Sanubari

Sanubari
Bari diculik.



Bari dan Sanu berpisah di jembatan penyebrangan berjalan berlawanan arah saling menatap satu sama lain. Sanu berlari kecil menuju kost sambil mengingat kejadian saat bari mencium keningnya.


Gerimis kembali mengguyur rambut pirang Sanu. Kali ini entah kenapa dia tidak membenci gerimis, mungkin karena gerimis dan hujan telah mempertemukan dirinya dengan Bari.


Sanu membuka pintu kost melihat Rina sedang menonton drakor.


"Tadi jalan kemana, Sanu?"


"Ke Kota Tua, Rina."


"Pasti mengasyikan bisa jalan di hari libur."


Sanu menyunggingkan senyum sambil menyiram bunga melati yang ada di meja didekat kipas angin.


Wajah Sanu tampak cerah. "Bagaimana pitcingmu hari ini, Rina."


"Hari ini aku bisa di jam terakhir " ucap Rina menghela napas.


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya." Sanu mengambil handuk bergegas untuk mandi.


Selesai mandi, Rina melihat kalung silver tertulis SanuBari melingkar di leher Sanu yang memang hanya memakai tank top.


"Hey Sanu ... sejak kapan kamu memakai kalung." Rina tersenyum menyeringai menatap Sanu.


Sanu dengan cepat menutup nama yang ada di kalung silvernya. " Ini dari ibuku," alasan Sanu.


Rina sebenarnya sudah tahu tulisan di kalung itu. Rina hanya ingin mengetes Sanu saja.


"O ya ...? Tetapi aku sudah tau nama kalung yang kamu pakai itu," ucap Rina terkekeh.


"Rina ...!" Sanu mencoba menangkap Rina hendak menyumpal mulutnya.


Rina terus menghindar dari kejaran Sanu hingga dia kelelahan. Sanu pun merasa lelah duduk bersandar di tembok berdampingan dengan Rina.


"Kamu jujur sajalah, Sanu. Dari mana kamu dapat kalung itu? Apa kak Bari yang memberikannya kalung itu kepadamu."


Sambil mengatur napas Sanu mengangguk kepada Rina. "Kamu jangan bilang siapa-siapa ya, Rina. Ini rahasia kita berdua."


"Tenang saja, Sanu. Aku tidak akan memberitahu siapapun."


"Sudahlah Rina, aku ingin membuat goal dulu."


Pagi hari, Sanu mulai beraktifitas kembali, memberi pengarahan kepada kelima crew nya untuk berkembang membangun orang. Ilham dan Mila masing-masing punya satu MD. Sanu juga punya satu MD. Tinggal bagaimana memberi semangat kepada crew nya untuk lebih semangat lagi.


Sanu sudah membeli banyak brosur untuk di sebarkan ke semua area masing-masing.


MD barunya Rina yang bernama Esky tidak masuk. Mungkin karena trauma handponenya sempat hilang. Muna dengan sepihak memarahi Sanu karena ketidak hadiran salah satu crew nya.


Muna masih menuding kalau Sanulah yang mengambil Handpone nya Esky. Sanu berusaha tutup kuping dengan ocehannya Muna yang seperti radio rusak itu. Sanu mencoba menahan diri supaya tidak terpancing oleh Muna.


Sanu hari ini pitcing ke arah cakung bersama crew. Tanpa sadar, Muna juga pitcing disana. Mereka bertemu saat turun di stasiun Cakung.


Muna menghampiri Sanu dengan tatapan tajam. "Kamu sudah menyebabkan salah satu crew ku hilang. Sekarang kamu mau merebut teritory ku. Mau kamu apa!"


Muna melipat tangan tersenyum sinis kepada Sanu. "Kamu tidak usah mengelak, Hp saja bisa kamu curi, apalagi teritory."


Sanu pun terbawa emosi dengan ucapannya Muna, tapi Ilham mencoba menenangkan Sanu mengajaknya untuk berjalan berlawanan arah dengan Muna.


"Orang seperti itu tidak usah diladenin, Kak."


"Aku juga malas, Ham. cuman, dia cari gara- gara terus denganku."


