Sanubari

Sanubari
Terima kasih, Dok.



"Bu Nur?"


"Dokter Latif ... baru datang ...?"


Dokter Latif mengangguk. "Hey, Clara ...? Ceria sekali kamu hari ini."


Clara tersenyum malu, bersembunyi di belakang Sanu.


"O iya ... Kenalkan, ini anak Ibu, namanya Sanu."


Dokter latif mengulurkan tangannya, Sanu pun membalas uluran tangan dokter latif, mereka berdua bersalaman.


"Jadi ini anaknya Bu Nur yang kerja di Ibu Kota itu?"


"Betul," jawab Nurjanah.


"Cantik sekali anaknya Bu Nur."


Sanu tersenyum simpul


"Ibu Juga berpikiran seperti itu?"


"Mari Bu Nur, keruangan Saya, biar saya cek kondisinya."


Nurjanah masuk ke ruangan dokter Latif untuk mengecek kondisinya. Sedangkan Sanu mengajak Dara bermain di halaman puskesmas.


Lima belas menit diperiksa, Nurjanah keluar dari ruangan bersama dengan dokter Latif.


"Jangan lupa obatnya di minum ya, Bu. Hindari juga pantangan makanannya."


"Iya, Dok."


Clara dan Sanu menghampiri ibunya.


"Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok?" tanya Sanu.


"Lebih baik dari sebelumnya, yang penting gaya hidup sama pola makannya di jaga."


"Baik, Dok. Terima kasih." Sanu sekeluarga pun pamit.


"Tunggu ...," sergah dokter Latif.


"Aku mau minta nomor hp kamu, supaya kita bisa lebih muda berdiskusi tentang kesehatan Ibu Kamu." modus dokter Latif.


Sanu pun tanpa ragu memberikan nomor handponenya.


"Dokter Latif ini tinggal di dekat rumah kita lho, Sanu."


Sanu hanya tersenyum simpul lalu mengajak pulang ibu dan adiknya.


"Sepertinya dokter Latif suka denganmu, Sanu," ucap Nurjanah saat keluar dari puskesmas.


"Ibu ... Sanu mau fokus kerja dulu," alasan Sanu.


Nurjanah Tersenyum tipis. "Kita mau kemana lagi, Sanu?"


"Mau ke pasar, Sanu mau belikan ibu dan Clara kasur Baru biar tidurnya lebih nyenyak."


"Yeee ...!" Sorak Clara.


"Kita naik Delman saja, biar lebih asyik." Sanu, Clara dan Nurjanah menaiki Delman yang ada di depan puskesmas. Suara tak tik tuk delman membuat Sanu teringat saat dia Dan Bari berjalan di Kota Tua naik delman sambil makan kerak telur. Baru dua hari di kampung Sanu sudah merindukan Bari.


"Hey, Sanu. Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Nurjanah.


Sanu pun menghentikan lamunannya mencari alasan yang tepat. "Tidak apa-apa, Bu. Sanu hanya gembira bisa naik delman, Sudah lama Sanu tidak menaiki delman.


Nurjanah tersenyum menggoda Sanu. "Ibu tau, kamu suka 'kan melihat ketampanan dokter Latif?"


"Ibu ada-ada saja." Wajah Sanu bersemu merah.


"Bagaimana kalau Ibu jodohkan kamu dengan dokter Latif, Ibu yakin dokter Latif tidak keberatan."


"Ibu mulai deh, kan Sanu sudah bilang, Sanu mau fokus kerja dulu."


"Tapi kamu suka 'kan, dengan dokter Latif." Nurjanah tersenyum menyelidik.


"Tidak, biasa saja."


Delman berhenti di sebuah pasar, Sanu, ibu dan Adiknya turun berjalan mencari toko springbed.


"Itu ada toko springbed, ayo kita tanya-tanya."


Sanu melihat springbed hitam yang seukuran dengan tempat tidur ibu dan adiknya.


"Ini harganya berapa, koh?" tanya Sanu kepada pemilik toko.


"Itu satu juta lima latus libu."


"Bisa kurang tidak, Koh."


"Waduh ... tidak bisa?"


"Kurangin lah, Koh. Sebagai harga perkenalan."


"Okelah, lu olang cantik, siapa tau dapat jodoh olang tionghoa kayak oe. Oe kulangin lima puluh libu saja."


Sanu sejenak memegang dagunya. "Ya sudah tidak apa-apa. Tapi diantar sampai rumah ya, Koh."


