Sanubari

Sanubari
Mencari Bari.



Program malam di mulai, Sanu tidak bisa fokus. mengikutinya. Pikirannya masih tertuju pada Bari. Hatinya penuh dengan pertanyaan. Ada apa dengan Bari? Siapa orang yang mengejar Bari? Apakah Bari baik-baik saja? Malam ini Bari jelas tidak mengikuti program malam. Alat terapinya pun belum dikembalikan ke ruang receptionist. Saat itu Sanu melihat Bari berlari masih menggunakan tas punggung.


Pak Nazar pun mempertanyakan kemana Bari. Semua crew tidak ada yang tau, hanya Sanu yang melihat Bari di kejar oleh pria bertubuh tinggi besar itu. Tapi, Sanu enggan menceritakannya.


Setelah meeting leader, Sanu bergegas mencari Bari di tempat kostnya. Sanu Sudah tidak peduli lagi jika ada orang yang mencibirnya.


Sanu bertanya kepada pemilik kost, dimana kamar Bari. Ibu pemilik kost memberitahu dimana kamar itu. Pintu kamar kost nya masih terkunci. Sanu sangat khawatir dengan keadaan Bari. Harus kemana lagi dia mencari Bari?


Sanu menunggu di gang tempat biasa Bari lewat. Malam semakin larut, Bari tak kunjung datang juga. Bunyi Hp berbunyi dari saku celana bahan Sanu. Itu Rina, menanyakan keberadaannya. Sanu menjawab sedang ke rumah Mila supaya Rina tidak mencarinya.


Jam sudah menunjukan pukul satu malam, Tidak baik jika Sanu masih menunggu Bari. Sanu akhirnya pulang ke kost. Pintu dikunci dari dalam. Sanu mengetuk memanggil Rina.


Rina membuka pintu sambil menguap.


"Aku pikir kamu menginap di rumahnya Mila," Ucap Rina yang masih setengah sadar.


Sanu tanpa menjawab langsung masuk ke kamar. wajah Sanu terlihat lelah.


"Kamu masih bau keringat, Sanu. kenapa kamu tidak mandi di rumahnya Mila saja."


Sanu tidak menjawab, dia mengambil handuk yang digantung di balik pintu langsung menuju kamar mandi, menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.


Rina yang melihat hanya bisa mengangkat bahunya, lalu berbaring mengambil selimut melanjutkan tidurnya.


Hari berikutnya, Bari juga tidak ada di kantor. Pak Nazar meminta Rina dan Muna untuk menjenguk di kosan nya. Tapi, kamar kostnya masih terkunci, ibu kost nya Bari pun tidak tahu dimana Bari berada. Dari semalam belum pulang ke kost.


Pak Nazar dan yang lain menjadi khawatir, Sanu pun berkata terus terang kepada semuanya kalau dia kemarin sore melihat Bari di kejar oleh dua orang bertubuh tinggi besar.


Muna menjadi geram memaki Sanu. "Kenapa kamu baru bilang sekarang. Kamu mau jadi pahlawan kesiangan. Dasar bodoh!"


Sanu tidak membalas umpatan Muna. Dia sadar kali ini dia salah.


Pak Nazar hanya memghela napas. "Sudahlah, kita berdoa saja semoga Bari baik-baik saja."


Pak Nazar pun membubarkan kultumnya.


Muna menghampiri Sanu berbisik di telinganya. "Gimana rasanya kehilangan pujaan hati."


Sanu tidak mempedulikan omongan Muna. Tapi, dalam hati, Sanu merasa kehilangan. Seperti ada yang hilang dari dalam dirinya.


Tapi Sanu mencoba bersikap biasa, walaupun wajahnya tidak bisa berbohong. Mila dan Ilham yang cukup lama menjadi crew nya Sanu, paham betul apa yang dirasakan leadernya itu.


Sanu mengajak pitcing semua crew nya, hasilnya, semuanya tidak bisa membuktikan hukum rata-rata. Sanu begitu tidak semangat hari ini, mungkin juga hari-hari seterusnya. Dia tenggelam dalam kesedihannya.


