
Bus tiba di Terminal Klari, tim Sanu satu persatu turun dari bus. Suasana terminal begitu ramai. Tim Sanu mencari warung untuk mengisi perut terlebih dahulu.
"Apa kita mau ngekost ke tempat yang dulu, Kak?" tanya Dara.
"Tidak ... kita akan naik angkot lagi menuju Alun-alun."
Selesai makan, Sanu menyewa dua angkutan umum menuju Alun-alun Kota. Lalu mencari kost di sekitaran Alun-alun. Kost di sini sedikit mahal memang, tapi itu tidak masalah bagi Sanu. Yang penting tim nya bisa beraktifitas dengan nyaman.
Sanu memberi intruksi kepada tim nya untuk picing di daerah perumahan. Karena, di sini banyak sekali perumahan yang ditinggali para imigran.
Mereka begitu bersemangat, tidak sabar ingin mencoba teritory. Tapi, Sanu menyuruh mereka untuk istirahat dulu. Menata barang-barang dan mental mereka untuk menghadapi hari esok. Sanu tidak ingin tenaga mereka terforsir.
Esok harinya, persiapan sudah dimulai, teritory sudah dibagi. tinggal usahanya saja di lapangan. Semua tampak semangat, tidak sabar ingin mencoba teritory baru. Tim Sanu menyebar ke segala arah. Pitcing dari pagi hingga sore.
Hari pertama pitcing semuanya bisa membuktikan hukum rata-rata. Daya juang dan sikap pantang menyerah Sanu, menurun ke crew nya. Sanu begitu gembira melihat hasil yang didapat haru ini. Ini melebihi expektasi.
"Besok kalau ada yang bisa dua pcs, Kak Sanu akan kasih bonus lima puluh ribu!" Sanu memberi tantangan kepada crew nya supaya lebih semangat lagi.
Semua crew Sanu bersorak gembira, mereka mulai menyiapkan planning untuk teritory besok. Pihak kantor merasa puas dengan hasil yang didapat Sanu dan tim di hari pertama ini. Tapi, pihak kantor juga mengingatkan agar Sanu jangan lengah. Sanu berusaha untuk menjaga kepercayaan kantor.
Esok harinya, seperti biasa tim Sanu menyebar ke segala arah. Sanu pitcing di sebuah perumahan Peruri bersama para MD. warga di sini begitu terbuka, mereka sangat antusias dengan alat terapi yang hendak ditawarkan. apalagi dengan harga diskon yang sudah di sepakati. Mereka tanpa pikir panjang langsung membelinya. Di kawasan industri seperti ini, banyak orang yang memanggil jasa pemijatan. alat dolpin yang dibawa tim Sanu sangat cocok untuk untuk mereka. Selain praktis juga tidak perlu lagi memanggil jasa pemijatan.
Semua MD yang di bawa Sanu menjawab tantangan dari Sanu. Mereka berhak mendapat uang lima puluh ribu. Mereka begitu senang bisa menjawab tantangan. Di sisi lain, hanya Dara yang bisa menjawab tantangan, trainer yang lain hanya bisa satu bahkan ada yang zero. Seperti Eko dan Agus, hari ini Mereka tidak bisa membuktikan sistem. Tapi, pencapaian hari ini masih tetap melebihi target.
Satu minggu berlalu, target kantor yang hanya membutuhkan penjualan lima puluh pcs di jawab tim Sanu dengan enam puluh pcs. Satu minggu lagi target tercapai, impian Sanu akan menjadi kenyataan. Menjadi seorang manager.
"Minggu ini Kak Sanu akan menantang kalian lagi. Kali ini hadiahnya lebih besar dari minggu sebrlelumnya.
Semua crew bertepuk tangan, bersorak gembira.
"Apa tantangannya, Kak?" tanya Eko tidak sabar.
"Setiap orang yang bisa dua pcs akan Kak Sanu kasih bonus seratus ribu, kalau bisa tiga pcs dua ratus ribu, itu berlaku selama satu mnggu."
Semua crew kembali bersorak memuji-muji nama Sanu.
