Sanubari

Sanubari
Kesedihan Sanu.



Ali langsung memanggil dokter yang merawat Sanu. Sedangkan Nurjanah masih terduduk di lantai menangis sesengggukkan. Clara yang melihat Nurjanah ikut menangis memeluk ibunya.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Clara menangis.


Nurjanah mengusap rambut Clara, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


Dokter yang merawat Sanu mengajak Nurjanah dan Ali ke ruangannya.


"Sebelumnya saya dan tim medis minta maaf kalau tidak memberitahukan hal ini kepada keluarga yang bersangkutan. Kami harus melakukan secara cepat, sebab kalau kakinya dibiarkan akan mengancam nyawanya. Tulang kaki anak Ibu sudah hancur karena terjepit badan mobil kalau tidak segera ditangani akan mempengaruhi organ dalam yang lain karena darah tidak bisa mengalir dengan stabil." jelas dokter.


Nurjanah mencoba mengikhlaskan semua ini."


"Kemungkinan hari ini Sanu akan Sadar, mohon ibu tetap berada di sisinya karena Sanu butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya."


"Bagaimana dengan kondisi pasien yang bernama Brian Atmaja."


Dokter menghela napas. "Sama buruknya, hanya keajaiban yang bisa menolongnya. Kepalanya tebentur keras, kalaupun berhasil hidup, kemungkinan Brian akan lupa ingatan."


Ali mengernyitkan dahi, bersandar di kursi, terlihat shock, kalaupun Brian selamat, dia tidak akan mengenal Sanu.


"Terima kasih, Dok?" Ali dan Nurjanah kembali ke ruangan Sanu.


Sanu masih tertidur, selang tabung oksigen sudah tidak menempel di area wajahnya. Hanya satu selang infus yang menempel tangan kirinya. Nurjanah terus memegang tangan Sanu, duduk menemaninya bersama Clara.


Sanu mengigau, Ali segera memanggil dokter yang merawat Sanu. Dokter segera mengecek kondisi Sanu, memastikan dia baik-baik saja.


"Tolong ... tolong ...." Sanu terus mengigau


Nurjanah masih memegang erat tangan anaknya seolah dia merasakan kesakitan yang Sanu rasakan.


Sanu akhirnya membuka mata, tersadar dari tidur panjangnya. Sanu Menatap lamat-lamat ruangan 4x4 meter, pelan-pelan dia menoleh ke kanan melihat ibunya dan juga Clara.


"Ibu, Clara ...." Sanu menangis berucap lirih. Ibu dan adiknya ikut menangis memegang erat tangan Sanu. Ali yang melihatnya pun terharu. matanya berkaca-kaca.


Beberapa detik kemudian, Sanu merasakan ada yang aneh dengan kakinya. Sanu tidak bisa menggerakkan kakinya. Sanu terbangun membuka selimut yang membungkus kakinya.


Alangkah shock nya Sanu saat tau kedua kakinya hilang sampai ke lutut.


"Kaki ku mana, Bu." Sanu menangis, Nurjanah memeluk anaknya, menguatkan Sanu.


Sanu menangis sejadi-jadinya tidak terima dengan kenyataan ini. Memukul-mukul tempat tidurnya. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa adanya kaki.


"Tidak ...! teriak Sanu, lalu pingsan.


Dokter segera memeriksa kondisi Sanu.


"Tidak apa-apa, Bu. Sanu hanya shock saja. Dia belum bisa menerima keadaannya. Sanu harus sering dihibur orang terdekatnya. Usahakan jangan memperlihakan wajah sedih saat bertemu dengan Sanu. Itu akan menurunkan mentalnya."


Nurjanah mengusap dahi Sanu yang penuh keringat.


"Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus saya rawat."


Ali mengangguk. "Terima kasih, Dok."


"Kalau begitu saya pamit, Bu? masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap Ali.


Nurjanah mengangguk, mengucapkan terima kasih. Nurjanah dan Clara masih menunggu Sanu duduk disampingnya.


Ruangan 4x4 begitu lengang, hanya terasa hawa dingin AC yang semakin lama menusuk kulit. Clara tertidur di pangkuan Nurjanah, mungkin kelelahan. Nurjanah pun ikut tertidur memegang tangan Sanu.


