Sanubari

Sanubari
Kembali Lagi.



Sesampainya di rumah, Sanu berbasa-basi mengajak Latif untuk mampir. Latif dengan halus menolaknya, karena dia tau itu hanya budaya warga desa. Clara dengan slebor berlari mendekap Sanu dari belakang.


Sanu terperanjat. "Clara ...?"


"Kak Sanu bawa coklat?"


Sanu mrngangguk, tersenyum kepada Clara memberikan coklat yang dibeli di alun-alun tadi. Clara bersorak gembira berlari menuju kamarnya.


"Kamu sudah pulang, Sanu? Ibu buatkan teh hangat untukmu."


Sanu masuk kedalam rumah, duduk di kursi panjang dengan Nurjanah.


"Bagaimana jalanmu dengan dokter Latif?" tanya Nurjanah penasaran.


"Biasa saja, Bu?"


"Biasa bagaimana?


"Biasa saja layaknya orang jalan? Sanu 'kan cuma menemani memilihkan dokter Latif baju untuk adiknya."


"Kamu tidak tertarik dengan dokter Latif?" tanya Nurjanah.


"Sanu 'kan sudah bilang, Bu. Sanu mau fokus kerja dulu. Sudah ah jangan ngomongin orang, tidak baik." Sanu seteguk meminum teh lalu beranjak ke kamar mengganti bajunya yang sedikit basah.


Hari terus berlalu, semenjak Sanu pulang ke rumah, hampir setiap hari Latif berkunjung ke rumah Sanu. Alasan sedang menanyakan keadaan Nurjanah. Sanu tidak curiga, bahkan Sanu menyambut kedatangan dokter Latif dengan baik. Membuatkan teh hangat, serta mengajak ngobrol Latif. Semua itu di lakukan Sanu semata-mata untuk menanyakan perkembangan ibunya.


Satu minggu berlalu, Ini saatnya Sanu kembali ke Ibu Kota. Para Crew Sanu sudah cerewet menelponenya meminta oleh-oleh dari kampungnya. Terlebih Agus dan Eko, si perut karet itu ingin dibawakan nasi gudeg yang banyak.


Latif datang menemui Sanu. "Apa kamu hari ini kembali ke Ibu Kota?"


Sanu mengangguk menyunggingkan senyumnya.


"Bagaimana kalau aku yang mengantarmu sampai ke stasiun."


"Tidak usah, Kak? Aku sudah pesan mobil, Lagian barang bawaanku cukup banyak."


Latif tersenyum tipis. "Ya sudah, hati-hati ya."


"Aku titip Ibu ya, Kak."


Latif mengangguk.


Mobil pesanan Sanu sudah datang, Sanu memeluk serta mencium punggung tangan ibunya.


"Kak Sanu mau berangkat sekarang?" Clara terlihat bersedih sambil memainkan ujung jarinya.


Sanu membungkukkan tubuhnya mencubit gemas Clara. "Iya Sayang ...."


Latif membantu memasukan barang bawaan Sanu. Clara dan Nurjanah melambaikan tangan melepas kepergian Sanu. Dari jendela mobil Sanu pun melambaikan tangannya.


Perjalanan dua puluh menit begitu lancar, cuaca mulai berawan. Sanu turun di stasiun Maguwo dengan selamat. Seorang kuli jasa angkut barang menghampiri Sanu untuk membantu membawakan barangnya. Sanu dengan senang hati menerima tawaran kuli itu, membawakan barangnya sampai ke kursi tunggu stasiun.


Kereta akan tiba setengah jam lagi menuju keberangkatan. Para penumpang mulai menunjukan tiket kereta kepada petugas pintu masuk. Sanu duduk di peron bersama penumpang lain menunggu kereta tiba.


Dari pinggir peron seorang petugas meniup peluit panjang tanda kereta terlihat dari kejauhan. Bunyi kereta yang memekakkan telinga datang merapat sempurna di stasiun Maguwo dengan gagahnya.


Sanu masuk di gerbong delapan duduk di kursi nomor dua puluh lima. Seperti biasa, Sanu selalu menatap ke arah jendela memandangi para pramuniaga sibuk menawarkan jasa angkut barang. Hingga tanpa sadar kereta sudah berangkat. Sanu mengambil handphone dari saku celananya lalu mengetikkan pesan kepada Agus dan Eko untuk menjemputnya di stasiun pasar Senen sehabis magrib.


