
Di kamar kost, Sanu terlihat sedang belajar sistem kantor.
Rina datang menegur Sanu. "Hey, Sanu. Kenapa kamu pergi begitu saja saat melihat kak Muna."
"Tidak apa-apa." Sanu masih fokus dengan buku yang dia baca.
"Kamu sadar tidak, Sanu?"
"Apa, Rina."
"Kamu tadi belum bayar, makananmu."
Sanu membulatkan mata. "Aku lupa." Sanu menutup bukunya hendak menuju warung Budhe.
"Tidak usah, Sanu. kak Bari sudah membayar makananmu."
Sanu berbalik ke arah Rina. "O ya."
Rina mengangguk. "Kamu tidak suka ya, dengan kak Muna."
"Aku bukannya tidak suka dengan kak Muna, tapi aku merasa tidak nyaman kalau ada didekatnya."
"Aku juga seperti itu, Sanu. Tapi, janganlah kita perlihatkan ketidak sukaan kita terhadap seseorang."
Sanu meminta maaf kepada Rina. Sanu masih gadis desa yang lugu. Dia belum pandai bersikap biasa terhadap orang yang tidak dia sukai.
Pagi hari, pak Nazar sudah berada di lantai tiga memberi pengarahan kepada crew nya. Sanu dan Rina datang sedikit terlambat hari ini. Itu disebabkan Sanu mandi lebih awal dari pada Rina. Tapi, Rina tidak menceritakan kenapa mereka terlambat masuk kantor.
"Baru juga jadi trainer, sudah terlambat," cibir Muna.
"Maaf, Kak?"
Sanu duduk di samping Rina. Pak Nazar menjelaskan masalah perkembangan.
"Nanti ada dua rekrutan baru. Nanti yang Bawa Bari sama Sanu."
Muna mengangkat tangannya ke atas. "Kenapa harus Sanu, Pak Nazar. Dia kan masih baru?"
"Karena kamu sudah zero tiga hari Muna. Sedang Sanu konsisten, walaupun kemarin dia Zero."
"Rina kan kemarin bisa Pak Nazar?" bantah Muna.
"Kamu kenapa, Muna. Biar saja Sanu belajar bawa orang baru."
Muna pun akhirnya mengiyakan ucapan pak Nazar.
Bari mengangkat tangannya. "Aku jangan bawa orang dulu, Pak Nazar."
"Kenapa!" Kali ini pak Nazar sedikit meninggikan nada suaranya.
"Aku mau bawa orang rekrutan ku langsung saja. Yang ada di ruang observasikan, bukan rekrutan ku."
"Yang satu mau bawa orang tapi zero-zero. Yang satu konsisten tapi tidak mau bawa orang. Sebenarnya kalian mau jadi manager tidak!" bentak pak Nazar yang membuat mereka berempat menundukan kepalanya.
Suasana menjadi lengang, pak Nazar mendengus kesal kepada Bari yang menolak membawa orang baru untuk dijadikan crew.
"Kamu sajalah Rina yang bawa orang baru."
"Siap Pak Nazar."
"Kalau begitu Kamu pitcing sama Muna. Bari pitcing sama Sanu," perintah pak Nazar.
Rina dan Sanu turun ke ruang observasi. Ada satu orang laki-laki dan satu perempuan anak baru. Sanu dan Rina menyalami anak baru tersebut.
Moderator menetapkan kalau Sanu membawa anak laki-laki sedangkan Rina membawa anak perempuan.
Bari dan Muna sudah menunggu di depan kantor.
"Namanya siapa, Kak?" sapa Bari sopan.
"Ilham, Mas," ucap anak baru dengan rambut di kuncir itu.
Sanu terlihat tidak nyaman saat membawa anak baru. Bari mencoba menenangkan Sanu.
"Tenang, Sanu. Biarkan aku yang bawa anak baru ini," bisik Bari.
Sanu tersenyum simpul.
Sanu masih naik kereta listrik menuju stasiun Bojong Gede. Bari memberi pengarahan kepada anak baru.
"Nanti Mas Ilham ikut saja sama Kak Sanu ini. Mas ilham ini soalnya masih tahap observasi. belum diterima di perusahaan kami. Nanti Penilaian tergantung Kak Sanu ini."
Ilham mengangguk. Sanu hanya melihat cara Bari menjelaskan sistem kepada anak baru tersebut.
