
"Ini rumahnya, Mas?" Bapak paruh baya itu menunjuk rumah berwarna kuning.
Seorang ibu yang memakai kebaya lengkap dengan sanggul menghampiri Bari dan Bapak paruh baya itu.
"Ono opo, Kang. (Ada apa, Pak)?" tanya Ibu itu.
"Niki wonten tamu, Bu Lurah. (Ini ada tamu, Bu Lurah)."
Bari tersenyum tipis, sedikit menundukan badan.
"Nama saya Bari, Bu. Saya mau bertanya gadis yang bernama Sanu."
Bu lurah itu tampak berpikir memegang dagunya. "Sanu ... sepertinya warga sini tidak ada yang bernama Sanu. Mungkin suami saya tau?" Bu Lurah memanggil suaminya yang berada di dalam rumah.
"Opo to, Bu. bengok-bengok, ora elok. (Apa sih, Bu. teriak-teriak tidak baik)," ucap pak Lurah.
"iku ono uwong nyasar golek alamat, ndang di ewangi. (Itu ada orang tersesat cari alamat. cepat dibantu)."
Pak Lurah yang sedang asyik menonton tv dengan kesal menghampiri orang itu.
Bari tersenyum tipis, memandang ramah wajah pak Lurah.
"Silahkan masuk," ucap pak Lurah.
"Kulo pamit riyen, Pak. (Saya pamit dulu, Pak)," ucap pria paruh baya yang menggunakan blangkon itu.
"Monggo, Pak. (Silahkan, Pak)."
Pak lurah duduk di depan Bari. "Adik ini dari mana?"
"Saya dari Ibu Kota."
"Jauh sekali, apa yang Adik cari di kampung terpencil ini."
"Saya cari seseorang yang bernama Sanu, Pak."
"Sanu ... ciri-cirinya seperti apa, Dik?"
"Rambutnya merah keemasan, tapi dia tujuh bulan yang lalu kecelakaan dan mengakibatkan kakinya diamputasi." Bari berkata lirih.
Bu Lurah memberikan teh hangat untuk Bari. "Silahkan diminum, Nak."
Bari mengangguk, tersenyum kepada Bu lurah.
"Di sini tidak ada warga yang adik ceritakan, mungkin di kampung sebelah." Pak Lurah meneguk teh yang di sajikan bu Lurah.
Bari mengibaskan rambutnya ke belakang, terlihat lelah.
"Ini sudah malam, lebih baik Adik bermalam di sini dulu. Besok baru cari lagi."
Bari mengangguk mengucapkan terima kasih kepada pak Lurah.
Di tempat lain , Mira terlihat memarahi anak buahnya yang tidak becus menjaga Bari.
"Percuma aku bayar kalian, kalau kalian tidak bisa menghentikan Brian."
Sepuluh penjaga berbaris dua shaf sambil menundukan kepala. Termasuk Bondan dan Jaka.
"Saya tidak mau tau cari alamat rumahnya Sanu. Aku yakin Bari mencarinya," tegas Mira.
"Siap." Serentak.
"Sebagai hukuman kalian tidak boleh tidur, tetap berbaris seperti ini. Awas kalau ada yang melanggar."
"Siap." Wajah anak buahnya Mira terlihat kecut, mereka harus berdiri di halaman rumah sepanjang malam sambil menahan kantuk.
Pagi tiba, Bari kembali mencari keberadaan Sanu ke desa sebelah. Bari berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada ibu dan Bapak Lurah karena telah berbaik hati kepadanya.
Bari melanjutkan pencariannya, bertanya kepada orang, menemui perangkat desa. Tapi tetap tidak ada yang tau keberadaan Sanu. Hingga siang Bari mampir di warung kopi untuk melepas penat.
Terdengar suara orang sedang menawarkan terapi gratis. Bari menoleh ke belakang. Itu Eko dan Agus, Bari segera memanggil mereka.
"Kak Bari ...!" balas mereka berdua. Eko dan Agus tidak menyangka akan bertemu Bari di tempat ini.
"Kak Bari kok ada di sini?" tanya Eko.
"Aku sedang mencari Sanu."
Eko dan Agus tekekeh.
"Kampungnya kak Sanu tidak di sini, Kak!"
"Kalian tau kampungnya?" tanya Bari.
Mereka berdua mengangguk.
"Antar saya ke kampungnya Sanu."
