Sanubari

Sanubari
Rencana Jahat.



Sanu memegang pundak Bari berusaha menenangkannya.


Glenca pun tertawa.


"Apa yang lucu!" hardik Bari.


"Aku tau sekarang kelemahanmu, Brian Atmaja."


Bari menatap Glenca dengan tatapan membunuh.


"Sudahlah, Kak. Lebih baik kita pergi, dari pada membuang-buang energi di sini."


Bari dan Sanu pun tidak menggubris ocehannya Glenca. Glenca masih tertawa melihat punggung Bari dan Sanu.


Bari dan Sanu menuju garasi. "Katanya mau beli kembang api."


"Aku sudah membelinya, Sanu." Sudut mata Bari melirik ke samping.


Sanu mengikuti arah lirikan Bari dan melihat motor sport Bari sudah banyak kembang api dengan stik panjang yang siap untuk di nyalakan.


"Ayo kita ke Pasar Minggu?" ajak Bari.


Sanu mengangguk sambil tersenyum. Bari menghidupkan mesin motornya. Sanu duduk di belakang melingkarkan tangannya di pinggang Bari.


Jalan Ibu Kota begitu padat dengan kendaraan. Tinggal satu jam lagi Tahun akan berganti. Namun, Kemacetan tidak bisa di hindarkan.


"Kalau macet seperti ini, kita tidak akan sampai ke Pasar Minggu tepat waktu," ucap Sanu di keliling suara mesin kendaraan.


"Kita tidak bisa putar balik lagi, Sanu. Terlalu padat kendaraan."


Mereka berdua hanya bisa pasrah menunggu antrean kemacetan. Setelah bergelut dengan kemacetan, akhirnya Sanu dan Bari sampai di kantor Pasar Minggu. Mereka berdua terlambat setengah jam.


"Kalian terlambat, kembang apinya sudah habis," kesal Dara.


"Tidak apa-apa, Dara. Kita bawa kembang api yang banyak." Sanu memperlihatkan stik kembang api yang ada di motornya Bari.


"Wahh ... ayo kita nyalahin sampai habis!" seru Dara.


"Ajak Rina sama Elfa juga, kita nyalahin di rooftop," seru Sanu dengan riang.


Dara mengangguk memanggil Rina dan Elfa.


"Kak Bari juga ikut," ajak Sanu.


"Aku?" Bari menunjuk ke arah hidungnya.


"Ayo kita naik ke rooftop," ajak Dara.


Dara, Elfa dan Rina berlari menuju rooftop, disusul Bari dan Sanu. Dara, Elfa dan Rina memegang satu stik kembang api Yang sudah dinyalakan menuju ke atas. Sanu dan Bari tidak mau kalah, satu stik kembang api di pegang berdua. Bari dan Sanu kompak mengangkat tangan.


Satu sampai tiga hitungan, gebyar kembang api menghiasi langit malam yang gelap. Mereka berlima terus menyalahkan kembang api hingga sudah tak tersisa lagi.


Sanu dengan tidak sadar bersandar di bahu Bari setelah lelah menyalakan kembang api. Rina, Dara dan Elfa yang melihatnya, tidak tahan untuk menggoda Sanu.


"Ciee ...," ucap mereka bertiga serentak.


Sanu dengan gagap mengangkat kepalanya, merasa malu karena dilihat oleh mereka bertiga.


Dara, Elfa dan Rina pun tertawa puas melihat tingkah Sanu.


"Kalian ...." Sanu kesal mengejar mereka bertiga hendak menyumpal salah satu mulut mereka bertiga. Namun, mereka bertiga segera turun ke bawah. Sanu mengejar mereka di lantai tiga. Bari yang melihatnya hanya tertawa senang.


Bari sejenak melihat langit, betapa kehidupannya mulai kembali setelah mengenal Sanu. Bagi Bari, Sanu adalah malaikat penolongnya.


Bari turun ke bawah melihat keempat wanita duduk bersandar di tembok dengan napas tersengal.


"Kalian kenapa?"


"Kami sedang olah raga malam, Kak. lumayan buat diet," ucap Dara ngawur.


"Kamu mengejekku ya," ucap Elfa merasa tersinggung.


"Siapa yang mengejekmu? aku hanya bicara sesuai fakta," balas Dara.


"Sudah-sudah, aku tidak mau lari-larian lagi, napasku sudah tidak kuat," ucap Rina.


