
Esok hari, Sanu berangkat beriringan dengan Rina. Ketiga MD Sanu dipastikan tidak masuk kerja. Pak Nazar bertanya kepada Sanu tentang MD nya. Sanu menjawab katanya kurang enak badan. Pak Nazar memanggil Sanu dan Muna ke ruang onservasi untuk membahas masalah ini. Kebetulan hari ini tidak ada anak baru.
"Muna! Kamu ini di suruh bantu crew nya Sanu, malah pitcing sendiri. Kamu niat gak sih." Pak Nazar memandang geram muna.
"siap Pak Nazar."
"Ini pelajaran buat kamu, Sanu. Lain kali urusan pribadi jangan bawa ke lapangan."
"siap Pak Nazar."
"Kemungkinan besar MD kamu bakalan keluar, tapi kamu tetap perhatikan terus di wa ditelpon."
"Siap Pak Nazar."
"Ya sudah, kembali ke lantai tiga," ucap pak Nazar.
Muna menghampiri Sanu yang berjalan di depannya.
"Makanya bangun orang yang bener, jangan perasaannya saja yang di gedein."
Ingin rasanya Sanu menjambak rambutnya Muna, tapi dia mengurungkannya karena Sanu tidak ingin terbawa emosi.
Flas Back on.
MD Sanu bernama Ika, Ana dan Lukman. Mereka masih polos, belum mengerti tentang arah bisnis ini. Hari ini mereka hendak pitcing dengan Muna karena leadernya sedang bermasalah.
"Kita mau pitcing kemana, Kak?" tanya Lukman.
"Ikut saja Jangan banyak tanya."
Ketiga MD itu saling pandang berjalan mengekor di belakang Muna. Muna mengajak naik Kopaja menuju daerah Cipulir. Turun di pasar mencari Masjid untuk tempat persiapan.
Ketiga MD itu tampak rajin mempersiapkan kertas castamer list. Berbeda dengan MD nya Muna yang harus di bentak dulu saat hendak kelapangan. Muna sangat iri dengan Sanu. Dia menganggap, Sanu selalu beruntung sebab mendapatkan crew yang bagus.
Muna pun berencana mempengaruhi ketiga MD itu.
"Kalian kok mau sih, kerja di lapangan?" tanya Muna.
"Gimana ya Kak, kalau masalah hasil sih ... lumayan juga, setiap hari megang duit. Tapi akhir-akhir ini kita jarang membuktikan hukum rata-rata." Jelas Ana yang sedikit comel.
"Kalian tau, kan. Leader kalian galau ditinggal pacarnya."
"Denger-denger sih, Kak. Kak Sanu pacarnya kak Bari."
"Terus kenapa kalian tetap kerja di sini. Mending kalian cari kerja yang lain. Aku saja yang sudah punya banyak crew tidak dapat apa-apa di sini. Malahan utangku banyak di receptionist."
"Lha ... kok gitu."
"Lha iya ... karena setiap hari aku selalu memberi ongkos pulang kepada MD ku."
"Kok kita tidak pernah diberi ongkos pulang sama Kak Sanu ya?" tanya Ika.
"Itu karena leadermu pelit, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kalian tau gak, tiap malam leader kamu itu selalu mentraktir pacarnya."
Ketiga MD itu saling menatap satu sama lain.
"Dari pada kalian kerja di sini tidak dapat gaji, mending cari kerja yang pasti-pasti saja. Mumpung masih muda."
"Terus kenapa kak Muna masih bertahan di sini?" tanya Lukman.
"Aku sebentar lagi juga mau keluar, nunggu waktu yang tepat. Capek selama dua tahun kerja tidak dibayar."
Ketiga MD itu pun menerima mentah-mentah ucapan Muna. Mereka terlihat berembuk satu sama lain. Sepertinya rencana Muna berhasil. Ketiga MD itu memilih tidak pitcing karena ucapannya Muna itu.
"Ya sudah kalau tidak mau pitcing. Tapi, jangan ceritakan siapa-siapa ya, tentang rahasia ini."
Sore harinya Muna kembali ke Masjid tempat melakukan persiapan. Ketiga MD itu sudah tidak ada di tempat. Muna tertawa lepas merayakan keberhasilannya mempengaruhi ketiga MD itu.
