
Uang Sanu sudah habis hanya karena mentraktir Rina makan. Namun, sanu tidak begitu mempermasalahkannya. Toh, besok bisa cari lagi di lapangan. Sanu mengambil handuk yang di gantung di pintu.
"Mau kemana kamu, Sanu?"
"Mau mandi, Rina?"
"Biarkan aku mandi dulu, kalau kamu mandi sebelum aku? Nanti aku bisa tertidur menunggu kamu mandi, Sanu."
Sanu mendengus kesal mempersilahkan Rina mandi terlebih dulu.
Suara pintu terdengar terdengar nyata di telinga Sanu.
Sanu memegang handle pintu lalu membukanya.
"Kak Bari ...!"
Bari tersenyum manis kepada Sanu.
"Aku hanya ingin memberi ini?" Sebungkus nasi ada di tangan Bari. "Tadi waktu aku mau makan, Ibu kost ku malah memberiku nasi kotak, Jadi aku tidak sempat makan makanan yang aku beli. Perutku sudah kenyang."
"Tapi~~"
"Ambilah, Sanu. Siapa tau besok kamu maju ke depan sehabis memakan makanan berkah ini," canda Bari.
Sanu tersenyum menerima pemberian dari Bari.
"Aku pulang dulu ya, Sanu. Jangan lupa besok berangkat pagi."
Sanu mengangguk menatap punggung Bari menuruni tangga kost.
Rina keluar dari kamar mandi melihat Sanu membawa nasi bungkus. "Kamu beli nasi dimana, Sanu?"
"Di warung Budhe," alasan Sanu.
"Tadi sepertinya aku mendengar suara kak Bari."
"Tidak ada, Rina. Mungkin kamu terlalu mengagumi kak Bari." Sanu melempar tuduhan ke Rina.
"Bukannya kamu yang mengagumi kak Bari?"
Sanu segera membuka bungkus nasi sebelum Rina bertanya yang membuat Sanu sulit untuk menjawab.
Di pagi yang masih gelap, Sanu dan Rina sudah siap untuk berangkat. Sanu tampak cantik memakai blazer pemberian Bari. Rina masih seperti biasanya, selalu kebesaran memakai pakaian yang di pakainya.
Pak Nazar tidak lelah menyapa anak kantor di depan pintu.
"Pagi Sanu, Rina ...."
"Pagi Pak Nazar ...." Rina dan Sanu menjawab serentak melakukan tos tangan kepada pak Nazar.
Sanu dan Rina naik ke lantai tiga, disana hanya ada beberapa anak pitcing mempelajari sistem atau sedang melakukan pemanasan mulut. Rina dan Sanu memilih menunggu Muna dan Bari sambil membaca Sistem di kantor.
Tak berselang lama Muna dan beberapa trainer yang lainnya datang memenuhi lantai tiga. Saatnya mengikuti program pagi. Dari tadi Sanu tidak melihat Bari. Kemana Bari? Apa dia terlambat masuk kantor?"
Rina menyenggol lengan Sanu. "Hey Sanu, di panggil baca goal."
"Eh, iya." Ini pertama kalinya Sanu memimpin pembacaan goal.
Hingga pembacaan goal sampai atmosfer selesai, Bari tak kunjung datang. Muna menanyakan ke anak pitcing yang lain. Mereka juga tidak tau alasannya kenapa Bari tidak masuk hari ini. Padahal, baru tadi malam Bari memberikan nasi bungkus kepada Sanu.
Pak Nazar menaiki lantai tiga untuk memberi pengarahan.
"Bari kemana?" tanya Pak Nazar.
"Gak tau Pak Nazar."
Pak Nazar hanya mengangguk. "Nanti kalian pitcing bersama saja. Semangat Muna, kasih contoh kepada junior kamu."
"Siap Pak Nazar."
Muna, Rina dan Sanu pitcing ke tempat yang sama. Menaiki kereta listrik turun di stasiun Bojong Gede.
Sesampainya di teritory, Mereka bertiga melakukan persiapan di Masjid.
"Kita nerusin yang kemarin," ucap Sanu.
"Kok kamu yang ngatur, di sini seniornya siapa!" Muna memarahi Sanu.
"Maaf Kak." Sanu menunduk.
Muna tersenyum sinis kepada Sanu. "Kalau ingin prestasi semua ikut denganku."
