
Pagi mulai tiba, Sanu dan Dara sudah bersiap berangkat ke kantor. Mungkin hari ini Bari sudah naik pesawat, setelah kemarin malam Sanu mendapat pesan perpisahan dari Bari. Sanu bertekad secepat mungkin jadi manager. Tinggal bangun dua orang crew lagi. Di atas kertas itu mudah, apa lagi Sanu punya crew yang mendukung penuh dirinya.
"Kak Sanu nanti pitcing kemana?" tanya Dara.
"Daerah Kelapa Gading,"
"Aku ikut boleh," ucap Dara.
"Boleh saja, nanti kamu pitcing di sebrang jalan sama crew kamu."
Dara mengangguk.
Sanu dan crew lainnya menaiki kereta listrik yang penuh dengan manusia, berdesakan, itu sudah menjadi hal yang wajar jika ingin menaiki kereta listrik menuju arah Ibu Kota.
Kepala Sanu sedikit mendongak melihat hiburan televisi yang ada di kereta listrik. Ini bisa sedikit mengurangi rasa stres karena harus berdesak-desakan dengan penumpang lain.
Tiba-tiba, seorang pembawa acara berita muncul mengabarkan tentang gunung merapi yang pagi ini erupsi setelah sekian lama terdiam. Mata para penumpang kereta tertuju ke arah layar lebar berbentuk pipih itu.
Pemandangan asap yang menjulang tinggi di awan menerjang pepohonan yang rindang, membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri.
Mata Sanu terbelalak sambil menutup mulutnya, wajah Sanu seketika pucat. Itu gunung merapi yang ada di kampungnya. Perasaan Sanu menjadi gundah. Sanu mengkhawatirkan ibu dan Adiknya. Dara menepuk pundak Sanu.
"Kak Sanu kenapa?"
"Itu gunung merapi yang ada di kampungku."
Dara terkejut, "Ya ampun, bagaimana dengan keluarga Kak Sanu?"
Sanu menggeleng, "Entahlah, Dara. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa."
Dara mengaminkan ucapan Sanu.
Suara hp berbunyi nyaring di saku celana Sanu. Itu Aida, Sanu segera mengangkatnya, menempelkan di telinga.
π±"Halo Aida."
π±"Kamu sudah dengar berita pagi ini, Sanu?"
π±"Sudah, Aida."
π±"Aku tidak bisa menghubungi ibu serta kerabatku, Sanu. Mungkin sinyal terputus."
π±Sanu tampak khawatir. "Kita berdoa saja, semoga semuanya selamat."
π±"Iya Sanu."
Sanu turun di stasiun Pasar Senen, berita Tentang gunung merapi yang erupsi mulai tersebar, menjadi sebuah breaking news. Orang-orang di sekitaran stasiun mulai membicarakannya.
Sanu mulai tidak bisa berpikir jernih, pikirannya kini diselimuti kekhawatiran tentang keselamatan adik dan Ibunya, serta keluarga yang lainnya. Terlebih lagi Ibunya yang memiliki penyakit paru-paru basah.
sebagai Asisten manager Sanu tidak boleh memperlihatkan sifat yang lemah kepada crew nya. Sanu berusaha tegar Walaupun pikirannya mulai kemana-mana. Dara sebagai crew yang paling senior ikut merasakan apa yang dirasakan Sanu. Dara menawarkan Sanu untuk membawa Agus dan Eko pitcing bersamanya. Tapi, Sanu menolaknya. Ini bukan yang pertama kalinya untuk Sanu. Kalau Sanu mengiyakan ucapan Dara, itu berarti Sanu tidak belajar dari pengalaman.
Dara pun percaya dengan leadernya. Sanu mulai pitcing, berita tentang erupsinya gunung merapi masih menjadi tontonan favorit warga. Sanu pun tidak mau ketinggalan dengan perkembangan berita. Sanu menonton tv di sela-sela kesibukannya menawarkan produk. terlihat dari tv pemandangan sebuah perkampungan yang penuh dengan debu vulkanik. Sanu begitu miris melihatnya. Itu bukan desanya Sanu. Desa tempat Sanu tinggal hanya berjarak lima kilo meter dari lereng gunung. Bisa saja desanya Sanu berdampak lebih parah.
Pembawa acara berita mngabarkan perkembangan berita merapi.