Bari mengedipkan mata ke arah Sanu hendak memberitahu sesuatu.


Sanu menghampiri Bari.


"Minggu depan kita ke rumah papa kamu tidak keberatan 'kan, Sanu."


...***...


Asok harinya, Glenca datang menemui Arya di apartementnya. Glenca duduk di tepi kasur sambil melipat kedua tangannya di dada. Glenca begitu kesal dengan kejadian tadi malam. Arya yang baru selesai mandi menemui Glenca dengan telanjang dada.


"Kenapa kamu, Sayang?" Arya bertanya sambil mengecup pipi Glenca.


"Brian ikut campur urusan kita, Sayang."


"Ikut campur bagaimana?" tanya Arya memastikan.


"Kita harus berhati-hati dengan Brian, dia ingin merebut hak waris atas persetujuan pengacara Atmaja."


Arya pun geram mengepalkan tangan hingga terlihat otot di sekitar tangannya. "Brengsek kamu Brian."


"Cepat atau lambat sandiwaraku akan terbongkar."


"Kamu harus benar-benar hamil, Sayang. Supaya mereka percaya."


"Tidak semudah itu, Brian dan Atmaja tidak akan percaya dengan anak yang aku kandung. mereka sudah tau hubungan kita, Sayang."


"Hahh ...."Arya berteriak kesal.


"Kalau sampai Brian mendapatkan hak waris dari Atmaja, aku bisa di usir. Aku tidak mau jadi gembel lagi." Glenca memegang kedua telinganya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Arya bertolak pinggang berjalan bolak-balik seperti setrika, tampak berpikir.


"Satu-satunya cara adalah, menyingkirkan Atmaja dan Brian."


"Bagaimana caranya?" tanya Glenca.


"Suruh orang profesional untuk menyingkirkan mereka, buat seolah-olah seperti kecelakaan."


Glenca tersenyum licik. "Kamu memang pintar, Sayang. Kebetulan aku punya mitra baru untuk menyingkirkan Atmaja."


"Siapa?" tanya Arya.


"Salah satu orang kepercayaan Atmaja, dia mulai memihak kita."


"Bagus, Sayang. Itu artinya kita bisa lebih mudah mencelakai Bapak dan anak itu."


Kedua pasangan jahat itu tersenyum licik.


Di rumah Mira Suganda, Bari tengah bersiap menemui Sanu ke kostnya. Kebetulan ini tanggal merah, jadi Sanu pasti tidak datang ke kantor.


Sanu baru terbangun dari tidurnya. Rambut Sanu berantakan tapi masih tetap Indah.


"Dara ... bangun. Ini sudah siang." Sanu menggoyang-goyangkan tubuh Dara.


"Nanti saja, kak Sanu. Dara masih ngantuk," ucap Dara dengan malas.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Sanu mengira itu Rina atau Elfa. Sanu membuka pintu kost, ternyata itu Bari yang sudah wangi dengan topi berwarna biru pemberian Sanu.


"Kak Bari." Sanu tersenyum nyengir.


Bari tersenyum melihat Sanu.


"Sebentar ya Kak Bari." Sanu segera menutup pintu lalu mencuci wajah supaya tampak segar. Sedangkan Bari terperanjat karena Sanu menutup pintu kamar kostnya terlalu keras.


Setelah dirasa wajahnya tampak segar, Sanu membuka pintu kembali. Kali ini Sanu menyunggingkan senyum sambil mengedipkan-ngedipkan matanya.


Bari terkekeh. "Aku kesini hanya ingin mengajakmu kerumah papa sebentar, beliau butuh teman."


Sanu mencium bajunya, lalu menyunggingkan senyum. "Sebentar ya Kak, aku mandi dulu. Tunggu di bawah."


Bari mengangguk lalu turun ke bawah setelah Sanu menutup pintu kost nya untuk yang kesekian kali.


Lama Sanu mandi, hingga Bari harus memesan kopi di warung sekitar untuk mengurangi rasa bosannya.


Sanu turun dari tangga memakai celana skinny yang di lipat hingga memperlihatkan mata kakinya dan syal hijau yang selalu dia pakai saat berpergian.


"Lama ya nunggunya?" tanya Sanu berjalan menuruni tangga.


"Tidak juga," jawab Bari menyenangkan hati Sanu.


Bari menaruh kopi di meja, lalu membayarnya. Berjalan beriringan dengan Sanu menuju parkiran samping terminal.


Bersambung ...