Sanubari

Sanubari
Dara dijemput.



selesai menonton film, mereka berempat mengisi perut di sebuah outlet KFC sambil membicarakan tentang film yang habis di tonton tadi. Mereka begitu antusias bercerita, tapi tidak dengan Sanu, bagi Sanu film nya biasa-biasa saja. Dia lebih memilih menghabiskan milk shake yang ada di meja makannya.


"Hey, Sanu. Kenapa kamu diam saja?" tanya Rina.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan," jawab Sanu.


"Kita sedang membicarakan film yang kita tonton tadi, Sanu. Film nya begitu bagus, menggugugah perasaan," ucap Rina.


"Itu bagi kalian, kalau bagiku biasa saja. Aku heran kenapa kalian bisa menangis hanya karena menonton film?"


"Ya karena film nya mengaduk-aduk perasaan, Kak Sanu," sahut Dara.


"Kalian aneh," cibir Sanu.


"Kamu yang aneh, Sanu. Kita semua di sini merasa terbawa dengan alur ceritanya. Tapi, kamu hanya memasang wajah datar," ucap Rina.


Sanu mendengus kesal. Sanu tidak mau lagi pergi ke bioskop. ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Sanu lebih suka berada di area luar dari pada duduk di dalam ruangan.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Aku belum membersihkan kost, mencuci dan sebagainya," ucap Sanu.


Cuaca di luar hujan deras, mereka berempat tidak tau kalau hujan karena seharian ada di dalam Mall. Entah kenapa Sanu mulai menyukai hujan. Sanu teringat saat di Kota Tua bertemu dengan bari saat hujan. Saat itu Bari juga memberikan kalung yang selalu di pakai di leher Sanu.


"Kita masuk lagi, yuk?" ajak Elfa.


"Buat apa, Elfa. kita sudah seharian berada di mall ini," protes Sanu.


"Dari pada kita di sini kedinginan, lebih baik kita bermain game yang ada di Mall ini," ucap Elfa.


Dara dan Rina mengangguk setuju. "Itu ide yang bagus Elfa."


Sanu dengan jengah terpaksa mengikuti mereka bertiga. Mereka kembali naik ke lantai dua, membeli kartu bermain game yang ada di sana. Mereka bermain game yang bertuliskan time zone.


Banyak permainan yang ada disana, Dara dan Elfa berusaha mengambil boneka dari mesin pengambil. Beberapa kali Dara dan Elfa tidak bisa mengambilnya. Sanu yang melihatnya menjadi gregetan, dia ingin mencobanya. Kalau dilihat terlihat mudah memang tapi jika di dicoba begitu susah. Sanu semakin penasaran dengan permainan ini. Dia kembali mengisi kartu trip permainan. Sedari tadi Sanu belum bisa mengambil boneka dari kotak kaca itu.


Dara dan Elfa menertawakan Sanu, karena dari tadi Sanu tidak bisa mengambil satupun boneka yang ada di dalam kotak kaca itu. Semakin Sanu mencoba semakin gagal dia mendapatkan boneka itu.


"Sudahlah Kak Sanu, menyerah saja," ucap Dara.


"Tidak, aku harus bisa mendapatkan salah satu boneka itu."


Rina yang melihat Sanu begitu terobsesi menegurnya.


"Sanu, sudahlah. Ayo kita pulang hari sudah malam? Katanya kamu ingin membersihkan kost dan mencuci baju."


"Sebentar lagi, Rina." Sanu begitu penasaran ingin mengalahkan permainan ini. Tanpa sadar uang Sanu sudah dihabiskan untuk bermain mengambil boneka dari kota kaca itu.


"Kaka Sanu aneh, katanya tadi tidak mau, sekarang malah diajak pulang dia yang tidak mau," bisik Elfa kepada Dara.


Dara menempelkan jari telunjuk ke mulutnya.


Rina menghela napas dalam-dalam. "Hey, Sanu! Ayo pulang."


Saldo kartu tripnya Sanu pun habis, Sanu akhirnya menyerah, dia gagal membawa satu pun boneka. Sanu menunduk lesu karena uang sudah habis untuk bermain time zone.


