
Rina datang setelah selesai makan, wajahnya terlihat lelah. Kamar kost sudah lebih bersih dari sebelumnya. Sanu yang yang membersihkannya.
"Kamu sudah makan, Sanu?"
"Belum," jawab Sanu.
"Nanti akan ada orang yang kesini mengantar kamu makan."
"Siapa?"
"Nanti kamu juga tahu orangnya, Sanu?"
Tak berselang lama Bari datang membawa dua nasi bungkus di tangan.
"Makan Sanu."
Sanu yang hanya memakai tanktop terkejut, dia langsung berlari mengambil bajunya Rina yang tergantung di kamar mandi.
"Hey, itu kan bajuku," ucap Rina.
"Aku pinjam sebentar, Rina. Nanti aku cuci."
Rina hanya mengangkat kedua alisnya sambil bersandar di dekat kipas angin.
"Kamu sudah makan, Rina?" tanya Bari.
"Sudah Kak, Sanu yang belum makan."
"Ayo makan bersama denganku, Sanu?"
Bari membuka dua bungkus nasi satu untuknya dan satu lagi untuk Sanu. Dengan malu-malu Sanu menghampiri Bari, makan bersama dengan Bari.
Setelah selesai makan Bari pamit dengan Sanu dan Rina.
"Jangan lupa besok berangkat pagi ya, Sanu, Rina."
"Iya Kak," jawab Rina.
Rina menutup pintu kost.
"Gimana hari ini kamu di lapangan, Sanu?" tanya Rina.
"Seru, tapi aku masih bingung."
"Bingung kenapa? Cerita saja."
"kita kan jual alat, ya. Nanti gaji kita dapat dari mana?"
"Kalau masalah itu, kamu bisa tanya dengan pak Nazar."
Rina masih di depan kipas angin menyejukan dirinya. Sanu jadi heran, kenapa Rina tidak menjawab pertanyaannya. Itu kan pertanyaan yang wajar ditanyakan bagi setiap pekerja.
...***...
pagi hari Sanu begitu bersemangat untuk berangkat pagi. Bahkan Sanu berangkat lebih dulu dari pada Rina.
"Aku duluan ya, Rina."
Rina masih meringkuk dalam selimutnya. Dia hanya mengigau saat Sanu pamit.
Lagi-lagi pak Nazar sudah berdiri di depan pintu kantor.
"Pagi, Sanu?" sapa pak Nazar.
"Pagi, pak." balas Sanu.
Sanu dan pak Nazar melakukan tos tangan seperti biasa. Begitupun dengan pegawai yang lainnya. Sepertinya, itu sudah menjadi kebiasaan pegawai yang ada di kantor ini.
Muna yang sudah ada di dalam memanggil Sanu ke lantai tiga. Desain di lantai tiga juga unik bagi Sanu. lantainya seperti papan catur berwarna hitam dan putih berbentuk persegi.
Sanu duduk bersila berhadapan dengan Muna.
"Nah, kemaren kan Sanu sudah mengikuti pak Nazar di lapangan, sekarang Sanu catat ini, ya?"
Sanu melihat sebuah papan yang panjangnya satu meter bertuliskan lima langkah komunikasi. Sanu pun mencatat apa yang di perintah Muna.
Setelah selesai mencatat, Sanu di ajak Muna turun ke lantai dua menuju ruang training.
"Sanu duduk di sini dulu, ya? Kak Muna mau ambil alat."
Sanu mengangguk.
Muna mengambil tester Dolpin untuk mengajari Sanu cara memakai alatnya.
"Kemarin kamu sudah melihat, kan. Pak Nazar di lapangan. Sekarang Kak Muna mau mengajari kamu cara memakai alatnya."
Sanu mengangguk terlihat tidak sabar. Sanu memperhatikan betul cara Muna memainkan alat pijat itu. Sanu pun tidak sabar untuk mencoba alatnya.
"Sekarang giliran kamu, Sanu."
Sanu mencobanya di punggung Muna.
Sanu mencobanya lagi sesuai intruksi dari Muna. Hingga Sanu sudah mulai terbiasa.
"Nah, Bagus Sanu. seperti itu, jangan terlalu lamabdan jangan di tekan."
"Nanti kamu mulai mencoba ya, Sanu?"
"Iya Kak."
"Kalau hari ini kamu bisa terapi lima belas orang, Kak muna akan kasih hadiah buat kamu."