Usia Ilham memang lebih tua dari pada Sanu. Tapi, Ilham menghormati Sanu sebagai leader. Walaupun, dia bertahan di sini awalnya karena suka dengan Sanu. Tapi seiring dengan waktu Ilham sadar kalau di sini dia harus serius.


...***...


Siang berlanjut menjadi sore, Sanu dan crew pulang dengan wajah tersenyum. Hari ini mereka semua bisa membuktikan sistem. Walaupun yang trainer tidak maju ke depan, tapi sudah cukup melihat MD mereka maju ke depan mengucapkan kunci sukses. Itu membuat mereka bisa positif di sini.


Kereta arah bekasi menuju Jakarta Kota tiba, Sanu dan yang lain naik menuju ke stasiun Manggarai. Sanu dan crew harus transit menunggu kereta arah Bogor yang biasanya di jam sore sesak penuh penumpang.


Sanu keluar dari stasiun Pasar Minggu, Sanu melihat Bari sedang bercengkrama dengan dua pria tinggi besar memakai pakaian serba hitam. Mata Sanu terfokus memandang Bari dari banyaknya orang yang memadati stasiun. Sepertinya Bari dalam kondisi yang tidak nyaman.


Ingin rasanya Sanu menghampiri Bari, namun, terlalu banyak orang berdesakan membuat Sanu susah berjalan melawan arah di antara banyaknya orang. Ditambah lagi, di harus mengevaluasi crew nya. Tidak mungkin Sanu meninggalkan crew nya di kantor, pak Nazar bisa marah kepadanya nanti.


Sanu naik ke jembatan peyebrangan, dari bawah, manik matanya tidak lepas melihat Bari. Dua orang tinggi besar itu seperti mendesak Bari. Dari kejauhan, Sanu melihat Bari berlari di kejar dua orang itu.


Sanu tidak kuasa melihatnya, dia langsung mengejar Bari melewati desakan para penumpang kereta. Mila dan Ilham berteriak memanggil leadernya itu. Mereka berdua tidak mengerti apa yang terjadi dengan Sanu. Mila dan Ilham pun membuat alasan kepada Ketiga MD nya. tentang Sanu yang mendadak berlari karena bertemu dengan teman lama.


Sanu terus berusaha keluar dari banyaknya kerumunan manusia. Tapi, setelah bisa keluar dia tidak melihat Bari dan dua orang misterius itu. Mereka telah pergi jauh, Sanu terus berjalan mencari Bari. Namun, Sanu kehilangan jejak mereka bertiga.


Matahari mulai betistirahat menyinari Ibu Kota. Jam malam sudah di mulai. Sanu tidak mengevaluasi crew nya, pak Nazar pasti marah dengannya.


Sanu memilih untuk kembali ke kantor. Pak Nazar sudah berada di depan pintu memasang wajah garang, expresi wajah yang jarang sekali di lihat Sanu.


"Kemana saja kamu, Sanu!" bentak pak Nazar.


Sanu hanya menundukan kepalanya dalam-dalam.


"Ilham bilang kamu tiba-tiba berlari tidak jelas meninggalkkan crew kamu. Ingat Sanu, crew kamu sudah banyak, jadi jangan main-main lagi."


Muna dan crew nya datang, terlihat senang melihat Sanu di marahi pak Nazar.


"Sanu habis ketemu Bari pak Nazar!" sahut Muna.


"Diam kamu, Muna! Kamu juga, jam segini baru pulang kantor. Dapat apa kamu lembur sampai ngajak-ngajak crew kamu."


Muna langsung masuk ke dalam dengan wajah cemberut. Niat ingin memojokan Sanu, dia malah kena marah pak Nazar. Sanu masih di luar berhadapan dengan pak Nazar.


"Apa benar yang di katakan Muna?"


Sanu langsung menggeleng mencoba mencari alasan. "Tidak pak Nazar, aku tadi berlari karena melihat teman satu kampung di goda sama pria nakal."


Pak Nazar menatap Sanu tajam. "Aku tau kamu bohong, Sanu. tapi sudahlah, percuma juga menasehatimu. Masuk sana, ikut jam malam."


Sanu bergegas masuk naik ke lantai tiga hendak mengikuti jam malam.