Sanubari

Sanubari
Bunga Melati.



Sanu takjub melihat bunga yang bermekaran penuh warna-warni. Sanu teringat kampungnya yang setiap pekarangan rumah ditanami bunga.


"Kamu suka bunga apa, Sanu?"


"Aku suka melati?" Sanu menghirup bunga melati yang bermekaran di taman bunga.


"Kenapa, Sanu?"


"Karena bunga melati melambangkan kesucian hati. Di kampungku banyak ditanam bunga melati."


Bari tersenyum tipis mendengar penjelasan Sanu.


"Bolehlah aku mengambil satu petik bunga melati di sini?"


"Jangan, Sanu. Nanti kita bakal kena marah sama petugas."


Seorang Bapak tua memakai caping dan membawa cangkul mendekati Sanu dan Bari.


"Hay, Nak?" Aku dengar kamu ingin memetik bunga melati ini?"


Sanu tersenyum sambil mengangguk kepada bapak tua itu. "Iya, Kakek. Buat kenang-kenangan."


"Ambillah, Nak."


"Terima kasih, Kakek? Aku janji akan memelihara bunga melati ini dengan baik." Sanu memetik setangkai melati untuk di jadikan hiasan di kamar kost nya."


Bari menundukan setengah badan berterima kasih kepada kakek penjaga kebun itu. Sanu dan Bari meneruskan melihat warna bunga hingga Sore tiba.


Sanu dan Bari pulang menaiki angkutan umum. Di perjalanan terlihat Muna dan Rina sedang menunggu angkutan umum menuju arah yang sama. Supir memberhentikan angkutan umumnya. Muna dan Rina naik melihat Sanu dan Bari duduk di belakang saling berhadapan.


"Cieee ... yang jalan bareng," ucap Muna dengan nada Mengejek.


Sanu tidak menghiraukan ucapan Muna, dia malah bertanya kepada Rina.


"Bagaimana hari ini, Rina?"


Rina mengeleng tidak semangat. Sanu sudah mengerti jawaban dari Rina.


"Heh ... aku sedang berbicara dengan kamu, bisa tidak menghargai seniormu." Muna menatap tajam Sanu.


"Muna! Jangan buat masalah di sini, bisa tidak!' sergah Bari.


Muna tertawa menutup mulutnya. "Sang raja membela permaisuri yang tersakiti. Dasar racun!" umpat Muna kepada Bari dan Sanu.


Bari sudah tidak tahan dengan hinaan Muna. Bari mengajak Sanu turun di tengah jalan dari pada harus melayani omongan Muna. Dari kejauhan Muna tersenyum sinis kepada Bari dan Sanu.


Wajah Sanu terlihat sedih. Bari mengajaknya duduk di sebuah halte yang tidak jauh dari tempat mereka berdua.


"Tenang, Sanu. Jangan dihiraukan ucapan Muna."


Sanu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Kak. Tenang saja."


"O iya, katanya kamu ingin ke kantor post? Itu di depan ada kantor post. kelihatannya masih buka."


Bari dan Sanu menyebrang jalan sambil bergandengan tangan menuju kantor post.


Sanu masuk ke ruang kerja, sedang Bari menunggu Sanu di luar. lima belas menit Sanu keluar kantor.


"Sudah Sanu?"


"Sudah, Kak." Sanu mengangguk.


Bari kembali memegang tangan Sanu, Sanu sedikit malu tapi dia tetap mengeratkan pegangan tangannya. Ada rasa indah di hati Sanu saat Bari memegang tangannya. Sanu merasa aman jika selalu ada Bari di sisinya. Sanu mulai memahami perasaannya kalau dia sedang jatuh cinta dengan Bari. Semoga Perhatian yang diberikan Bari tulus untuknya.


"Kita tunggu angkot di sini, Sanu." Bari menunggu angkot di dekat halte.


Angkot warna Merah datang menuju pasar minggu. Bari dan Sanu pulang di jam sore yang penuh dengan kemacetan. Padahal ini hari Libur. Tapi, Jalanan Ibu Kota tetap saja di penuhi dengan kendaraan yang berdesakkan.


Bari dan Sanu pulang kala matahari menutup sinarnya. Suara Adzan magrib mulai berkumandang. Wajah Sanu terlihat lelah, tapi dia juga gembira bisa jalan dengan Bari. Sanu tidak bisa mengelak lagi tentang perasaannya.


