Sanubari

Sanubari
Perbedaan Pendapat.



Bari segera menghubungi Bondan dan Jaka.


📱"Halo Bondan."


📱"Iya, Mas."


📱"Sanu diculik, kamu dan Jaka cari dimana Sanu. Aku yakin ini ulahnya papa."


📱"Siap Mas."


Bondan segera memanggil Jaka untuk bergegas mencari Sanu. Mereka menuju ke tempat kost nya Sanu.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Dara dan Rina yang ada di dalam membuka pintu. Dara terkejut melihat dua orang tinggi besar ada di hadapannya.


"Siapa kalian?"


"Tenang adik kecil, kami kesini atas perintah mas Brian."


"Siapa itu, Brian."


Mendengar nama Brian, Rina langsung menyahut pembicaraan. "Kalian temanya Brian, silahkan masuk."


Bondan dan Jaka masuk sambil memandangi ruangan kost 4x4 meter itu.


"Langsung saja, kalian Tau ciri-ciri orang yang menculik Sanu?"


Dara mengangguk, "Mereka memakai penutup wajah, tapi aku sudah memfoto plat mobilnya."


Dara memperlihatkan mobil yang menculik Sanu kepada Bondan dan Jaka.


"Ini mobil yang sering dipakai Kampleng," ucap Jaka.


"Ayo kita segera ke tempat Kampleng."


Jaka mengangguk.


"Kami pamit dulu adik kecil, Kami akan segera menemukan Sanu."


"Tolong ya, Om," ucap Rina.


Bondan dan Jaka segera menuju tempatnya Kampleng. Mereka sebenarnya berteman. Namun, karena perbedaan pendapat, Kampleng lebih memilh ikut Atmaja dari pada Mira.


Bondan dan Jaka mencari di manapun Kampleng berada. Di rumahnya, di tempat tongkrongannya, di sepanjang jalan mereka terus mencarinya hingga larut malam.


"Sepertinya Sanu disembunyikan di suatu tempat," ucap Jaka.


"Jangan menyerah, kita terus mencarinya sampai mas Brian datang."


Bondan dan Jaka melanjutkan pencarian, mereka pun melihat mobil hitam yang biasa di pakai Kampleng. Dari belakang Bondan dan Jaka mengikutinya. Hingga mobil itu berhenti di sebuah kedai kopi. Kampleng dan kedua temannya memarkirkan mobil dngan sempurna. Seketika itu Bondan dan Jaka memanggil Kampleng.


"Berhenti." perintah Bondan.


"Apa mau kalian?" tanya Kampleng.


"Dimana kamu menyembunyikan gadis yang bernama Sanu."


Kampleng membulatkan matanya mendekati Bondan dan Jaka. "Ini bukan urusan kalian, kenapa ikut campur."


"Kita di sini tidak ingin membuat masalah, Kita hanya menjalankan tugas dari mas Brian."


"Aku juga sedang menjalankan tugas dari pak Atmaja."


Jaka mulai geram. "Hey, Kampleng! Apa kamu sudah kehilangan rasa hormat kepada seniormu."


"Senior katamu, semenjak aku ikut pak Atmaja, aku sudah tidak menganggap kalian sebagai teman."


Jaka semakin geram, rahangnya mengeras hingga terlihat otot di seketar leher. Dia hendak memukul wajah Kampleng. Namun, Bondan menghalanginya.


"Tahan, kendalikan emosimu."


"Kenapa, apa kalian sudah tidak bisa memukul orang lagi," pancing Kampleng.


"Lebih baik kita pergi dari sini, Jaka. Tidak Baik kalau kita ribut dengan mereka. Lebih baik masalah ini kita serahkan kepada mas Brian," bisik Bondan.


Bondan dan Jaka memilih pergi dari pada harus ribut dengan Kampleng.


Pagi hari, Bari sudah tiba di Ibu Kota, dia langsung menuju rumah papanya. Kali ini Bari menaiki mobil online. Setengah jam perjalanan Bari sudah berada di depan pintu pagar rumah.


Mbok yem terkejut melihat Bari datang ke kerumah.


Bari tersenyum, "Papa ada, Mbok?"


"Ada di dalam, sedang sarapan dengan istrinya," jawab Mbok Yem.


Bari segera masuk ke ruang makan. Atmaja terkejut dengan kedatangan anaknya.


"Brian ... kenapa tidak menghubungi papa dulu." Atmaja menghampiri Bari.