"Semangat, Sanu." Bari mengepalkan tangannya ke atas memberi semangat untuk Sanu.
"Kak Bari jangan jauh-jauh dari sanu."
Sanu terlihat belum biasa membawa orang baru. Komunikasi terlihat terbata-bata. Bari tidak henti memberikan semangat untuk Sanu.
Matahari sudah di atas kepala, keringat mulai bercucuran. Sanu, Bari dan Ilham istirahat di Mushola awal. Bari mengajak Sanu sedikit menjauh dari anak baru tersebut.
"Nanti biar Ilham aku yang bawa, kamu fokus saja pitcing," bisik Bari
"Terima kasih, Kak." Sanu melebarkan senyumnya.
Anak baru dengan rambut diikat gaya salad itu tampak cuek.
"Mas Ilham nanti ikut saya, ya?"
"Iya, Mas. saya mah mau ikut siapa saja hayuk?"
Bari dan Sanu memulai pitcing lagi berdua dengan Ilham. Sanu tampak jauh lebih rileks dibanding saat bersama Ilham. Pertengahan siang Sanu berhasil membuktikan hukum rata-rata. Bari memuji Sanu karena berhasil membuktikan sistem. Sanu tersenyum malu. Bari mengembalikan Ilham ke Sanu lagi.
"Aku kembalikan Ilham ke Kamu, Sanu. Biar kamu belajar cara Membawa dan membangun orang."
"Baik, Kak." Kali ini Sanu berkata dengan yakin.
"Jangan lupa, sebelum Ashar kamu harus sudah pulang, Sanu."
Sanu mengagguk, masih ada setengah jam lagi untuk pitcing. Sanu berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. mengetuk dari pintu satu ke pintu yang lain.
Waktu mulai mendekati sore, Sanu bergegas pulang tanpa pamit kepada Bari. Tapi Bari sudah berpesan kepada Sanu meninggalkannya terlebih dulu.
Sanu pulang naik kereta listrik, udara sejuk kereta membuat Sanu ingin tidur. Tapi, Sanu berusaha melawan rasa kantuknya.
Hingga di kantor Sanu sudah melihat Rina datang terlebih dulu. Sanu tersenyum kepada anak baru yang perempuan lalu menyalaminya.
Mereka berempat saling diam seperti karung beras, sibuk dengan urusannya masing-masing Hingga Anak baru yang perempuan itu mengeluarkan unek-uneknya.
"Ini kantor sales ya, Mbak?"
Sanu dan Rina membulatkan mata terkejut kepada anak baru tersebut.
"Bukan, Mbak. Ini kantor ..." Rina tidak bisa menjawabnya.
"Kantor pengiriman barang," sahut Sanu.
Anak perempuan itu tau kalau Sanu dan Rina berbohong. Hingga kedua anak baru itu dipanggil oleh manager. Sanu dan Rina bisa bernapas lega.
"Baru kali ini ada anak observasi bicara se spontan itu," ucap Rina.
Tapi benarkan, kita ini sales," ucap Sanu dengan lagunya.
Rina menonyor pelan kepala Sanu. "Jangan di iyakan, kalau kamu mrngiyakan, kabur semua nanti orang yang kamu bawa. Buka pola pikirnya."
Sanu menurut.
"Kamu hari ini bisa, Sanu?" tanya Rina.
Sanu mengangguk mantap.
"Aku hari ini zero."
"Ya sudah, minta saja sama mbak Dian."
Rina mengangkat kedua alisnya lalu turun ke bawah meminta take ke mbak Dian.
Tak berselang lama kedua anak baru itu keluar dari ruang manager. Sanu mendekati Ilham pura-pura cemas menanyakannya.
"Gimana, Mas Ilham. Diterima."
"Diterima, Mbak." ucap Ilham semangat.
Sanu menyalami Ilham. "Jangan lupa besok berangkat pagi ya, Mas ilham."
"Iya, Mbak."
Sanu mengantar Ilham sampai ke ruang observasi.
Rina datang dengan terburu-buru menemui calon crew nya.
"Gimana, Mbak. Diterima," ucap Rina.
Anak baru itu mengangguk. "Tapi aku besok tidak mau datang lagi, Mbak.
"Kenapa?" Tanya Rina.
"Aku gak kuat kalau ke lapangan."
"O, begitu ya. Ya sudah pulang sana," ucap Rina ketus.