Sanu juga tidak mengerti, mengapa dia bisa memikirkan Bari sampai seperti ini. Sanu memang cinta dengan Bari, tapi, tidak semestinya dia mengorbankan crew nya sendiri. Sanu semakin bingung dengan perasaannya. Yang jelas dia ingin kembali melihat Bari.


Sanu tersenyum tipis kepada Ilham. Nasehat dari Ilham seolah memotivasi Sanu untuk bangkit. Dia harus bisa membedakan mana pekerjaan dan mana perasaan.


"Ayo kita pulang, boleh hari ini kita jatuh. Tapi, jangan sampai kejatuhan kita mempengaruhi sikap kita."


Sanu dan crew nya pulang dengan kepala tegak.


Malam hari, Sanu menuju kos nya Bari berharap Bari ada disana. kost Bari masih saja dikunci. Tanpa disengaja Muna dan Rina yang juga ingin menuju ke tempat yang sama melihat Sanu. Muna dengan naluri kebenciannya langsung menyemprot Sanu.


"Ngapain kamu di sini! Mau nginep ya."


Sanu terbelalak dengan ucapan Muna. Perkataannya begitu menyakitkan bagi Sanu. Tapi Sanu memang tidak seharusnya datang ke kost nya Bari.


Sanu dengan langkah cepat pergi dari tempat itu.


"Dasar wanita murahan!" umpat Muna saat Sanu berlari membelakanginya.


Sanu harus mencari Bari kemana lagi, identitasnya Bari saja dia tidak tau. Bari hanya bilang dari jakarta saja. Selebihnya itu menjadi rahasia Bari sendiri.


Satu minggu sudah berlalu, Bari belum kembali juga. Prestasi Sanu di lapangan pun anjlok. Minggu ini, Sanu hanya bisa menjual satu alat saja. Biasanya setiap minggu, Sanu selalu masuk top guys. Ini minggu paling buruk bagi Sanu.


Pagi di hari minggu, Sanu sudah rapi dengan blazer hitam pemberian dari Bari.


"Pitcing kemana, Sanu?" tanya Rina yang masih membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Naik kereta listrik ... kamu tidak pitcing, Rina."


"Tidak, Sanu. Aku ingin mrngistirahatkan diri dulu."


"Aku berangkat dulu, Rina. Nanti kalau kamu pergi kunci di taruh di atas jendela ya, Rina."


Rina mengangguk. Rina sebenarnya tau kalau Sanu hendak mencari Bari. Tapi, Rina sengaja tidak mengatakan kepada Sanu untuk menjaga perasaannya.


Rina juga tidak menyangka, kalau Bari punya pengaruh kuat bagi diri Sanu. Semenjak Bari pergi, badan Sanu terlihat semakin kurus. Dia juga jarang makan dan selalu tidur tengah malam. Rina diam-diam memperhatikan teman satu kost nya itu.


Sanu mulai menaiki angkot menuju Ragunan. Mencoba mencari jejak Bari. Setengah hari berjalan, Sanu tidak menemukan Bari. Sanu berlanjut menuju Taman Mini. Masuk membeli tiket menaiki sepeda mengitari semua yang ada hingga menuju taman bunga. Menanyakan kepada bapak tua yang memberi bunga melati kepadanya. Bapak paruh baya itu tidak tau dimana Bari. Sore hari setelah Ashar, Sanu melanjutkan menuju Kota Tua, cuaca mulai gelap, mungkin sebentar lagi turun hujan. Sanu mencari Bari diantara banyaknya orang yang berlalu-lalang.


Hujan mulai turun di kota Tua, Sanu berteduh di depan museum Fatahillah. Langit seakan tahu kehilangan Sanu akan Bari. Sehingga menurunkan hujan sebagai tanda kesedihan.


Sanu melihat turunnya hujan yang tiada henti. Tiba-tiba bayangan Bari muncul ditengah air hujan tersenyum kepada Sanu. Lalu menghilang dengan sendirinya.


"Bari kamu dimana ... aku mencarimu mengitari Ibu Kota. Kamu harus tau aku sangat merindukanmu." Sanu mendongak ke atas bermonolog.


Hujan mulai reda saat langit memperlihatkan bintang-bintangnya. Sanu memutuskan untuk mengakhiri pencariannya. Duduk di kursi kereta listrik merenung terbawa oleh lamunannya sendiri.