Sanubari

Sanubari
Pengakuan.



malam hari para leader sedang di halaman belakang. Mereka sedang melakukan acara bakar ikan bersama. Sanu memilih menyendiri duduk di tepi kolam renang. Memandangi bulan sabit yang begitu indah.


Bari masih mengobrol dengan pak Hasan di ruang meeting. Sejenak manik mata Bari melirik ke arah jendela yang terbuka melihat Sanu sedang duduk sendiri di kolam renang.


Bari ingin sekali menemani Sanu, tapi dia masih banyak urusan yang harus diselesaikan.


Muna yang hendak ke kamar kecil melihat Sanu duduk melamun di kolam renang.


"Ngapain gadis murahan itu duduk sendirian di kolam."


Muna pun mndapat ide untuk mendorong Sanu supaya dia masuk kedalam air kolam. Muna mengendap berjalan pelan. Sanu tidak menyadari keberadaan Muna. Dengan Satu dorongan Sanu jatuh ke dalam kolam. Muna dengan seribu langkah berlari menghilangkan jejak lalu bersembunyi di balik dinding.


"Biar mampus," ucap Muna.


Sanu sekuat tenaga berusaha minta tolong. Sanu tidak bisa berenang. Sanu mengepak-ngepakan tangan supaya ada orang yang mendengar suara gemuruh air. Tidak ada orang satupun di sini. Sanu sudah menelan air terlalu banyak, tenaganya mulai habis.


Bari yang melihat Sanu jatuh ke dalam kolam, segera berlari menyelamatkan Sanu. Tanpa pikir panjang Bari menyelamatkan Sanu yang sudah mulai tenggelam. Bari menyeret tubuh Sanu ke tepi kolam, tubuhnya mulai membiru. Bari mencoba menekan bagian atas dada Sanu supaya dia tersadar.


Sanu belum juga sadar, Bari akhirnya memberi bantuan napas buatan dari mulut ke mulut. Bari mengambil napas dalam-dalam lalu di tiupkan ke mulut Sanu. Begitu seterusnya, hingga Sanu tersadar.


Sanu terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya.


"Kak Bari ...." Sanu spontan memeluk Bari sambil menangis.


"Tenang, Sanu. Ada aku di sini," bisik Bari.


Sanu melepas pelukannya, berusaha untuk berdiri. Bari memapah Sanu sampai ke kamarnya.


Muna yang melihat kejadian itu merasa kesal menghentakan kakinya ke tanah. Rencananya untuk mencelakai Sanu kembali gagal.


Rina yang mendengar Sanu tenggelam segera menuju ke kamar melihat keadaan Sanu.


"Sanu ..." Rina melihat ada Bari dengan pakaian basah ada di kamar Sanu dan Rina.


"Hey Rina, lama tidak bertemu," sapa Bari.


Rina tampak canggung menyapa Bari. Bagaimanapun juga Bari yang dulu berbeda dari Bari yang sekarang.


"Tolong Sanu ya, Rina. Dia sepertinya membutuhkan teman."


Rina masih menatap Bari lamat-lamat. "Apa kamu yang menyelamatkan Sanu."


Bari mengangguk sambil tersenyum kepada Rina.


"Terima kasih," ucap Rina.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Rina." Bari menutup pintu kamar


Sanu masih dalam kondisi lemah, Rina menggantikan baju Sanu supaya tidak kedinginan lalu merebahkannya di atas kasur.


"Apakah kak Bari sudah pergi, Rina?" tanya Sanu lirih.


Rina mengangguk, "Bagaimana kamu bisa tenggelam, Sanu?"


"Tidak tau, Rina. Seperti ada yang mendorongku dari belakang."


"Kamu tidak melihat orangnya?"


"Bagaimana aku bisa melihat orangnya saat aku sibuk menyelamatkan diri. Untung saja ada kak Bari, kalau tidak, mungkin aku tidak bisa melihatmu lagi, Rina."


"Jangan berkata seperti itu, Sanu."


Sanu tersenyum simpul.


"Kamu istirahat dulu saja. Jangan banyak bicara, badanmu masih lemah."


