
Wajah ketiga MD tampak murung, sepertinya mereka sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Sanu mencoba menghibur MD nya. Hanya senyum kecut yang diperlihatkan para MD. Wajar saja sih, sudah satu minggu ini mereka tidak bisa membuktikan hukum rata-rata. Sanu biasanya juga sering membantu mereka bertiga, membuka pola pikir castamer. Tapi, sekarang keadaan berubah, jangankan membantu orang lain, membantu diri sendiri saja Sanu tidak mampu.
Pak Nazar tidak habis pikir dengan Sanu, sudah seminggu lebih Sanu tidak bisa membuktikan hukum rata-rata. Setiap ditanya, jawaban Sanu selalu tidak fokus. Padahal, semua orang tau kalau Sanu itu sedang galau memikirkan Bari.
Sanu yang dulu menjadi kebanggaan pak Nazar karena prestasi dan cara bangun crew nya yang ramah, kini malah memikirkan sesuatu hal yang menurut pak Nazar tidak penting.
"Begini saja, crew kamu besok biar dibawa sama Muna. Dia lagi konsisten. biar kamu bisa fokus ke diri kamu sendiri."
Sanu membulatkan mata menggeleng dengan cepat. "Jangan Pak Nazar, aku masih bisa."
"Crew kamu itu sudah kembang kempis. Antara maju atau tidak, kalau besok tidak bisa membuktikan sistem, kemungkinan besar ketiga MD kamu bisa keluar," tegas pak Nazar.
Muna hari ini memang bisa maju kedepan. Minggu kemarin dia juga bisa masuk top guys. Jadi wajar saja kalau pak Nazar mempercayakan ketiga MD Sanu kepada Muna. Sanu hanya pasrah menerima kenyataan ini.
"Muna, dibantu ya besok crew nya Sanu."
"Siap pak Nazar." Muna tersenyum penuh kemenangan dihadapan Sanu.
Hari mulai gelap, malam ini Sanu tidak makan, dia tidak punya uang untuk membeli makanan. Sanu menahan lapar dengan berbaring di kamar kost sambil memandangi bunga melati yang semakin mekar. Hanya itu sekarang satu-satunya hiburannya Sanu.
Rina datang membawa nasi bungkus. "Hey Sanu, aku bawakan nasi untukmu. makanlah."
Sanu tersenyum tipis dengan mata yang berbinar mengucapkan terima kasih untuk Rina. Rina datang di saat yang tepat. Seharian Sanu hanya minum air putih dan makan satu tempe goreng untuk mengganjal perutnya.
Selesai makan Rina mencoba menasehati Sanu.
"Fokuslah Sanu, kasihan crew kamu. Mereka ikut merasakan imbas dari kamu memikirkan Bari."
"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu, Rina?" Sanu menatap tajam Rina.
Rina menghela napas. "Semua orang dikantor juga tau, Sanu. Standart kamu anjlok karena memikirkan kepergian Bari."
Sanu terdiam menatap Rina, lalu menangis memeluk tubuh kecil temannya itu.
"Aku sudah berusaha, Rina. Tapi, aku tidak bisa. Bayangan Bari terlalu kuat." Sanu menceritakan semuanya kepada Rina.
Rina mendengarkan curhatan Sanu yang masih memeluknya.
"Ceritakan semua, Sanu. Supaya kamu lega. Keluarkan semua apa yang ada dipikiranmu."
Sanu malah menangis semakin keras, Rina menepuk lembut punggung Sanu.
Sebagai sahabat, Rina juga tidak tega melihat Sanu terlarut dalam kesedihan. Tubuh Sanu semakin kurus karena terlalu banyak memikirkan Bari.
Sanu melepas pelukannya. "Terima kasih, Rina."
"Mulai besok kamu harus semangat, Sanu.Tunjukan kepada semua orang yang ada dikantor kalau kamu bisa menghadapi masalah ini."
Sanu mengangguk memantapkan diri. Apalagi besok Sanu pitcing sendiri. jadi dia bisa lebih fokus dengan dirinya.
"Kamu besok mau pitcing kemana, Sanu?"