"Karena minggu ini melebihi target, Kak Sanu traktir makan kalian semua. Beli nasi bungkus saja."
"Yah ... aku kira masakan padang," ucap Agus.
"Lha iya ... masakan padang, tapi dibungkus."
"Kenapa tidak di makan disana saja, Kak?" tanya Eko.
"Kalau makan disana, nanti mengganggu pengunjung yang lain."
"Lha, kok gitu." Agus belum paham maksud Sanu.
"Karena mulut kalian tidak bisa berhenti diam, kalau lihat makanan."
Semua crew tertawa.
Satu minggu kemudian, target sudah tercapai. Semua tim Sanu bersorak gembira menyambut manager baru. Sanu sangat bersyukur dengan pencapaiannya. Impian yang selama ini diharapkan kini sudah ada di depan mata. Sanu berterima kasih kepada semua crew yang telah mendukungnya selama ini. Masih ada satu minggu lagi di sini. Sanu tetap mempertahankan standartnya. Memberi tantangan kepada crew supaya semangat ke lapangan. Sanu juga tidak lupa memberi bonus kepada crew yang telah membantunya meraih impiannya.
Tiga minggu berlalu, waktunya Sanu pulang ke Ibu Kota. Semua barang sudah dikemas, tinggal menunggu bus yang melintas menuju Ibu Kota.
Bus merah bertuliskan Agra Mas Arah terminal Kampung rambutan datang. Satu persatu tim Sanu menaiki bus. Seperti biasa tim Sanu begitu riuh di dalam bus. Mereka bernyanyi bercanda hingga kernet bus menegurnya.
Semua tim Sanu terdiam. Sanu yang duduk di kursi depan hanya terkekeh melihat kelakar para crew nya.
Tiga jam perjalanan, bus berhenti di terminal Kampung Rambutan. Satu persatu tim Sanu turun membawa barang bawaan mereka.
Sanu memesan dua angkutan umum untuk mengantarkannya ke Pasar Minggu. Setelah sepakat dengan harga, Mereka semua menaiki angkutan umum. Kali ini tidak ada yang melarang mereka untuk berteriak, bernyanyi bercanda sepuasnya. Sebab, angkutannya sudah disewa. Mereka meneriakan kemenangan layaknya suporter bola yang mendukung tim kesayangannya meraih juara.
Euforia terus dilakukan tim Sanu di sepanjang jalan. Hingga sampailah mereka di Pasar minggu.
"Makan-makan dong, Kak? Perut kita sudah lapar nie, seharian berteriak," ucap Agus.
"Salah sendiri," ucap Sanu.
"Kita kan berteriak karena mendukung kak Sanu?" sahut Eko.
"Iya deh, berhubung target tercapai, kita makan di masakan Padang."
Sanu pun mengajak mereka di warung Padang yang tidak jauh dari kantor. Mereka semua sangat senang punya leader baik hati seperti Sanu.
Setelah selesai makan, Sanu mengajak Dara menuju toko kue untuk membeli kue lapis.
"Buat siapa, Kak?"
"Buat Rina."
Dara tersenyum kepada Sanu.
"Tolong pilihkan kue lapis yang enak."
"Siap, Kak."
Dara memilihkan kue lapis legit berwarna-warni.
Sanu tersenyum kepada Dara. "Kamu memang pintar memilih kue, Dara."
Setelah membayar kue lapis legit itu, Sanu menuju kost. Kamar kost Rina tampak dikunci, mungkin Rina sedang pitcing.
"Kita istirahat saja dulu, Kak. sambil menunggu kak Rina pulang.
Sanu mengangguk, lalu masuk ke kamar.
Sore hari setelah terbangun dari tidur, Sanu mendengar Suara dari kamar sebelah. Itu suara Rina. Sanu segera bangun menemui teman seperjuangan itu.
Rina terlihat bersandar di dekat kipas angin, mengingatkan Sanu saat masih satu kamar. Sanu tertawa sambil menutup mulutnya.
"Rina ....?"
"Hey, Sanu. Aku kira kamu masih tidur."
"Aku bawakan sesuatu untukmu, Rina."
Rina membuka bingkisan itu.
Bersambung ...