"Makanya Sanu, lain kali jangan terlalu berambisi, aku lihat cara bermainmu itu sangat tergesa-gesa."


"Percuma kamu menasehatiku, Rina. Uangku sudah habis."


"Kak Rina, boneka siapa itu?" tanya Dara yang melihat boneka kecil berada di tangan Rina.


"Tadi aku juga iseng mencoba permainan itu, mungkin ini hari keberuntunganku," jawab Rina.


"Wah ... Kak Rina hebat, bisa dapat boneka!" seru Elfa.


Rina tersenyum menatap Elfa.


Sanu semakin tersudut, Rina yang hanya sekali mencoba bisa dapat mengambil boneka. Sedangkan Sanu, sudah puluhan kali mencoba tapi dia selalu gagal.


...***...


Mereka berdua berangkat bersama menuju kantor. Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya memakai setelan dres panjang memanggil nama Dara.


"Bulek!"


perempuan paruh baya itu menghampiri Dara.


"Ada apa Bulek kesini?" tanya Dara.


Perempuan paruh baya itu menggelengkan kepala sambil melipat tangannya di dada.


"Bulek ingin mengajakmu pulang, Dara. apa yang harus Bulek katakan kepada Ibumu kalau kamu di sini bekerja sebagai sales."


'Dara tidak mau, Bulek. Dara senang ada di sini," bantah Dara.


"Kamu sudah berani membantah Bulekmu." kali ini perempuan paruh baya itu bertolak pinggang sambil melotot menatap Dara.


Dara tertunduk dalam-dalam.


"Ayo pulang Dara, atau Bulek akan beritau ibu kamu."


Dara tidak bisa menolak lagi, kalau sampai ibu Dara yang ada di Solo tau kalau Dara kerja di lapangan. Ibunya akan menyuruh Dara pulang kampung. Dara dengan wajah tertunduk ikut buleknya pulang.


Sanu menatap Dara memegang lembut pundaknya, menatap Dara penuh arti.


Dara tersenyum, memegang tangan Sanu. "Aku akan kembali, Kak Sanu. Dara janji."


Sanu tersenyum haru. "Aku tunggu, Dara."


Dara dengan langkah perlahan pergi meninggalkan Sanu.


Sanu melanjutkan perjalanan memberitahu kepada pak Nazar kalau Dara disuruh pulang oleh buleknya.


"Kenapa kamu tidak membuka pola pikir buleknya itu," ucap Pak Nazar.


"Tidak bisa Pak Nazar, buleknya Dara sudah tau sebenarnya perusahaan kita. Dari pakaiannya beliau itu orang berpendidikan."


Pak Nazar menghela napas. Menyerahkan urusan ini kepada Sanu.


"Semua keputusan ada di tangan Dara, kamu berdoa saja, mudah-mudahan Dara bisa kembali lagi kesini."


Sanu mengangguk, "Dara bilang dia akan kembali."


"Amiin," ucap Pak Nazar.


Sanu naik ke lantai tiga.


Rina dan Elfa pun menanyakan kemana Dara hari ini.


"Dara diajak pulang sama buleknya."


"Sabar ya, Sanu. Kita berdoa untuk Dara semoga secepatnya bisa bergabung dengan kita lagi."


Sanu mengangguk, tersenyum kepada Rina.


Sanu seperti biasa, pitcing bersama Eko dan Agus. Mereka berdua pun menanyakan keberadaan Dara. Tapi kali ini Sanu tidak menjawab pertanyaan mereka berdua. Sebab, mereka masih MD. belum saatnya tau urusan trainer dan leader.


"Ayolah Kak Sanu, beritahu dimana Kak Dara, mungkin kita bisa membantu," bujuk Eko.


"Lebih baik kalian berdua fokus saja jadi trainer."


"Tadi pagi kita melihat kak Dara bersama seorang perempuan," ucap Eko tersenyum nyengir.


Sanu menghentikan langkahnya, menatap Agus dan Eko.


Agus dan Eko pun tersenyum. Sanu terpaksa menceritakan kejadian ini kepada mereka berdua.


Bersambung ...