
Sesampainya di tempat kost, Rina dan Elfa menyambut Dara dengan suka cita. Mereka berdua begitu rindu dengan kehadiran Dara. Rina dan Elfa memeluk Dara bersamaan serasa tidak bertemu bertahun-tahun. Sikap Dara yang centil membuat Rina dan Elfa rindu dengannya.
"Woy ... bantuin! Kita tidak bisa naik tangga sambil membawa barang yang berat!" seru Agus yang masih di bawah tangga.
"Berisik!" sahut Elfa yang berada di atas tangga.
Agus dan Eko tampak mengatur napas.
"Kenapa kalian, habis lari marathon, ya," canda Elfa.
"Marathon ... Kak Elfa tidak lihat, kita bawa barang dua dus."
"Tinggal dinaikin ke atas, apa susahnya," cibir Elfa.
"Kalau ringan sih tidak masalah, ini berat, Kak Elfa." Eko menepuk kardus yang di taruh ke tanah.
Sanu datang menuruni tangga. "Ada apa sih ... ramai amat."
"Bantu dong Kak Sanu, naikin barang ke atas," ucap Eko.
"Enak saja, kan kalian yang di beri tanggung jawab membawa barang ini."
"Iya, tapi berat kalau di suruh naik ke tangga, kita sudah kelelahan bawa dua kardus dari terminal sampai ke sini."
"Salah sendiri ... pokonya Kak Sanu tidak mau tau, kardus ini harus sampai ke atas. Kalau tidak, Kak Sanu tidak mau pitcing sama kalian lagi." Sanu mendelikkan matanya.
Eko dan Agus tidak berani membantah omongan Sanu.
"Ayo Elfa, kita masuk ke dalam." Sanu dan Elfa naik tangga sambil menjulurkan lidahnya kepada Eko dan Agus.
"Kenapa mereka tidak dibantu, Kak?" tanya Elfa.
"Biarkan saja, tadi mereka makan paling banyak." Sanu dan Elfa tertawa kecil masuk kamar.
Esok harinya, Dara dan Sanu berangkat bersama menuju kantor. Pak Nazar menyambut dara dengan gembira. Teman-teman kantor juga begitu, Dara merasakan kebahagiannnya di sini. Dara tidak boleh main-main lagi. Dia harus bisa membuktikan kepada buleknya kalau dia bisa berhasil di sini.
Hari-hari dilalui Dara dan Sanu dengan motivasi yang tinggi. Dua bulan sudah berlalu, kini Sanu sudah memiliki empat belas crew, ini sudah lebih dari cukup untuk melakukan pengejaran manager. Agus dan Eko juga sudah menjadi trainer, mereka berdua kini juga sudah tidak pernah pitcing dengan Sanu kecuali hari minggu.
Pak Hasan memanggil Sanu ke ruangannya. Sanu duduk di depan meja pak Hasan.
"Aku dengar dari pak Nazar, crew kamu sudah banyak ya."
Sanu mengangguk, "Iya, Pak."
"Ada berapa?" tanya pak Hasan.
"Empat belas."
"Sudah lebih dong, kenapa pak Nazar baru bilang kepada?"
"Tidak tau, Pak." Sanu menggeleng.
Suasana lengang sejenak.
"Aku rekomendasikan kamu pengejaran manager, bagaimana menurutmu?"
Sanu terharu, matanya berkaca-kaca. "Benarkah, Pak."
Pak Hasan mengangguk, "Crew kamu sudah lebih dari cukup untuk pengejaran manager. Kamu mau pengejaran di sini atau ke daerah?"
Tanpa sadar Sanu menangis, dia tidak menyangka akan secepat ini. Target Sanu tiga tahun menjadi manager justru akan bisa dicapai hanya satu setengah tahun.
"Aku tanya kamu mau pengejaran di sini atau ke daerah, bukan menangis," ucap pak Hasan yang merusak kegembiraan Sanu.
Dengan tesedu-sedu Sanu menjawab. "Daerah, Pak.
"Dimana?" tanya pak Hasan.
"Kerawang."
"Bukannya dulu kamu sudah pernah kesana."
Sanu menyeka pipinya. "Tapi disana masih banyak teritory yang belum di garap"
"Baik, tiga hari lagi kamu bisa berangkat. Pak Nazar yang mengantarmu kesana."
