
Kali ini Bari menggunakan mobil, menyuruh Jaka untuk menyetir. Bari dan Sanu duduk di kursi belakang. Tangan mereka saling bertautan.
Bari dan Sanu turun di sebuah gedung berwarna putih dengan di depannya ada spanduk selamat datang. Para tamu begitu ramai bersuara, menunggu calon mempelai pria datang.
Sanu mengamati sosok perempuan cantik dengan gaun pengantin duduk di atas podium.
"Apa itu mantan pacar kamu?" tanya Sanu kepada Bari.
Bari mengangguk. "Namanya Glenca."
"Cantik sekali," ucap Sanu.
Sanu membayangkan bagaimana sakitnya hati Bari saat Glenca lebih memilih orang lain. Apalagi yang dipilih Glenca adalah papa kandungnya Bari sendiri. Tapi, Bari terlihat sabar, bahkan dia mau mendatangi acara pernikahan orang yang telah menghianatinya.
"Kamu tidak merasa sedih, Kak Bari?" tanya Sanu di tengah kerumunan orang.
"Dulu mungkin iya, tapi sekarang aku sudah tidak ada rasa lagi dengan Glenca. Apalagi aku sudah tau sifat asli Glenca."
"Maksudmu?" Sanu mengangkat satu alisnya.
"Suatu saat nanti akan aku ceritakan kepadamu, Sanu.
Tak lama berselang sebuah mobil lambogini hitam berhenti di depan gedung. Seorang pria dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu turun dari mobil berjalan elegan.
Sanu terus menatap pria itu, dadanya tiba-tiba sesak. Ada rasa sakit dan kebencian di hati Sanu saat melihat pria elegan itu. Bari memegang tangan Sanu yang mulai bergetar.
"Tenangkan dirimu, Sanu," bisik Bari.
Dia adalah Atmaja, pengantin pria yang akan menjadi suami Glenca.
Sanu berusaha melawan diri dari ingatan yang membuat Sanu trauma. Dia terus menatap tajam Atamaja. Tatapan Sanu bagai seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.
Sanu di ajak Bari duduk di kursi tamu sambil memakan hidangan yang telah di sediakan.
Acara di mulai dengan kidmat, tidak ada kendala sejauh ini. Para tamu undangan memberi selamat kepada pengantin baru. Raut wajah bahagia terpancar dari diri Atmaja dan Glenca.
Hingga tiba giliran Sanu dan Bari memberi selamat.
Atmaja terbelalak saat tau gadis yang bersama anaknya itu. Atmaja sepertinya masih mengingat Sanu yang dulu hendak di perkosanya. Sanu berusaha bersikap biasa Terhadap Atmaja. Bahkan dia berani memberikan senyuman terhadap Atmaja. Glenca pun demikian, dia memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak pucat saat melihat seorang gadis sedang bersama Bari. Berbeda dengan Atmaja, wanita berambut pendek itu malah memalingkan wajahnya dari Bari.
"Bagus Sanu, kamu lihat, kan. wajah papa saat melihamu? Sepertinya papa masih mengingatmu," bisik Bari saat berjalan keluar gedung.
Atmaja yang masih ada di podium hendak menghampiri Bari. Tapi, Glenca dengan cepat memegang tangan Atmaja.
"Kamu mau kemana, Sayang. Acara belum selesai."
Atmaja menatap Glenca, lalu kembali ke posisinya.
Selesai Acara, Atmaja tampak duduk melamun di kamar.
Glenca yang melihatnya sedikit kesal. "Sayang, kenapa dari tadi kamu duduk melamun? ini malam pertama kita, seharusnya kamu bahagia, kan."
Atmaja hanya menyunggingkan senyum. Glenca mendekati Atmaja duduk di paha bergelendotan manja.
"Kita main yuk," bisik manja Glenca.
Atmaja seperti tidak tahan dengan bisikan Glenca, dia tersenyum nakal lalu ******* bibir Glenca dengan liar. Sejenak Atmaja bisa melupakan wajah Sanu. Pria lima puluh tahun itu membanting tubuh Glenca di atas kasur lalu melucuti bajunya. Glenca yang melihat aksi liar Atmaja tertawa senang. hingga mereka berdua melakukan hubungan badan di malam pertamanya.
