
Di desanya Sanu, Nurjanah yang mendengar kabar anaknya kecelakaan sangat terpukul. Dia terus menangis duduk di kursi mesin jahitnya. Pikirannya kalut, dia ingin menyusul Sanu ke Ibu Kota. Uang yang Sanu berikan kepadanya lebih dari cukup untuk berangkat ke Ibu Kota. Nurjanah juga tidak bisa meninggalkan Clara sendirian di sini, dia juga harus membawa Clara ke Ibu Kota.
Nurjanah menyeka pipinya yang basah yang di penuhi air mata, memanggil Clara yang sedang bermain dengan teman sebaya nya.
Clara menghampiri Ibunya. "Ada apa, Bu?"
"Besok kita susul kak Sanu, yuk." Nurjanah tersenyum, duduk setinggi Clara. Nurjanah tidak mau memperlhatkan kesedihan kepada Clara.
"Ke Monas ya, Bu." Clara bicara dengan polosnya.
Nurjanah mengangguk mencubit gemas pipi Clara.
"Hore ...! Besok Clara mau ke monas!" seru Clara berlari kesana kemari.
Dokter Latif lewat depan rumah, tersenyum melihat Clara berlari gembira. Clara menghampiri Latif lalu di gendongnya dia.
"Clara besok mau ke monas, Dok?"
Dokter Latif mengerutkan dahi. "Ke Monas? Clara mau jalan-jalan?"
Clara mengangguk. "Clara mau ketemu kak Sanu."
"Wah ... asyik dong? Kok dokter tidak di ajak."
Dengan wajah polosnya Clara menggeleng-gelengkan kepala.
"Clara ...." tegur lembut Nurjanah.
Latif melepaskan gendongan Clara, berjalan mendekati Nurjanah.
"Memang ada apa, Bu?"
Nurjanah hanya tersenyum simpul.
"Katakan saja, Bu. wajah bu Nur tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi dengan Sanu?" tanya Latif.
Nurjanah mengulum bibirnya, mengecap, terlihat berat untuk mengatakan kepada Latif.
"Katakan saja, Bu." Latif terus mendesak Nurjanah bercerita.
"Sanu kecelakaan, Nak Latif?" Nurjanah berkata pelan.
Latif membulatkan mata mendengar kabar dari fatimah.
"Bagaimana keadaannya, Bu?" tanya Latif khawatir.
Nurjanah tak kuasa menahan air mata. Bulir bening kembali menetes di pipinya. "Belum sadarkan diri."
Latif mendongak, mengehembuskan napas kasar, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Sanu. walaupun Sanu tidak menerima cintanya, tapi Latif masih berharap suatu saat nanti Sanu berubah pikiran.
"Izinkan saya menemani Bu Nur ke Ibu Kota," pinta Latif.
"Jangan, Nak? Warga di sini masih membutuhkan pertolongan dari, Nak Latif."
"Tidak apa-apa, Bu. Ada dokter pengganti? Saya ingin membantu Sanu sebisa saya."
Melihat kesungguhan Latif, Nurjanah pun mengangguk, menyetujui Latif menemaninya.
"Kapan Bu Nur akan berangkat?"
"Besok."
"Saya akan siapkan tiket hari ini juga," ucap Latif.
"Terima kasih, Nak Latif." Nurjanah terlihat bangga dengan Latif. Sedari dulu dia ingin menjodohkan Latif dengan Sanu. Namun, Sanu selalu beralasan.
...***...
Pagi Hari di Ibu Kota, Ali memberikan bukti cctv yang didapatnya dari rumah sakit. Ali mencurigai Arya lah orang dibalik semua ini.
"Saya curiga, ini sudah direncanakan, Pak."
"Kami sebelumnya juga mencurigai orang yang bersama korban, tapi dengan bukti ini, kami semakin yakin. Berikutnya kami akan menanngkap saudara arya." jelas Polisi.
"Saya serahkan semuanya kepada kepolisian." Ali berjabat tangan dengan pak polisi.
Polisi yang berbicara dengan Ali segera memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Arya. Mobil polisi di kerahkan menuju tempat arya. Dengan sistem teknologi yang muktahir, polisi dengan cepat menemukan dimana Arya berada.
Polisi mengetuk pintu kamar, Arya yang masih ngantuk dengan malas membuka pintu.
"Saudara Arya."
"Betul?" Arya tampak bingung.
"Tangkap." Tanpa Basa-Basi Arya langsung di borgol tangannya.