Sedang di luar para leader penasaran ingin melihat keadaan Sanu. Bari mencoba menenangkan mereka bahwa Sanu tidak apa-apa hanya butuh istirahat saja. Bari melakukannya supaya keadaan tetap kondusif.


Bari segera memberi tahu pak Hasan tentang kejadian ini. Pak Hasan pun menganggil Muna yang sedang berada di kamarnya.


Muna ke ruang meeting menemui pak Hasan. Wajah Muna terlihat pucat. Di sana juga ada Bari duduk disamping pak Hasan.


"Duduk," ucap pak Hasan.


Muna duduk dengan kepala tertunduk. Sepertinya Muna sudah tau kenapa dia dipanggil pak Hasan.


"Kamu tau, kan. Kenapa saya memanggilmu kesini?"


Muna menggeleng pelan.


"Kenapa kamu mau mencelakai Sanu?" tanya pak Hasan langsung.


Muna menghela napas sambil menangis dia menceritakan kenapa dia benci dengan Sanu.


"Dia telah merebut semua dariku. Perhatian pak Nazar, perhatian Bari bahkan crew ku sendiri lebih membela Sanu dari pada aku."


"Itu karena kamu selalu menang sendiri, Muna!" hardik Bari.


Muna menatap tajam Bari. "Itu semua gara-gara kamu. Sejak awal mengenalmu aku selalu memberikan perhatianku kepadamu. Tapi, kamu tidak pernah membalasnya, kamu malah sibuk dengan duniamu sendiri. Apalagi sejak Sanu datang ke kantor, kamu lebih memperhatikan Sanu dari pada aku. Pak Nazar pun demikian. Semua berubah semenjak ada Sanu."


Muna menggebrak meja, sambil menangis dia berlari keluar dari ruang meeting. Beberapa orang melihatnya. Muna tidak menuju kamar. Dia malah keluar hotel, entah mau kemana.


Pak Hasan memberi tau leader yang lainnya untuk mencari Muna. Bari dan pak Nazar pun ikut mencari di sekitaran hotel.


"Sepertinya Muna tidak ada di sini," ucap Bari kepada pak Nazar.


"Kita cari ke pantai."


Bari mengangguk.


Pantai begitu gelap, air laut pun sedang pasang. Bari dan pak Nazar menyalahkan center hp supaya lebih mudah mencari Muna.


Terlihat seorang duduk menelingkup di atas perahu kecil yang sedang berlabuh. pak Nazar dan Bari menghampiri orang itu. Semakin dekat memandang, ternyata Muna yang sedang menangis.


"Muna kamu ngapain di sini. Nanti kamu masuk angin lho," tegur pak Nazar.


"Pergi kalian!" bentak Muna sambil berdiri.


Pak Nazar dan Bari mendekat perlahan. Muna terus mundur selangkah demi selangkah.


"Kita bisa bicarakan baik-baik, Muna, ucap Bari.


"Diam kamu! Aku benci kamu ada di sini. Kamu hanya bisa mementingkan dirimu tanpa memikirkan perasaan orang lain."


Bari juga tidak tau kalau Muna menyukainya. Dia mengira perhatian Muna dulu itu hanya perhatian teman biasa saja.


Muna terus mundur tanpa melihat kebelakang, tanpa tau di belakang ada lubang yang belum di beri papan penyanggga. Muna pun terperosok kedalam lubang perahu. Dia menjerit mengerang kesakitan. Pak Nazar dan Bari segera menolong Muna.


Muna terlihat kesakitan memegangi kaki kirinya.


"Sepertinya kakinya patah." Bari segera membopong Muna sampai ke hotel di bantu leader lainnya.


Orang-orang menuju kamarnya Muna penasaran apa yang terjadi. Termasuk Rina yang mendengar keramaian dari kamar sebelah. Sanu kebetulan sudah tertidur pulas.


Rina pun melihat apa yang terjadi. Ternyata leadernya sedang mengerang kesakitan.


"Kak Muna kenapa?"


"Ach ...!" teriak Muna.


Pak Nazar memberi obat oles untuk meringankan sakitnya. Tentu saja itu tidak berhasil, justru Muna semakin berteriak kencang.