Sanu begitu gembira, berterima kasih kepada pak Hasan dan pak Nazar yang selama ini membimbingnya.
Tidak ada kata yang bisa diucapkan Sanu kecuali kegembiraan yang memuncak.
Sanu memberitahu kepada Rina bahwa tiga hari lagi dia akan berangkat ke Kerawang untuk pengejaran manager.
"Semangat, Sanu. Jujur aku iri kepadamu?"
Sanu tersenyum lalu memeluk Rina erat.
"Semangat, Rina. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Sanu.
Esok harinya, Sanu mengumpulkan semua crew nya memberitahu dua hari lagi akan melakukan lotrip ke Kerawang.
Semua crew Sanu berteriak senang, karena selain mendapat suasana baru, mereka juga bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Menurut mereka teritory di Ibu Kota jauh lebih sulit dari pada Teritory di daerah.
"Persiapkan mental kalian," ucap Sanu.
"Kalau Kak Sanu jadi manager, makan-makan, dong?" sahut Agus.
"Jelas dong, tapi tidak lebih dari lima ribu," canda Sanu.
"Huu ...," sorak semua crew.
"Bercanda ... kalau sampai target, Kak Sanu ajak kalian nonton film plus makan di mall sepuasnya."
Semua crew bersorak bertepuk tangan kepada Sanu.
Malam harinya, entah kenapa Sanu merindukan ibunya. Sudah satu tahun Sanu tidak bertemu dengan Ibu dan adik perempuannya. Sanu mencoba menelpone Aida.
📱"Halo Aida."
📱"Iya Sanu, tumben kamu menelponku."
📱"Minta nomor kontak ibumu, Aida. Aku ingin bicara dengan ibu."
📱"Tidak usah, Sanu. Ini aku sedang pulang kampung."
📱"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku, kalau kamu pulang."
📱"Maaf, Sanu. Ini mendadak, Kakak ku mau menikah, kebetulan di sini juga ada bulek Nur dan Clara, sebentar aku panggilkan."
📱"Halo, Sanu. Uhukk ...."
📱"Ibu ... Sanu rindu dengan Ibu. Doakan Sanu di sini berhasil."
📱"Tentu, Nak. Kamu sehat di sana?"
📱"Alhamdulilah sehat, Bu? Ibu bagaimana dengan paru-parunya."
📱"Sudah lebih baik, Sanu. sekarang di sini sudah ada pengobatan gratis, Ibu rutin setiap minggu memeriksa keadaan Ibu. Kamu tidak perlu khawatir."
📱"Syukurlah, kalau begitu. Clara mana, Bu?"
Nurjanah memanggil Clara.
📱"Halo, Kak Sanu. Kapan pulang."
📱"Clara ... Bulan depan? Clara mau minta apa dari Kak Sanu."
📱"Handphone, Kak."
📱"Kok handphone, katanya dulu mau minta coklat."
📱"Clara kan sudah besar, Kak? Sebentar lagi Clara mau naik kelas satu. Clara pengen punya handphone buat bermain sama teman."
📱"Iya deh, Kak Sanu ngalah, nanti kalau Kak Sanu pulang ya."
📱"Horee ..." Dara bersorak gembira.
📱"Sudah dulu ya, Sanu. Di sini lagi ramai soalnya."
📱"Iya, Aida. Terima kasih lho."
Sambungan berakhir. Sanu bisa lega sekarang, keadaan di kampung baik-baik saja. Sanu pun menyiapkan pakaiannya untuk lotrip selama tiga minggu di sana.
Hari yang ditunggu tiba, Tim Sanu berangkat menaiki bus arah karawang. Di sepanjang perjalanan mereka semua tak henti bernyanyi seakan mereka sendiri yang menaiki bus itu. Hingga kernet bus menegur mereka, untuk jangan terlalu keras menyanyi, mengganggu penumpang yang lain.
Pak Nazar yang duduk di belakang bus tertawa.
"Kenapa Pak Nazar tertawa?" Tanya Eko.
"Tidak apa-apa, pertahankan ya semangat kalian." Pak Nazar lalu memejamkan matanya.
Eko tidak mengerti maksud pak Nazar. Dia pun ikut memejamkan mata dari pada harus di omeli kernet bus yang galak itu.