Perjalanan masih panjang, Sanu memutuskan untuk tidur sejenak guna melepas rasa lelahnya. kereta melaju dengan kencang seolah-seolah ingin menunjukan kalau dia sang penguasa daratan. Berjam-jam Kereta berjalan, akhirnya sampai di tempat tujuan. Sanu sudah terbangun dari satu jam yang lalu. dia langsung mengambil barang yang di taruh di bagasi atas, lalu keluar dari gerbong kereta.


Agus dan Eko yang menunggu di peron memangggil serta melambaikan tangan saat melihat Sanu. Bibir Sanu melebar saat melihat kedua crew nya itu.


"Kalian tadi naik kereta listrik?" tanya Sanu.


"Iya ... sekalian menunggu Kak Sanu di sini," ucap Eko dengan cengengesan.


"Kita makan dulu, bisa lah," ucap Agus.


"Ayo, aku dari siang juga belum makan," ucap Sanu.


"Mantap." Agus mengacungkan dua jempolnya ke arah Sanu.


"Tolong bawain ya." Sanu menunjuk tas dan kopernya yang ada di bawahnya.


"Oke, tidak masalah," ucap Eko mengikuti Sanu dari belakang keluar dari stasiun.


"Kita makan soto saja." Sanu melihat warung tenda bertuliskan soto Lamongan yang ada di pinggir jalan stasiun.


Eko dan Agus mengikuti dari belakang.


"Soto tiga mangkok, Pak!" seru Sanu kepada pedagang soto.


"Nanti kalau kita masih lapar, boleh tambah dong, Kak?" Agus menawar dengan wajah yang berbinar.


"Dasar perut karet," cibir Sanu.


pesanan satu persatu dihidangkan, mereka bertiga makan dengan lahapnya. Agus dan Eko seperti dugaan menghabiskan dua mangkok soto.


"Kenyang," ucap Eko memegangi perutnya seperti tidak punya dosa.


"Sering-sering begini ya, Kak Sanu." Agus menambahkan.


"Enak di kamu tidak enak untuk aku," ucap Sanu melirik kesal.


Agus dan Eko terkekeh.


"Kita naik angkot atau naik kereta, Kak? tanya Agus.


"Kita naik mobil online saja."


Agus dan Eko melakukan tos.


"Kita lupa kalau Kak Sanu ini manager paling kaya di Pasar Minggu," Puji Eko.


"Diam ...!" bentak Sanu yang membuat Eko dan Agus berhenti bicara.


Sanu sedang sibuk mengetik mengarahkan tempat lokasinya kepada supir online. Tak Berselang lama mobil tumpangan Sanu datang. Eko dan Agus menaruh barang di jok belakang. Sanu duduk disamping pak supir. Sedangkan Agus dan Eko duduk di belakangnya. Suasana di Ibu Kota malam hari begitu macet. Suara klakson kendaraan dari berbagai arah memekakan telinga. Jarak tempuh yang biasanya hanya tiga puluh menit menjadi satu jam perjalan akibat kemacetan.


Sanu berjalan menuju kost, Eko dan Agus terlihat kelelahan karena membawa barang dari bawah tangga. Sanu terkekeh melihat Eko dan Agus mengatur napas duduk di depan pintu.


"Oleh-olehnya mana, Kak?" pinta Eko.


"Nanti dulu, tunggu yang lain pulang. Kalian ke kantor sana, ikut program malam."


"Kita sudah 'kan izin sama pak Nazar pulang cepat."


"Ya sudah, nie." Sanu membuka kopernya memberikan toples berisi kue bakpia kepada Agus dan Eko.


"Asyik nie ... buat camilan di kost," ucap Eko kegirangan.


"Ayo kita pulang, Ko! Tugas sudah selesai." Agus dan Eko tanpa pamit langsung meninggalkan kost nya Sanu.


"Dasar ... dapat makanan langsung pulang," gerutu Sanu.


Sanu pun memasukan pakaiannya ke lemari serta menyirami bunga melati yang semakin tumbuh subur. Sanu berencana memindahkan bunga melati itu ke pot. Sebab, vas bunga berwarna putih itu sudah tidak mampu menahan pertumbuhan bunga melati yang semakin hari semakin besar.


Jam sudah menunjuk pukul sembilan malam, harusnya Dara, Rina dan Elfa sudah pulang. Kemana mereka?"


Bersambung ...