"Tidak usah basa-basi, dimana papa sembunyikan Sanu."


Atmaja terkejut, dari mana Bari tau kalau Sanu di culik anak buahnya.


"Duduk dulu, sudah lama kita tidak sarapan bersama seperti ini."


Bari menatap tajam Atmaja. "Cepat katakan dimana, Sanu. Jika sampai sampai terjadi apa-apa dengan Sanu. Aku tidak akan segan membuat perhitungan."


Atmaja terkekeh, "Rupanya hubunganmu dengan gadis kampung itu sudah sangat dekat, hingga kamu berani memgancam papa kandungmu sendiri. Tenang saja Brian, aku tidak menyakitinya. Aku tanya ingin tau seperti apa hubunganmu dengan gadis desa itu."


"Sekarang papa sudah tau, kan."


Atmaja mengangguk, "Sanu ada di sebuah gudang barang, sewaktu kecil kamu juga pernah terjebak disana."


Bari segera menjemput Sanu.


"Sayang, siapa itu Sanu?" tanya Glenca.


"Asisten rumah tanggaku dulu." Atmaja pun melanjutkan sarapannya.


sedangkan Glenca, tampak curiga kepada Atmaja. Glenca berencana mencari tau siapa gadis yang bernama Sanu itu.


Bari kembali menaiki ojeg online untuk mempercepat perjalanan. Gudang itu terletaknya di dekat terminal Kampung Rambutan. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai kesana.


...***...


Sanu terbangun dari tidurnya, dia tidak bisa bergerak, tangan, kakinya dan mulutnya diikat. Dia berusaha terus melepas ikatannya itu, tapi ikatannya terlalu kuat. Sanu berusaha sekuat tenaga mengerang minta tolong, tapi percuma saja. gedung besar dengan barang berisi kardus bertumpukan itu terlihat kotor dan sepi. Sanu begitu takut, dia berharap ada orang yang menolongnya.


Dari luar pintu, ada suara yang memanggil nama Sanu sambil menggedor-gedor pintu. Itu suara dari Bari. Mungkinkah Bari kesini?


Bari mendengar suara erangan. Bari sekuat tenaga mendobrak pintu itu. namun, tidak berhasil, butuh lebih banyak orang untuk membuka pintu itu.


"Sabar, Sanu." Bari mencari benda besi yang sekiranya bisa merusak gembok pintu itu. Beruntung Bari menemukan linggis. Bari segera mencungkil dan memukul kunci gembok itu hingga pintu terbuka.


"Sanu ...." Bari segera lepas tali ikatan Sanu.


Sanu tampak senang Ada Bari di hadapannya.


"Kak Bari."


"Ayo pergi dari sini?" Bari memapah Sanu keluar dari gudang barang itu.


"Kak Bari tau kalau aku diculik dari siapa," ucap Sanu dengan napas tersengal.


"Kemarin malam Dara menelponeku."


Sanu tersenyum.


"Kamu sudah aman, Sanu. Papaku orang yang melakukan semua ini. Dia penasaran ada hubungan apa antara aku dan kamu."


"Hanya karena itu, papa Kak Bari munculikku." Sanu merasa aneh dengan pak Atmaja.


"Dia tidak akan berani lagi macam-macam denganmu, Sanu. Lebih baik aku antar kamu pulang ke kost." Bari memesan mobil online mengantarkan Sanu ke Pasar minggu.


Di tempat lain pak Nazar menanyakan tentang ketidakhadiran Sanu kepada Dara.


"Kemana Sanu, Dara."


"Lagi sakit Pak Nazar," alasan Dara.


"Sakit apa?


"sakit kepala, Pak Nazar."


"Dia itu sudah punya banyak crew, masak hanya gara-gara sakit kepala dia tidak masuk. panggil Sanu ke kantor."


Dara membulatkan mata. "Sakitnya parah Pak Nazar. Kak Sanu punya vertigo kalau kambuh dia tidak bisa berdiri."


"Aku baru tau kalau Sanu punya vertigo. Ya sudahlah biar nanti aku yang mengurus crew nya.


Bari mengantar Sanu sampai ke depan kost. Sanu mengucapkan terima kasih kepada Bari.


"Aku harus pergi dulu, Sanu. Lain kali kalau ada waktu, kita bisa jalan bersama lagi." Bari memegang lembut pipi Sanu.


Sanu mengangguk, melihat punggung Bari yang menuju ke jalan utama.