Sanubari

Sanubari
Tidak Fokus.



"Lebih baik kamu pulang, Sanu. Aku tau kamu sedang mencariku, aku tidak apa-apa." Bari tersenyum kepada Sanu.


Sanu pun pulang ke kost. Ada pertanyaan yang mengganjal di hati. Kenapa Bari bisa menyimpulkan kalau Sanu sedang mencarinya. Walaupun tujuan Sanu memang seperti itu. Tapi, Sanu tidak pernah bilang kepada siapapun. Sanu malu sendiri dengan apa yang dipikirkannya.


Sanu pulang menaruh tas punggungnya ke sembarang tempat.


"Tadi kak Bari kesini," ucap Rina yang sedang menonton drakor.


"Sudah tau," balas Sanu.


"Dari mana kamu tau, Sanu?" Rina tampak heran.


"Tadi tidak sengaja ketemu kak Bari di jalan?"


Rina mengangguk lalu meneruskan melihat drakor. Sedang Sanu ke kamar mandi hendak membersihkan diri.


Suasana pagi tampak terasa hening, wajar saja, matahari belum tampak dari ufuk timur. Sanu dan Rina sudah siap berangkat memakai seragam kantor. Hari-hari biasa di kantor dilakukan Sanu. Kali ini Sanu tampak sumringah, sebab Bari menyapanya dengan senyum manisnya.


Ada yang beda dari hari kemarin, ada kelegaan di hati Sanu saat melihat Bari semangat lagi.


Pak Nazar seperti biasanya memberi pengarahan sebelum berangkat pitcing.


"Kamu pitcing sama Rina ya, Sanu. Bari pitcing sama Muna."


Sanu bermuka masam saat pak Nazar memasangkan Bari dan Muna. Entah kenapa Sanu belum memgerti. Rina memperhatikan raut Wajah Sanu sambil menahan senyum.


Sanu dan Rina masih melanjutkan teritory kemarin. melakukan persiapan di Mushola. Rina melihat wajah Sanu yang tampak kurang bersahabat.


"Kenapa kamu memasang wajah masam, Sanu. Nanti castamer takut melihat wajahmu itu."


Sanu berusaha menyunggingkan senyum kepada Rina. Namun, Rina tau kalau senyumnya Sanu hanya karena terpaksa.


"Senyummu jelek, Sanu." Rina menepuk lengan Sanu.


"Makanya, ayo segera pitcing, Rina. jangan mengintrogasi terus." Sanu Segera memakai sepatu flat nya bersiap bertemu castamer.


"Aku tidak mengintrogasi, Sanu. Aku hanya bertanya." Rina mengejar Sanu yang lebih dulu berjalan.


"Sama saja, Rina."


Rina menghela napas. "Sudahlah, kita langsung pitcing saja. Kalau kita berdebat tidak ada habisnya."


Sanu dan Rina pun mulai pitcing meneruskan teritory kemarin.


Senja hampir menjadi pasti, saatnya Sanu dan Rina pulang. Hari ini Rina yang berhasil membuktikan Sistem, sedangkan Sanu zero. Di perjalanan Rina terus saja mengejek Sanu, karena hari ini dia mengalahkan Sanu. Ingin rasanya Sanu menyumpal mulutnya Rina. Tapi, apa yang dikatakannya memang benar. Walaupun terdengar bising di telinga.


Kereta listrik seolah menjadi peristirahatan Sanu dan Rina setelah seharian mengukur jalan. Udara dingin di kereta seolah menyihir mata Sanu dan Rina untuk sekedar melepas penat.


Petugas kereta kembali menegur Sanu dan Rina.


"Kalian lagi, sudah berapa kali saya ingatkan. Dilarang tidur di kereta," ucap petugas kereta dengan tatapan tajam.


"Maaf Pak, Mata kami tidak tahan dengan udara sejuk di kereta listrik." Rina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Petugas kereta itu hanya memggelengkan kepala lalu pergi berjalan ke gerbong sebelah.


"Hey Sanu, Bagaimana kalau kita bergantian saja tidurnya. Kalau semisal petugas itu lewat, kamu segera bangunkan aku."


Sanu mengangguk. "Kita mulai besok saja, Rina. Ini mau sampai stasiun pasar minggu."


