Sanubari

Sanubari
Masih Ragu.



Malam hari, Glenca, Arya, dan Kampleng berada di apartemen menyusun rencana untuk mencelakai Bari dan Atmaja. Mereka bertiga berambisi sekali ingin segera menguasai harta Atmaja. Caranya harus menyingkirkan Anak dan Bapak itu. Glenca tidak mungkin mendapat warisan setelah Atmaja tau kebusukannya. Satu-satunya cara adalah menyingkirkan Bari dan Atmaja karena Glenca masih menjadi istri sah nya Atmaja.


Namun, Mereka bertiga masih bingung bagaimana cara menyingkirkan keduanya secara bersamaan. Padahal rencana ini telah disusun lama.


"Bagaimana kalau kita kasih racun di minuman Atmaja," ucap Kampleng.


"Jangan bodoh kamu Kampleng, makan dan minumnya Atmaja itu sudah di atur. Dia sekarang hanya minum air putih. Kalau kita menaruh racun kedalam minumannya, tentu saja akan terlihat," terang Glenca.


"Terus bagaimana, Sayang," ucap Arya kepada Glenca.


"Plak ..." Sebuah tamparan mendarat di pipi Arya. "Jangan panggil lagi aku sayang sebelum kamu jadi orang kaya."


Arya memegangi pipinya yang merah sambil menatap Glenca geram.


"Kamu 'kan sering mengantar Atmaja periksa ke rumah sakit?"


Kampleng mengangguk.


"Kamu usahakan bagaimana caranya Brian satu mobil dengan Atmaja. Setelah itu, kamu putus kabel rem mobilnya."


Kampleng mengangguk setuju sambil tersenyum licik hingga kumis tebalnya terlihat melebar.


"Itu ide yang bagus, Nyonya. Kalau begitu aku permisi dulu, takutnya pak Atmaja mencariku."


"Aku ikut denganmu, Kampleng? Aku tidak mau lama-lama tinggal di apartemen kumuh ini," cibir Glenca.


"Maksudmu apa!" teriak Arya.


"Pikir saja sendiri," ucap Glenca berjalan keluar apartemen membelakangi Arya.


Di kediaman Mira Suganda, Bari terlihat sedang duduk di ruang tamu dengan mamanya.


"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Sanu?" tanya Mira.


"Kurang tau persis, Ma. Aku dan Sanu hanya mengikuti alurnya saja, seiring berjalannya waktu."


Mira semakin penasaran dengan ucapan ambigu anaknya.


"Dimana pertama kali kamu mengenal Sanu?"


"Di taman Menteng, saat itu Sanu terlihat bingung dan kalut. Jadi aku menghampirinya? Awalnya aku hanya kasian, tapi lama-lama jadi kasmaran," terang Bari tersenyum kepada Mira.


Mira menahan tawa. "Sepertinya kamu cinta mati dengan Sanu?"


Bari mengangkat bahunya. "Mungkin? Sanu berbeda dari pertemuan yang lainnya. Dia punya daya tarik tersendiri."


Mira senyum-senyum sendiri mendengarkan penjelasan Bari.


"Kalau kamu sudah mantap dengan Sanu. Kenapa kamu tidak segera melamarnya?" desak Mira.


Bari terbelalak. Benar apa yang dikatakan Mira. Tapi kenapa dalam hati Bari masih ada keraguan.


"Kenapa kamu tampak berpikir, Brian. Apa kamu masih ragu?" tanya Mira.


Bari tersenyum simpul.


"Hal seperti itu wajar, Brian. Itu hanya perasaanmu saja. Sekarang lebih baik kamu beli cincin katakan kepada Sanu, kalau kamu ingin menikahinya."


"Mama merestui hubungan Brian dengan Sanu?" tanta Bari serius.


"Tentu saja, Brian. Sanu gadis yang pintar dan pandai mencairkan suasana. Apapun pilihan kamu, Mama akan setuju."


"Baik, Ma." Bari segera mengambil motor sport di garasi rumahnya menuju toko cincin. Bari menuju ke salah satu Mall yang menjual perhiasan.


Bari melihat dari etalase kaca beberapa pasang cincin yang sedap di pandang mata. Pada akhirnya Bari memilih sebuah cincin bermahkotakan berlian yang terlihat indah. Pegawai toko perhiasan itu memasukannya ke dalam kotak kecil setelah Bari membayarnya.