"Beles kalau itu. woy ..ni splingbed angkut." Pemilik toko itu menyuruh anak buahnya membawa springbeb warna hitam ke alamat rumah Sanu.


"Si kokohnya bicaranya kayak Clara waktu masih kecil," bisik Sanu pada Ibunya.


Nurjanah menempelkan jari telunjuknya ke mulut Sanu. "Tidak boleh begitu."


Sanu menahan tawa.


"Sudah beles, tinggal kilim aja. Kapan mau dikilim?" tanya pemilik toko.


"Nanti sore saja, Koh. Habis Ashar, kita mau jalan-jalan dulu."


"Oke, telselahlah."


Sanu dan keluarga kecilnya pun berjalan ke pasar.


"Kita mau cari apa lagi, Sanu?" tanya Nurjanah.


"Sanu mau cari handpone untuk Ibu, biar Sanu kalau mau menghubungi Ibu tidak susah."


"Ye ye, ye ye ...! Kak Sanu mau beli handphone buat Clara." Clara begitu gembira hari ini.


Sanu merasa gemas mencubit pipi cabi Clara. "Bukan untuk Clara tapi untuk Ibu."


"Tapi 'kan nanti Clara bisa pinjam."


"Tidak Usah, Sanu. Lagian Ibu tidak bisa menggunakannya."


"Nanti Sanu ajarkan, yang penting punya terlebih dahulu, untuk mempermudah Ibu."


Sanu pun membeli handphone di sebuah counter dengan harga yang terjangkau. Yang penting bisa dibuat untuk menghubungi Sanu.


"Ayo kita pulang, sudah mau sore," ajak Nurjanah.


Sanu mengangguk. "Kita pesan mobil online saja."


"Yeee ... Clara naik mobil." Clara begitu gembira.


Sepuluh menit menunggu, mobil pesanan Sanu datang. Mereka bertiga masuk, duduk di belakang sopir. Clara tidak berhenti melompat kegirangan saat mobil melaju hingga depan rumah.


"Clara, ayo turun," Ucap Sanu.


Clara menggelengkan kepala dengan wajah cemberut. Sanu lalu menggendong adiknya yang enggan beranjak dari kursi mobil. Clara menangis saat mobil menjauh dari pandangannya.


"Clara mau naik mobil lagi?" tanya Sanu.


Clara mengangguk dengan wajah datar.


"Iya ... nanti Kak Sanu belikan ya, tapi Clara jangan nangis."


Seketika itu Clara terdiam. "Janji ya."


Sanu mengangguk.


Sore tiba, Springbed pesanan Sanu sudah berada di depan rumahnya. Pegawai toko hanya membantu menurunkan kasur itu di depan halamannya.


"Lha kok di turunkan di sini, Bang." Sanu protes.


"Maaf, Mbak. Kita masih banyak pekerjaan."


Sanu bertolak pinggang, tidak mungkin dia mengangkat sendirian, minta bantuan ibunya, Sanu takut nanti penyakitnya kambuh.


"Butuh bantuan," ucap seseorang dari arah belakang.


Sanu menoleh ke sumber suara. "Dokter Latif!" Sanu merasa heran mengapa dokter Latif ada di sini.


Latif tersenyum dan mengulang kalimatnya lagi. Sanu menjadi serba salah dengan tawaran dokter Latif.


"Bo-boleh kalau dokter tidak keberatan." Sanu dan Latif pun mengangkat springbed itu sampai ke kamarnya Nurjanah.


"Lha ... ada Dokter Latif," ucap Nurjanah sumringah.


Latif tersenyum sedikit membungkukan badan.


"Sanu ... ada tamu kok tidak di tawari minum."


Sanu tersenyum nyengir, mempersilahkan duduk dokter Latif duduk, lalu mengambilkan teh gelas yang ada di dalam kardus.


Dokter Latif mengucapkan Terimakasih.


"Saya yang harusnya berterima kasih kepada Pak Dokter," ucap Sanu.


"Saya masih muda. Jangan panggil saya Pak, panggil saja Kak atau nama juga tidak apa," ucap pria berkaca mata itu.


Sanu mengangguk mengiyakan ucapan Latif.


"Kok Kak Latif ada di sini?" tanya Sanu.


"Saya tinggal di gang sebelah, kebetulan saja lewat."


Sanu mengangguk- anggukan kepalanya.


"Kamu kapan balik ke jakarta?" tanya Latif.


"Minggu depan, Kak."


Bersambung ...