"Waduh, Kak. Kita sudah zero tiga hari, kalau hari ini zero lagi disuruh pulang sama kak Dara nanti," ucap Agus.
"Sudah tenang, alat kalian nanti aku yang beli."
Agus dan Eko mngangguk dengan sumringah mengantar Bari ke kampungnya Sanu.
"Kita naik apa?" tanya Bari.
Bari pun bergegas memesan mobil online.
"Kira-kira berapa lama kita sampai ke desanya Sanu? tanya Bari saat ada di perbatasan desa.
"kurang tau kak kalau dari sini," jawab Eko.
Mobil online pesanan Bari datang.
"Ke kampung Puri, Pak." Eko menunjukan loksinya. mereka bertiga masuk mobil. Bari duduk di samping supir. Sedangkan Eko dan Agus berada di jok belakang.
Pak supir menyalakan google mabs nya. Empat puluh menit perjalanan menuju kampungnya Sanu. Melewati hutan lebat dengan jalanan yang berkelok.
"Kita tidak menyangka bisa bertemu dengan Kak Bari di sini," ucap Agus.
Bari hanya tersenyum.
"Kak Bari kenapa tidak menghubungi kita?" tanya Eko.
"Nomor kontak kalian hilang semua. Ini saja aku kabur dari rumah."
"Hahhh ...! Kabur?!" Seru Eko dan Agus bersamaan.
Bari mengangguk
Empat puluh menit perjalanan mobil berhenti di desa Puri. Mereka bertiga turun dari mobil.
"Ini Kampungnya, Kak!" seru Eko.
"Dimana rumahnya?" tanya Bari
"Ada di ujung dekat balai desa," ucap Agus.
Bari mengikuti langkah Agus dan Eko. Bari sesekali memperhatikan warga kampung yang terlihat ramah menyambutnya.
"Assalamualaikum ...!"
"walaikum salam ...," jawab Sanu yang berada di dalam warung.
"Eko, Agus ...kalian ...." Sanu tampak heran melihat Eko dan Agus nyengir ke arahnya.
"Kita punya kejutan untuk Kak Sanu," ucap Agus.
"Halah ... paling cuman alasan. Kalian kesini pasti ingin makan, kan?"
Eko dan Agus bersiul memanggil seseorang. Bari datang memakai topi biru pemberian dari Sanu.
Sanu terbelalak menutup mulutnya, dia tidak percaya kalau Bari menemuinya.
Bari menatap Sanu dengan napas terengah, melebarkan bibirnya, matanya bekaca-kaca.
"Lama tidak jumpa, Sanu." Berkata Bari dengan suara parau.
Sanu yang melihat Bari sudah menangis tidak bisa berkata-kata lagi. Sanu hanya bisa mengangguk.
Bari mendekati Sanu, memegang wajah Sanu dengan lembut.
"Maafkan Aku, Sanu?"
Sanu masih menangis haru, menggeleng kepalanya. Mereka berdua saling berpelukan melepas rindu.
"Aku pikir kamu tidak akan menemuiku," kali inu Sanu berbicara dengan suara serak.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Sanu. Aku sudah mengingat semuanya," ucap Bari.
Mereka berdua melepas pelukannya, Bari menyeka pipi Sanu, lalu saling menatap penuh arti.
Nurjanah yang mendengar suara terisak pun keluar melihat Sanu dengan seorang pria.
"Sanu ... siapa dia?"
Sanu dan Bari menoleh memperbaiki posisinya menghadap Nurjanah.
"Ini tunangannya Sanu, Bu. Namanya Brian Atmaja."
Nurjanah menatap Bari. "Kamu ... anaknya bu Mira?"
Bari mengangguk tersenyum kepada Nurjanah. "Benar, Bu."
Nurjanah tersenyum melihat Bari, dia bisa merasakan kalau Bari adalah pria yang baik.
"Sanu ajak masuk Nak Bari, Ibu mau berbicara dengannya."
Bari dan Sanu saling menatap, mengangguk masuk ke dalam rumah.
Nurjanah mempersilahkan duduk Bari.
"Mohon maaf, Nak Bari. Bukannya Ibu tidak merestui hubungan kalian. Tapi dengan kondisi Sanu seperti ini apa Nak Bari bisa menerimanya?"
"Saya Tulus mencintai anak Ibu bagaimanapun keadaannya. Seandainya saya berada di posisi Sanu, saya yakin Sanu juga berbuat hal yang sama."
Bersambung ...