Tak berselang lama Sanu tiba di stasiun pasar minggu tepat saat sore berubah warna menjadi keemasan. Rambut Sanu tampak indah saat senja datang menemani.


Sanu dan Rina sedikit terlambat kali ini. Evaluasi sudah selesai. Pak Nazar sudah berada di lantai dua menghisap rokok yang perlahan bisa menggerogoti paru-paru nya. Anak kantor juga juga bersiap untuk mengikuti jam malam.


Bari terlihat duduk bersila di ujung belakang kursi moderator. Sanu diam-diam memperhatikan Bari. Ada senyum yang mekar di bibir Sanu. Rina yang selalu berada di dekat Sanu menepuk pundak Sanu hingga dia terperanjat.


"Hey Sanu, ini sudah waktunya jam malam, kenapa kamu malah tersenyum menatap ka Bari."


Sanu melotot melihat Rina. "Siapa yang melihat kak Bari di belakang kursi modetator, Rina."


Sanu menjadi salah tingkah, Satu-satunya cara, Sanu harus menjauh dari Rina supaya dia tidak menggodanya lagi.


Rina hanya Tertawa melihat tingkah Sanu.


selesai mengikuti jam malam, Sanu dan Rina hendak makan di warung Budhe.


"Sanu, Rina!" dari kejauhan Bari memanggil.


Sanu dan Rina berhenti berjalan Menunggu Bari menghampiri mereka berdua.


"Kalian mau makan ya?"


Sanu dan Rina mengangguk bersamaan.


"Ayo makan bersama, perutku juga sudah lapar."


Mereka bertiga berjalan beriringan.


"Kak Bari tadi maju ke depan, kenapa kak Muna tadi zero?" tanya Rina.


"Entahlah Rina, sepertinya Kak muna mu itu sedang memikirkan banyak hal. Komunikasi nya berantakan. Aku sudah membantu semaksimal mungkin, tapi ... mungkin belum rezeki nya Muna."


Mereka bertiga tiba di warung makan Budhe duduk berdampingan di kursi panjang.


"Mau makan pake apa?" tanya Budhe dengan logat medoknya.


Rina dan Sanu memesan nasi rames sedangkan Bari memesan nasi soto. Budhe dengan cekatan menyiapkan pesanan Mereka bertiga.


"Terima kasih, Budhe," ucap Bari.


Tak berselang lama Muna dan teman leadernya yang lain datang selesai meeting dengan wajah masam. Manik mata Muna melirik tajam ke arah Sanu yang masih makan. Sanu sedikit melihatnya. Cuma, Sanu berusaha bersikap biasa saja. Sanu tidak ingin mencari masalah dengan siapapun. Dia datang kesini untuk sukses menjadi manager.


Sanu mempercepat gerakan makannya lalu beranjak dari tempatnya. Muna dengan cepat mengambil posisi Sanu.


"Aku pergi dulu ya?" Sanu segera bergegas menuju kost.


"Mau kemana temen kamu itu, dia belum bayar," ucap Budhe.


"Dasar anak kampung, makan di warung tidak mau bayar." muna ikut menimpali.


"Saya yang bayar, Budhe?" ucap Bari.


"Aku juga kan, Kak?"


Bari tersenyum kepada Rina lalu mengangguk.


"Terima kasih, Kak." Rina mengucapkan terima kasih kepada Bari.


Bari masih duduk di bangku panjang. Rina pamit mau menyusul Sanu.


Bari menatap tajam ke arah Muna. "Kenapa kamu berbicara seperti itu."


Muna hanya menatap Bari kesal.


"Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu, Muna."


Muna tersenyum sinis. "Memang benar, kan. Dia anak kampung."


"Ya, tapi kan kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu, walaupun Sanu tidak mendengarnya.


"Terus aku harus bicara apa? Aku lihat kamu begitu dekat dengannya. jangan- jangan kamu suka ya?"


Bari mendengus kesal lalu meninggalkan tempatnya. Bari lebih memilih pergi dari pada harus berdebat dengan Muna yang keras kepala.


Muna tersenyum sinis menatap punggung Bari yang semakin jauh dari penglihatannya.


"Makanya punya crew! Biar fokus. Jangan mengurusi crew orang lain mulu." teriak Muna yang diabaikan oleh Bari.