'Pemirsa, kami sudah mendapat perkembangan tentang erupsi gunung merapi. Dari data yang kami terima, tidak ada korban jiwa. Semua warga berhasil di evakuasi ke tempat yang lebih aman. Sekian breaking news hari ini.'
Sanu pun lega, ternyata kekhawatiran Sanu tidak menjadi kenyataan. Sanu pun bisa pitcing dengan tenang.
...***...
Malam hari setelah selesai jam malam, Sanu bergegas menuju tempat Aida. Tidak lupa Sanu juga memakai syal berwarna hijau pemberian Bari. Sebelumnya Sanu sudah melakukan janji dengan teman satu kampungnya itu.
Aida menunggu Sanu di taman yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Gadis berkulit coklat itu duduk di kursi taman sambil memainkan hp nya. Sanu melihat Aida duduk di kursi taman lalu dia memanggil serta melambaikan tangannya ke arah Aida.
Aida tersenyum, Sanu menghampiri Aida.
"Hay, Sanu. Lama tidak bertemu. Kulitmu semakin hitam saja."
Sanu tersenyum lalu duduk disamping Aida. "Wajarlah, Aida. Namanya juga kerja di lapangan."
Mata Aida terfokus pada kain hijau yang melingkar di leher Sanu. "Syal kamu bagus, Sanu. Dimana kamu membelinya?"
"Basa-basi sedikit tidak apalah, Sanu. Jangan-jangan itu pemberian dari pacar kamu ya," tebak Aida menyelidik.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Aku hanya menebak, Sanu. Kenapa wajahmu memerah seperti itu?"
"Sudahlah, Aida. Ayo kita hubungi keluarga kita. Nanti kalau aku punya pacar akan ku kenalkan kepadamu."
Aida mengerutkan dahinya, memasang wajah tidak percaya.
"Kenapa wajahmu, Aida. Kamu tidak suka ya, kalau aku punya pacar."
"Bukannya seperti itu, Sanu. Aku hanya tidak yakin saja denganmu?
"Kenapa?" tanya Sanu.
"Kamu ingat tidak, saat SMA ada cowok yang bernama Reihan suka denganmu. Apa yang kamu lakukan dengan pria itu."
Sanu mencoba menginggatnya. "Saat itu aku lari. habisnya dia terlalu agresif mengejarku, aku jadi takut melihatnya."
"Menurutku wajar, Sanu. Namanya juga suka, ya harus agresif."
"Kenapa kita malah membicarakan orang lain. Ayo cepat hubungi keluarga kita. Aku sudah tidak sabar ingin melihat adik dan ibuku," desak Sanu.
"Iya, iya. Lagian, keluarga kita sudah ada di tempat pengungsian. Mereka semua selamat. Tadi sore aku sudah melihat keadaan mereka.
"Tapi, aku kan belum, Aida."
Aida pun menelpone ibunya melalui video call.
Wajah seorang perempuan paruh baya, muncul di layar handphone Aida.
π±"Assalamu'alaikum, Ibu?"
π±"Wa'alaikumsalam, Aida."
Sanu melambaikan tangan di layar handphone.
π±"Ada Sanu juga disana to?"
π±"Iya, Bu. Budhe Nur dan Clara ada, Bu?"
π±"Sebentar ibu panggilkan. Nurjanah ... anakmu ingin berbicara denganmu."
π±"Uhuk ..." Suara batuk khas itu membuat Sanu berdegup kencang. Sudah lama Sanu tidak melihat wajah ibu dan Adiknya.
π±"Ibu ...," panggil Sanu lirih.
π±"Sanu ... kamu sehat disana, Nak?"
Sanu mengangguk, mengeluarkan mata sembabnya.
π±"Ibu dan Clara tidak apa-apa, Nak. Kami di sini semua selamat."
Sanu seakan tidak kuat melihat wajah ibunya yang semakin menua itu. Suara ibunya Sanu pun semakin serak, mungkin karena setiap hari batuk.
π±"Clara mana, Bu?"
Clara yang bermain dengan anak pengungsi lainnya menghampiri Nurjanah.
π±"Kak Sanu? Kapan pulang. Clara rindu mau minta coklat."
π±Sanu tersenyum simpul. "Wah ... Clara sudah tidak cadel lagi."
π±"Iya dong kak Sanu, Clara kan sudah besar. Sudah kelas nol besar."
π±"Oya ...! Clara hebat. Nanti kalau Kak Sanu pulang. Clara mau minta apa?"
Bersambung ...