaranya pak Atmaja," jelas Kampleng.


"Kamu jangan mengelak, aku tau kamu orang kepercayaan Atmaja. Jadi Kamu pasti lebih tau dari pada pengacaranya." Glenca meraba dada bidangnya Kampleng.


"Maksud Nyonya apa?"


"Aku ingin menawarimu kerja sama." Glenca mengamati wajah datar Kampleng.


"Maaf, Nyonya. Anda salah orang."


Glenca menahan langkah Kampleng lalu memegang lembut dagunya. "Aku akan memberikanmu tiga kali lipat dari gajimu, ditambah kamu akan dapat bonus jika rencana ini berhasil."


Kampleng pun bergeming, dia tersenyum menatap Glenca. "Rencana apa itu."


Glenca tertawa lepas. "Lebih baik kita bicara di luar, tidak enak kalau di sini."


Kampleng mengikuti langkah glenca duduk di teras rumah. "Tugas kamu hanya mendukung setiap keputusan yang aku ambil, buat Atmaja mempercayaiku kembali."


"Caranya."


"Nanti malam aku kabari lagi." Glenca terkekeh beranjak dari tempat duduknya.


Semenjak Kampleng sudah tidak lagi bersama dengan Bondan dan Jaka. Kampleng hanya bekerja untuk orang yang bisa membayarnya lebih tinggi dari gaji sebelumnya. Kesetiaan sudah tidak menjadi prioritas utamanya. dipikirannya sekarang hanya uang yang banyak.


Malam pun tiba, rumah keluarga Atmaja tampak sepi. Glenca menghidupkan mobilnya hendak pergi ke tempat Arya. Pintu pagar terbuka secara otomatis. Glenca melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hanya dua puluh menit perjalanan, Glenca sudah ada di depan apartemen Arya.


Disana sudah ada Arya dan satu lelaki dengan pakaian rapi memakai kaca mata.


"Hay, Sayang. kenalin ini dokter Zen, orang yang akan membantu kita, Sayang."


Sebelumnya dokter Zen sudah diberitau Arya untuk memalsukan kehamilan pacarnya.


Glenca bersalaman dengan dokter Zen. "Apa kabar, Dok."


"Baik."


"Bisa bantu kita, kan?"


"Tentu." Dokter Zen mengangguk.


"Apa yang harus saya lakukan, Dokter?"


"Saya hanya ingin mengambil sample air kencing anda."


"Oke, tidak masalah." Glenca menuju kamar mandi lalu memberikan botol air kencingnya kepada Dokter Zen.


Sang Dokter lalu memanipulasi respect kehamilannya Glenca dari negatif menjadi positif.


"Ini surat yang sah, anda bisa tunjukan kepada suami anda sebagai bukti."


Glenca tertawa gembira. "Aku suka dengan anda, Dok."