Bari mengantarkan Sanu sampai ke depan kost. Melambaikan tangan. Sanu membalas lambaian Bari dengan senyum manisnya.


"Ceklak ..." Sanu membuka pintu membawakan nasi bungkus untuk Rina.


"Belum, Sanu. Hari ini aku zero, tidak punya uang untuk beli makanan."


"Ini makanlah, Rina? Aku bawakan nasi bungkus untukmu."


"Terima kasih, Sanu. Kamu memang teman terbaikku." Rina tampak tidak serius mengatakan hal itu. Sanu juga tau kalau Rina hanya ingin menyenangkan hatinya.


"Aku lihat kamu semakin akrab dengan, kak Bari."


"Namanya juga satu tim, harus akrab, Rina." Sanu beralasan.


"Benarkah, tapi yang aku lihat keakraban kalian itu beda. Seperti sepasang kekasih."


"Itu hanya perasaanmu, Rina."


Rina mengangkat bahunya. "Mudah-mudahan itu benar, Sanu."


"Hey, Rina. Kalau makan jangan sambil bicara. Nanti kamu tersedak."


Sanu terlihat menaruh setangkai melati di vas yang berisi air lalu menaruhnya di meja.


"Hey, Sanu. Kenapa kamu menaruh bunga di sini. Bunga itu tidak akan bertahan lama."


"Tidak, Rina. Aku tau cara menanamnya. Bunga melati ini tumbuh subur di kampungku."


"Ya sudahlah, aku mau mandi."


Pagi hari telah tiba, Sanu mulai membuka mata untuk melanjutkan perjuangannya proses di lapangan.


"Rina, cepat mandi. Kalau kamu tidak bangun aku yang akan mandi terlebih dulu."


"Hmmm ... kamu mandi terlebih dulu saja, aku masih ngantuk," ucap Rina dengan nada malas.


Sepertinya Rina kecapean karena hari liburnya di buat untuk kerja. Sanu pun mandi terlebih dulu. setengah jam berlalu Sanu masih ada di kamar mandi. Rina masih menikmati tidurnya. Tak berselang lama Sanu keluar mendapati Rina yang masih tertidur pulas.


"Bangun, Rina. Aku sudah selesai mandi."


Rina memaksa menggerakan tubuhnya dengan rambut berantakan dan mata yang belum siap terbangun.


"Cepetan mandi, Rina. Nanti kamu terlambat."


"Kamu berangkat duluan saja, Sanu. Nanti aku nyusul. ucap Rina dari dalam kamar mandi.


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Jangan lupa nanti pintu kost dikunci."


Sanu pun berangkat ke kantor sendirian, masih belum terlambat. Di depan kantor tidak ada pak Nazar, Sanu naik ke lantai atas, disana sudah ada pak Nazar dan Muna. Sanu menghampiri mereka berdua melakukan tos tangan.


"Duduk, Sanu."


Sanu duduk bersila didepan pak Nazar.


"Sanu, kalau kamu mau jadi manager jangan pacaran dulu, Sanu."


Sanu sekejap menatap tajam pak Nazar lalu menunduk.


"Di sini sudah sering terjadi, Sanu. Tidak ada satupun orang yang pacaran sukses jadi manager. Kalau kamu ingin jadi manager tahan dulu keinginanmu."


"Siap, Pak Nazar," ucap Sanu lirih


Bari datang melihat wajah Sanu terlihat murung. Bari duduk mengikuti perintah pak Nazar.


"Bari, kamu sudah trainer. Kamu tau harus bagaimana menjadi trainer. Jangan keterusan menggoda trainer baru."


Bari tau arah pembicaraan pak Nazar. Bari juga tau siapa yang mengadu ke pak Nazar. Pasti muna telah berbicara tentang kejadian kemarin sore.


Muna tersenyum licik melihat wajah masam Bari dan Sanu.


"Sanu ... Bari, fokus jangan pacaran dulu."


"Siap pak Nazar." ucap Bari dan Sanu bersamaan.


Gosip kedekatan Sanu dan Bari dengan cepat menyebar ke satu kantor. Anak-anak pitcing yang lain mulai memandang Sanu dan Bari sebelah mata. Karena dianggap tidak serius proses di lapangan.