Muna melakukan tos tangan dengan Sanu. Sanu semakin bersamangat dengan tantangan Muna.
"Ayo kita ke atas, Sanu. Ikut armosfer."
"Apa itu atmosfer?" tanya Sanu.
"Ke atas saja, nanti kamu juga akan tahu."
Sanu mendengar suara kendang dan riuh orang bernyanyi. Sanu segera menuju lantai tiga penasaran ingin melihatnya. Suasana sangat Ramai, Baru saja Sanu bergabung tangannya di tarik oleh seseorang. Itu adalah Bari, mengajak Sanu berjoget. Sanu sangat malu, dia tidak terbiasa biasa berjoget dan bernyanyi dilihat banyak orang.
Sanu memang suka bernyanyi dan dance, tapi kalau dia sedang di kamar mandi. Sanu berdiri di pojok ruangan, semua karyawan kantor membujuk Sanu untuk maju kedepan, Sanu menggelengkan kepala. Dia belum siap jika harus berjoget dan bernyanyi dengan banyak orang.
Bari menemani Sanu di sampingnya.
"Ini namanya atmosfer. tujuannya supaya kita semangat di lapangan nanti!" teriak Bari. Bunyi kendang dan riuh orang bernyanyi membuat suara Bari tidak terdengar.
Sanu hanya memasang wajah datar.
Setelah selesai berjoget, Salah satu karyawan memimpin permainan yang disebut simioses.
"Simioses pegang kepala," Semuanya mengikuti gerakan moderator.
"Simioses pegang pundak." Semuanya memegang pundak.
"Simioses pegang perut." Kali ini moderator memegang kakinya. Sanu mengikuti gerakan moderator memegang kaki. Semua karyawan Riuh berlarian menepuk pundak Bari dan Muna bergantian. Sanu masih belum mengerti.
Muna mendekati Sanu mencoba memberi arahan.
"ikuti suara moderator saja, jangan ikuti gerakan."
Sanu mengangguk. Kali ini Muna dan Bari tidak mau kena tepuk pundak Karena Sanu tidak melakukan kesalahan lagi.
"Kita panggilkan orang-orang yang berprestasi gaes!"
"Yes, i like it," jawab serentak. Semua karyawan berbaris membentuk setengah lingkaran.
Sanu bertanya kepada Rina. "Ini apa maksudnya, Rina?"
"Ini orang yang berprestasi kemarin, Sanu?"
Sanu belum mengerti maksud ucapan Rina.
Disana juga ada Bari maju ke depan. Entah kenapa Sanu gembira saat Bari di panggil ke depan.
Berikutnya moderator mengumumkan ada anggota baru. Nama Sanu disebut dalam lembaran kertas itu. Kenapa hanya Sanu seorang? Mana tiga teman Sanu yang lainnya. Bukankah mereka kemarin juga diterima kerja.
Dengan langkah bergetar, Sanu maju melakukan tos tangan ke semua karyawan lalu disuruh moderator memperkenalkan diri. Sanu begitu gugup.
"Ikuti arahan ku, Sanu,". ucap Moderator.
Sanu mengangguk pelan.
"Hay."
"Hay." Sanu melambaikan tangan.
Semua karyawan kantor membalas salam dari Sanu.
"Nah sekarang kamu perkenalkan nama, asal, dan status sudah punya pacar apa belum," canda moderator.
"Eh." Sanu terkejut mendengar ucapan terakhir dari moderator. Sanu menghela napas dalam-dalam
"Nama saya Sanu, Saya dari jogja, datang kesini mau kerja, status saya masih single."
Semua karyawan laki-laki tiba-tiba berebut bersalaman dengan Sanu, termasuk Bari. Sanu terkejut lalu berlindung di balik badannya moderator.
"Balik ke alamnya masing-masing," canda moderator saat mengusir karyawan pria yang hendak bersalaman dengan Sanu.
Sanu pun kembali lagi ke tempatnya bergabung dengan karyawan kantor yang lainnya.
Acara selanjutnya moderator memanggil seorang manager untuk memberi motivasi sebelum ke lapangan.
"Selamat pagi semuanya?" sapa sang manager yang kemarin interview Sanu.
"Pagi," jawab serentak.
Semua karyawan tampak mendengarkan wejangan dari manager. sedikit aneh memang, tadi terlihat senang, sekarang serius. Sanu seperti bertengkar dengan pikirannya sendiri.