...***...
Hari mulai malam, Bari hendak mengantarkan Sanu pulang. Sanu berterima kasih kepada Mira karena telah mendandani Sanu dan menerima Sanu dengan baik. Sanu pamit mencium punggung tangan Mira. Bari terlihat senang melihat keakraban mereka berdua.
"Brian, pamit dulu ya, Ma?"
Bari melajukan motornya menuju Pasar Minggu. Sanu duduk di belakang melingkarkan tangannya di perut Bari.
"Terima kasih, Kak. Berkat Kak Bari aku bisa mengalahkan rasa traumaku." ucap Sanu saat turun dari motor Bari.
"Tidak masalah, Sanu. Aku senang bisa membantumu."
Sanu tersenyum kepada Bari lalu menatapnya penuh arti. Suasana bising kendaraan tidak menghalangi mereka berdua. Bari lalu menarik tangan Sanu hingga jarak mereka begitu dekat. Bari mencondongkan tubuhnya mengecup pipi Sanu. Kedua nya sejenak terdiam seakan waktu berhenti. Sanu merasakan jantung yang berdegup kencang, perasaan senang yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata. Tapi dia masih menundukan kepala sambil memainkan ujung bajunya menutupi rasa malunya.
Bari lalu membelai rambut Sanu pamit pulang. Sanu menatap punggung Bari tanpa berkedip. Hingga penglihatan Sanu tidak mampu menjangkau laju motor Bari.
Sanu pulang ke kost dengan membawa bingkisan kue manis, pemberian dari mamanya Bari.
Sanu membuka pintu, Dara sedang menonton drakor kesukaannya.
"Dari mana, Kak Sanu," ucap Dara yang masih fokus menonton drakor dari layar hp nya.
"Tadi Kak Sanu di ajak teman ke pesta pernikahan?"
Sudut mata Dara terfokus dengan bingkisan yang di taruh di meja dengan vas bunga melati.
"Apa yang ada di dalam bingkisan itu, Kak?"
"Itu kue, pemberian dari temanku?"
"Bolehkah aku mencicipinya?"
"tentu saja boleh, Dara. Aku memang membawa kue ini untukmu."
Dara dengan cepat mengambil bingkisan itu. Di bukanya toples yang berisi kue manis itu. Dara terkejut melihat isi kue itu.
"Ini, kan, kue lapis legit yang harga mahal, apa benar ini pemberian dari teman Kak Ssnu?" tanya Dara.
Sanu mengangguk, "Dia memberikan bingkisan itu kepadaku, aku tidak tau kalau harga kue yang ada di bingkisan itu mahal."
"Kak Sanu ini, kurang gaul. Dilihat dari bingkisannya saja aku sudah tau kalau ini kue yang mahal."
"Dari mana kamu bisa tau kalau itu kue mahal?"
"Aku dulu pernah magang di toko kue ini, Kak Sanu. Harga satu toples kue lapis seperti ini itu sekitar satu juta."
Sanu terbelalak, "Kamu sedang tidak bercanda, kan?"
Dara menggeleng, "Aku serius, Kak Sanu."
Sanu tampak berpikir. "Kalau harga satu toples kue saja satu juta. Tante Mira memberikan tiga toples kue. Berarti harga satu bngkisan kue itu tiga juta," batin Sanu.
Dara terlihat memakan kue itu dengan lahapnya. Melihat Dara makan, Sanu jadi ingin mencicipi rasa kue seharga satu juta itu.
"Jangan dihabiskan, Dara?"
"Tenang masih ada dua toples, Kak Sanu?" Mulut Dara sudah penuh dengan makanan.
"Yang satu toples itu buat Rina, yang satunya lagi buat crew."
"Habis." Dara membalikan toples yang dia pegang."
"Dara ...!" teriak Sanu merasa kesal.
"Maaf, habisnya kue nya enak sih."
Terlepas dari kekesalan Sanu terhadap Dara. Sanu begitu bersyukur karena ibunya Bari tidak melihat Sanu sebelah mata layaknya sinetron yang ada di tv. Dimana orang miskin tidak boleh berjodoh dengan orang kaya.