"Aku mau pitcing ke arah selatan saja, Rina. Mencari suasana baru."
"Baguslah kalau kamu sudah mempersiapkan."
Sanu pun lekas tidur supaya badannya bisa lebih segar saat bangun.
Matahari terbit diantara awan mendung yang kapan saja bisa menutupi sinarnya. Perasaan Sanu lebih baik karena semalam bisa mengeluarkan unek-unek nya kepada Rina.
Sanu memulai aktifitas dengan semangat, mencoba bangkit dari keterpurukannya. Sanu mencoba melepas beban yang ada di pundaknya. Tapi, dia tetap tidak mau melepas kenangannya dengan Bari. Bagi Sanu, Bari adalah malaikat penyelamat.
Setibanya di kantor, Sanu melihat ketiga MD nya dengan wajah murung. Sanu menyapanya, tapi dibalas dengan senyum terpaksa oleh ketiga MD nya itu.
"Kalian kenapa, kok kelihatan tidak semangat?"
"Gak pa-pa, Kak. Hari ini aku izin tidak mengikuti jam malam, Kak."
"Aku juga, Kak." dua MD yang lain pun meminta hal yang sama.
Sanu melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan ketiga MD nya. Tapi, Sanu tetap mengizinkan mereka pulang lebih awal. Bahkan Sanu memberi sedikit uang untuk sekedar beli bensin.
Muna baru datang, Muna memang sering pulang terlambat. Anak kantor menjuluki Muna dengan sebutan Pemburu rupiah. Orang yang terlalu menghejar hasil dari pada proses.
"Kak Muna," panggil Sanu saat Muna lewat di depannya.
Wanita berarambut ikal itu menoleh.
"Kak Muna kan pitcing dengan ketiga MD ku, kenapa mereka tidak pulang bersama Kak Muna?"
Muna mendekati Sanu menatap tajam. "MD mu itu tidak bisa diatur, Sama kayak leadernya."
Sanu mendengus kesal dengan Muna. Seenaknya saja dia bilang seperti itu. Dianya saja yang tidak bisa mengambil hati crew nya Sanu.
Rina datang menyapa Sanu. "kamu kenapa, Sanu."
Sanu hanya menatap Rina lalu masuk ke kantor. Rina pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Sanu.
Jam malam di mulai, semua MD nya Sanu tidak bisa membuktikan sistem. Muna yang pulang meninggalkan MD Sanu, malah maju kedepan. Ini tidak baik untuk Sanu dan crew nya. Sanu meminta pak Nazar untuk menarik kembali crew nya. pak Nazar mengabulkan permintaan Sanu.
Selesai jam malam, Sanu mengetik pesan untuk ketiga crew nya. Tapi, dengan kompak ketiga MD Sanu izin tidak masuk kantor. Alasannya karena tidak enak badan.
Sanu memberi semangat untuk ketiga MD nya. Tapi, pesan yang dia kirim tidak dibaca ketiga MD nya. Sanu mulai cemas, ada firasat buruk di hati Sanu.
"Kamu kenapa, Sanu. Seharian ini aku lihat wajahmu tampak tidak bersahabat."
"MD ku, besok tidak masuk," ucap Sanu dengan wajah lesu.
"memang alasannya kenapa?" tanya Rina.
"Gak enak badan."
"Ketiga-tiganya bilang seperti itu?"
Sanu mengangguk pelan.
"Coba kamu telpone Mila sama Ilham, suruh bujuk mereka."
"Sudah, Rina."
"Berdoa saja, Sanu ... lebih baik kita makan dulu untuk menambah tenaga."
Sanu menggeleng, "Uangku sudah habis, tadi aku berikan kepada tiga MD ku."
Rina menghela napas. "Hari ini aku juga zero, Sanu. Maaf ya, malam ini aku tidak bisa membantumu."
Sanu tersenyum, "Tidak masalah, Rina. Bukankah kita sudah terbiasa tidak makan seharian?"
Rina tertawa kecil. "Benar juga apa yang kamu katakan, Sanu. Ya sudah, aku ke warung Budhe dulu ya."