Perasaan Bari berdetak tak menentu. Padahal dia hanya membeli sepasang cincin. Mungkin karena dia ingin melamar Sanu dan hendak melingkarkan cincin berlian ini ke jari manis Sanu.


Sesampsinya di rumah, Bari memperlihatkan cincin yang baru dibelinya kepada Mira yang duduk melipatkan kaki di ruang tamu.


"Bagus, Sanu pasti suka. Ajak dia makan malam dengan suasana romantis.


"Baik, Ma. Doakan Bari."


Mira membelai lembut rambut Bari. "Tentu, Brian. Kapan kamu akan melamarnya?"


"Saat dia libur, biar Sanu ada waktu banyak."


...***...


Esok harinya, Sanu berada di kantor sedang duduk Santai di lantai tiga. Anak kantor sudah pergi ke lapangan. Pak Nazar kembali ke rumah sedang ada urusan. Di kantor hanya ada Sanu, receptionist, dan OB. Sanu merasa bosan, dia rindu dengan lapangan. Sanu ingin pitcing lagi bersama dengan crew. Tiba-tiba Suara HP Sanu berbunyi. Sanu melihat nama dokter Latif tertera di layar HP.


📱"Halo ...."


📱"Sanu, apa kabar?"


📱"Baik, Dok. Ada apa ya?"


📱"Aku sekarang ada di Ibu Kota, ada urusan di sini. Nanti malam kita bisa ketemu?"


📱"Gimana ya, Dok."


📱"Sekalian ada kiriman dari ibu kamu."


📱"Oh, baik, Dok? Dimana kita bisa bertemu?"


📱"Di depan UI saja, bagaimana?


📱"Baik, Dok."


📱"Kalau begitu aku tunggu sehabis Isyak ya."


Sambungan Telpon berhenti.


Sanu sebenarnya malas jika harus bertemu dengan laki-laki selain Bari. Tapi karena ada hubungannya dengan Ibu, jadi Sanu mengiyakan ajakan dokter Latif.


Di tempat lain Latif begitu senang karena nanti malam akan bertemu dengan Sanu. Latif sebenarnya tidak ada urusan apa-apa di sini. Dia hanya ingin bertemu dengan Sanu. Semenjak mengenal Sanu, Latif selalu terbayang wajah gadis berambut keemasan itu.


Sedangkan Bari nanti malam juga ingin menemui Sanu. Bari ingin mengajak Sanu makan malam sekaligus melepaskan rasa rindu yang menyesakkan dada. Bari tidak sabar menunggu malam minggu tiba. Tinggal tiga hari lagi Bari akan memberi kejutan kepada Sanu.


Ali datang yang membuat Bari terperanjat.


'Masuk ke ruangan ketuk pintu dulu, kek?" cibir Bari.


Ali terkekeh. "Aku sudah beberapa kali mengetuk pintu, cuma tidak ada jawaban darimu."


Bari memandang kesal Ali.


"Duduk, ada apa?" tanya Bari.


"Aku hanya mauberi tau kepadamu kalau perusahaan kita sudah mulai stabil bahkan bisa di bilang ada kemajuan." Ali memberi berkas untuk ditandatangani Bari.


"Baguslah," jawab Bari singkat sambil menandatangani sampul map berwarna hijau itu.


Ali menyelidik wajah Bari. "Wajahmu cerah sekali hari ini."


Bari merasa malu dilihat Ali seperti itu. "Kalau sudah tidak ada urusan silahkan keluar dari ruanganku."


Ali terkekeh, lalu keluar dari ruangannya Bari.


Sore tiba, di kantor Dara terlihat mengomel terhadap Eko dan Agus karena di lapangan tadi, mereka berdua mengganggunya saat hampir closing.


Sanu datang untuk menengahi masalah ini. "Kenapa sih, kok ribut di kantor."


"Mereka berdua nie Kak, ganggu aku saat mau closing."


Sanu bertolak pinggang menatap tajam Agus dan Eko.


"Kita hanya bercanda, Kak?" bela Eko.


"Boleh bercanda di lapangan, tapi jangan merugikan teman," ucap Sanu


"Iya, Kak. Kami salah minta maaf deh ...?" Agus dan Eko mengulurkan tangannya.


Dara masih memasang wajah masam, memalingkan wajah dari Eko dan Agus.


"Dara ..." Sanu membujuk Dara untuk memaafkan mereka berdua.


Dara akhirnya mau bersalaman dengan Eko dan Agus. "Lain kali jangan gitu lagi ya."


Mereka berdua mengangguk.