Hingga sore hari Clara dan Nurjanah masih tertidur, Sanu mulai membuka mata. Sanu menatap sedih ke atap langit-langit, Matanya berkaca-kaca, membesar di sudut, lalu menetes di pipinya.


Mau tidak mau Sanu harus menerima kondisinya yang sekarang ini. Sejenak dia memikirkan Bari, bagaimana kondisinya? Apa Bari selamat?


Sanu menatap Kosong, membiarkan air mata membasahi pipinya. Sanu masih tidak percaya dengan semua ini. Beberapa hari yang lalu dia berjanji mengajak Dara pitcing bersama lagi. Tapi dengan kondisinya yang sekarang ini, mana bisa dia menepati janjinya. Sanu juga berjanji kepada buleknya untuk menjadikan Dara asisten manager selama satu tahun ini. Tapi dengan kondisi Sanu yang sekarang ini, mana bisa?


"Sudah jam lima rupanya? Ibu mau sholat dulu." Clara yang masih tertidur digendongnya keluar ruangan.


Sanu menatap nanar punggung Ibunya. Sanu tau ibunya hanya pura-pura kuat supaya dia tidak bersedih lagi.


Suara 'Ceklak' terdengar dari pintu. Itu Latif datang menghampiri Sanu.


"Hay, Sanu ...?" Latif tersenyum kepada Sanu.


Sanu hanya terdiam dengan wajah datar.


"Aku kesini disuruh bu Nur, bergantian menjagamu."


Sanu masih terdiam, dia sepertinya belum siap menerima orang asing masuk ke ruangannya. Sanu masih belum siap menerima keadaannya saat ini.


"Aku tau kamu merasa risih denganku, Sanu. Tapi ibumu yang menyuruhku kesini, jadi aku akan menjagamu sampai ibumu kembali."


Sanu mengangguk mencoba memahaminya.


"O iya ...aku bawakan bubur untukmu, ini bubur dari rumah sakit yang paling enak." Latif menyuapi satu sendok bubur ke mulut Sanu.


Sanu menggeleng.


"Kamu harus makan, Sanu? biar cepat sembuh." Latif masih menyodorkan sendok buburnya.


"Aku tidak mau!" Sanu menyingkirkan sendok bubur itu sampai jatuh ke lantai.


Latif terkaget, lalu menaruh mangkok bubur itu disamping tempat tidurnya.


Nurjanah dan Clara datang melihat Sanu sedang menangis.


"Sanu ... kenapa, Nak?" Nurjanah segera menghampiri Sanu.


"Ibu ...." Sanu kembali menangis memeluk ibunya, kali ini tangisannya begitu keras. Sanu sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan orang sekitar. Clara berlari ikut memeluk Nurjanah dari belakang.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, sepertinya kehadiranku tidak diinginkan," ucap Latif merasa tersinggung.


"Nak Latif mau kemana?" panggil Nurjanah.


Latif tidak menghiraukannya, dia berjalan cepat pandangan lurus ke depan.


Nurjanah melihat Sanu yang masih menangis.


"Sudah, Nak. ini kehendak Tuhan, kamu harus menerimanya. Yakinlah ada kebaikan di balik musibah ini," ucap Nurjanah dengan nada bergetar.


Sanu memejamkan mata, kembali menyandarkan tubuhnya. Dia sadar tindakannya telah melukai dokter Latif.


"Maafkan Sanu, Bu?"


Nurjanah tersenyum. "Sudahlah, Nak. tidak usah disesali, nanti biar ibu yang bicara dengan dokter Latif."


Tiba-tiba pintu kembali teeketuk, Nurjanah membuka pintu itu. Ada lima orang anak seumuran Sanu membawa tas punggung. Mereka adalah Dara, Elfa, Rina, Agus, dan Eko, berbondong-bondong menjenguk Sanu membawa buah apel. Kali ini Sanu sedikit tersenyum melihat teman-teman kantornya datang.


"Kak Sanu!" Eko menyapa seperti berada di terminal.


Elfa langsung menegur cara sapa Eko yang seperti preman. "Kamu ini ya teriak-teriak! Ini rumah sakit bukan terminal."


Eko langsung meminta maaf kepada semuanya.


Nurjanah heran bertanya kepada mereka berlima. "Kalian ini siapa?"


"Kami berlima teman satu kantornya Sanu, Bu." Rina menjelaskan.