"Biar mampus," ucap Muna.
Flas Back Off.
Sanu memberi intruksi kepada Mila dan Ilham agar segera menelpone MD nya masing-masing untuk tetap semangat.
Malam semakin larut, seharian Sanu berkutat dengan pikirannya sendiri. Masalah satu belum selesai timbul masalah yang baru. Malam ini ketiga MD memutuskan untuk keluar. Sanu tidak bisa berbuat banyak dengan keputusan mereka bertiga. Mau tidak mau Sanu harus merelakannya.
Semenjak Bari pergi, Masalah yang selalu Sanu hadapi semakin pelik. Kini dia hanya punya dua trainer. Masih bisa bangun crew lagi memang, tapi dengan kondisi Sanu yang masih belum stabil sangat sulit untuk mendapatkan crew.
"Hey Sanu, kamu tidak makan lagi?"
Sanu menggeleng sambil menyirami bunga melati kecil yang ada di meja.
"Lihatlah, Sanu. Tubuhmu semakin kurus. Untung saja kamu tinggi, coba kalau kecil sepertiku. Bari tidak akan melirikmu."
"Mau bagaimana lagi, Rina. Aku tidak ada uang."
"Kan bisa berhutang dulu? Aku saja malam ini berhutang sama Budhe."
"Aku masih kuat, Rina?"
"Ya ... terserah kamu lah, Sanu. Aku mau tidur, jangan lupa nanti pintu ditutup."
Sanu belum mengantuk, entah mengapa hatinya resah Malam ini. Sanu memutuskan keluar, menuju jembatan melihat aliran sungai Ibu Kota yang terlihat keruh. Melihat riuhnya Ibu Kota yang selalu padat dengan suara klakson kendaraan mengantri di jalan.
Tiba-tiba dua orang tinggi besar memakai pakaian serba hitam melintas di belakang Sanu. Itu kan orang yang mengejar Bari saat di stasiun. Sanu pun mengikuti dua orang itu. Dua orang itu menunggu ke kostnya Bari, membuka pintu kost. Sanu terkejut, berbagai pertanyaan muncul di benak Sanu. Siapa dua orang itu? Dari mana mereka mendapat kunci kost nya Bari?
Dua orang tinggi besar itu mengambil Barang seadanya di kost nya Bari. Sanu memberanikan dirinya mencegah orang itu di jalan.
Dua orang tinggi besar alias Bondan dan Jaka itu berhenti saat Sanu berdiri di depannya.
"Siapa kamu?" tanya Bondan.
"Harusnya aku yang bertanya dengan kalian.Dari mana kalian dapat kunci kost nya Bari."
"Siapa itu Bari?" tanya Jaka.
"Penghuni kost itu, kalian pencuri ya?" Sanu pun berteriak sekuat tenaga. Tapi Bondan segera menyumpal mulut Sanu hingga suara Sanu tertahan di kerongkongan.
Dengan cepat Jaka memukul leher belakang Sanu yang membuatnya pingsan. Bondan meletakkan tubuh Sanu di teras rumah warga setempat.
"Ayo kabur ... sebelum ada yang melihat." Bondan dan Jaka segera kabur menghilangkan jejak.
Sanu teridur besandarkan tiang rumah warga yang bediri kokoh. Seorang wanita paruh baya tidak sengaja melihat Sanu tertidur lalu membangunkan Sanu.
Sanu melihat samar wanita paruh baya itu, kepala terasa pusing.
"Kenapa kamu tidur di sini, Nak?"
"Dimana ini?" Sanu terlihat bingung memegang kepalanya dengan satu tangannya.
Wanita paruh baya itu membantu Sanu berdiri. Sanu baru teringat dua orang tinggi besar yang membekap dan memukul Sanu dari belakang.
"Dimana dua orang berbadan besar itu."
"Tenangkan dirimu, Nak." wanita paruh baya itu memegang pundak Sanu menyuruhnya duduk. Ternyata Sanu masih berada di tempat yang sama. Sanu mencoba menenangkan dirinya.
Wanita paruh baya itu memberikan air mineral kepada Sanu. Dengan senang hati Sanu menerimanya mengucapkan terima kasih kepada wanita paruh baya itu.