Rina dan Sanu saling pandang terpaksa mengikuti perintah Muna.
"Ikut saja, Sanu. Maklum lagi haid," bisik Rina.
Muna mengajak Sanu dan Rina menjauh dari teritory yang ditunjukan Sanu.
Sanu dan Rina mengikuti perintah Muna. Mereka meminta izin dulu kepada penjaga menyerahkan kartu identitas, baru boleh masuk ke rumah susun.
"Kita pitcing dari atas ke bawah," perintah Muna.
Rumah susunnya masih terlihat sepi, hanya sedikit orang yang menempati rumah susun ini. belum juga setengah hari teritory sudah habis. Muna mengajak Rina dan Sanu pitcing di rumah yang terletak di pinggir kali. Disana banyak penolakan tidak satupun dari mereka bertiga yang bisa memasuki rumah castamer.
Suara Adzan Dzuhur berkumandang, mereka bertiga mencari tempat ibadah terdekat untuk istirahat sejenak.
"Kak Muna, gak Sholat?" tanya Rina.
"Tidak, aku lagi datang bulan."
"Kalau begitu titip tas ya, Kak?"
"Enak saja, bawa saja ke dalam."
Rina mengehela napas sambil menggerutu tidak jelas. Setelah selesai sholat Muna tidak ada di tempat. Rina mencoba menelpone muna, tapi handphone nya tidak aktif.
"Mungkin beli minum, Rina? Kita tunggu saja sebentar."
Rina setuju dengan usulan Sanu. Setengah jam menunggu Muna tak kunjung datang. Rina semakin mengomel tidak jelas. Sanu memegang pundak Rina berusaha menenangkannya.
"Sudah, Rina. Jaga emosi kamu. Lebih baik kita kembali ke tempat awal saja."
"Baiklah, Sanu. Aku ikut denganmu."
Sanu dan Rina melanjutkan teritory kemarin. Mereka berdua memanfaatkan waktu yang ada. Hasilnya, Rina dan Sanu bisa membuktikan hukum rata-rata.
Matahari mulai condong ke arah barat. Sanu dan Rina bersiap untuk pulang.
"Kita tidak menunggu kak Muna, Rina."
"Ngapain, dia saja menghilang, susah dihubungi."
"Ya sudah, Mari kita pulang, sebelum malam."
Rina mengangguk.
Sanu dan Rina kembali pulang naik kereta menuju stasiun Pasar Minggu. Mereka berdua duduk berdampingan di temani udara AC yang membuat mereka berdua tertidur pulas.
Petugas kereta membangunkan mereka berdua. "Bangun."
Sanu dan Rina dengan malas membuka matanya.
"Ada apa, Pak?" tanya Sanu.
"Jangan tidur di kereta," ucap petugas kereta.
"Baik, Pak?"
Setibanya di kantor, seperti biasa pak Nazar memberikan evaluasi kepada Sanu dan Rina di lantai tiga.
"Muna mana?" tanya pak Nazar
"Tidak tau Pak Nazar, tadi sehabis Zduhur kak Muna sudah tidak ada," ucap Sanu.
Pak Nazar hanya mengangguk seperti memakluminya.
"Kita mulai evaluasi saja."
Malam hari, setelah selesai program malam Sanu diam-diam mencari kost nya Bari. Sanu khawatir sekaligus ingin bertanya kepada Bari, kenapa hari ini dia tidak berangkat. Namun, Sanu tidak tau di mana kost nya Bari. Ingin bertanya kepada anak kantor, Sanu takut kalau mereka berpikir yang tidak-tidak.
Seorang menepuk pundak Sanu dari belakang, Sanu menoleh.
"Kak Bari."
Bari tersenyum kepada Sanu. "Hay Sanu sedang apa kamu di sini?"
"A-aku ... ingin makan, Kak." Sanu beralasan yang membuat Bari menahan tawa.
"Di sini tidak ada tempat makan, Sanu. Aku tadi ke tempatmu, hanya ada Rina, kebetulan sekali bisa bertemu denganmu di sini."
Sanu mengangkat satu alisnya. "Ada apa, Kak?"
"Aku hanya ingin main saja ke tempatmu."
"Kak Bari kenapa tadi tidak masuk kantor?" tanya Sanu.
"Aku kurang enak badan, Sanu. Tadi siang aku sudah izin dengan pak Nazar."
Sanu mengangguk.
Bersambung ...