"Kenapa ini Pak, salah saya apa!" Arya meracau membela dirinya.
Arya pun di gelandang menuju kantor polisi untuk diinterogasi, sedangkan polisi yang lain menggeledah apartemen arya dari segala sudut, polisi hendak mencari bukti. Tapi polisi tidak menemukan bukti apapun.
Arya duduk di ruang interogasi, seorang polisi memberikan sejumlah pertanyaan. Arya menjawab dengan santai seolah tidak ada ketakutan dalam dirinya.
Polisi lalu membawa seorang pelayan diskotik yang mengantarkan minuman beracun itu ke ruang pesakitan itu.
"Saudara kenal dengan wanita ini?"
Arya mmandangi wajah wanita itu cukup lama, hingga dia mengingatnya. Tapi Arya berkilah kalau dia tidak mengenal wanita itu.
"Bohong dia, Pak!" hardik pelayan diskotik itu.
Polisi memandang serius wajah pelayan diskotik itu.
"Apa betul, Saudara Arya yang menyuruhmu mengantar minuman beracun itu."
"Betul, Pak. Waktu itu saya tidak tau kalau itu minuman beracun," ucap pelayan diskotik itu.
"Saudara Arya sementara saya tahan." Dua orang polisi membawa Arya menuju sel.
"Salah saya apa, Pak! Kalian tidak ada bukti! Ini tidak adil!" Arya meracau.
Polisi tidak mempedulikannya, Arya dengan paksa di gelandang.
...***...
Sore telah tiba, Latif, Nurjanah, dan Clara telah sampai di stasiun Pasar Senen. Sebelumnya Nurjanah telah memberitahu kepada Aida untuk menjemputnya di Pasar Senen. Aida melambaikan tangan saat melihat Nurjanah, Clara, dan seorang pria yang disukainya. Itu dokter Latif, seorang pria berkaca mata yang selalu memakai pakaian rapi.
"Dokter Latif apa kabar, masih ingat dengan saya?"
Latif tersenyum tipis melihat Aida.
"Kamu ini lho, Aida? Bukannya menyapa Bulek malah Nak Latif duluan yang di sapa," sahut Nurjanah.
Aida tersenyum nyengir. "Maaf Bulek, Aida sedikit Khilaf."
Nurjanah tersenyum.
"Hay Clara ...? sapa Aida.
Clara tersenyum malu menggigit kecil jari tangannya.
"Dimana tempat Sanu dirawat, Aida?" tanya Latif.
"Kita naik mobil online saja biar lebih cepat," ajak Aida.
Mereka menuju rumah sakit tempat Sanu dirawat.
Sesampainya dirumah sakit, Aida mengantar Nurjanah ke ruangan Sanu dirawat.
Nurjanah menangis saat melihat Sanu terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya.
"Ibu kenapa?" tanya Clara menggoyang-goyang kain panjang Nurjanah.
Nurjanah membelai rambut Clara, lalu memeluknya. Clara pun ikut menangis merasakan kesedihan ibunya. Aida mencoba menguatkan Nurjanah. Latif bertanya kepada dokter yang merawat Sanu tentang kondisi Sanu.
"Buruk, Pak. Kakinya lumpuh, tulang-tulangnya sudah hancur karena terjepit besi mobil.
"Bagaimana dengan laki-laki yang bersama Sanu?" tanya Latif.
"Sampai saat ini, pasien belum sadarkan diri."
"Sudah berapa lama mereka koma?"
"Sekitar empat hari."
Latif merasa kasian dengan kondisi Sanu.
Mira datang ke rumah sakit, melihat seorang perempuan menangis bersama anak kecil. Diam-diam Mira memerhatikan perempuan itu, sepertinya tidak asing. Perempuan itu duduk dituntun seorang anak gadis seumuran dengan Sanu.
"Apa keluargamu ada di ruangan ini?" tanya Mira kepada Aida.
"Teman, Bu. Saya hanya mengantar bulek saya mennjenguk anaknya."
"Anak? Siapa namanya?" tanya Mira penasaran.
"Sanu," jawab singkat Aida.
"Sanu?" Mira Melihat wajah Nurjanah. "Saya mengenal Sanu, dia tunangannya anak saya."
Nurjanah menatap Mira. "Tunangan, kenapa Sanu tidak memberitahu kepada ibunya?"
Mira tersenyum kepada Nurjanah. "Maaf, Bu. Anak saya melamar anak Ibu secara mendadak, mungkin Sanu belum sempat memberitahukan kepada Ibu."
Bersambung ...