
Mira sebenarnya ingin mengetahui kebenaran tentang Atmaja. Namun, rasa benci yang ada di dalam hatinya membuat dia mengurungkan niatnya. Mira masih sakit hati saat dia mengusir Bari dari rumahnya dan berselingkuh dengan pacar Bari saat kuliah. Perbuatan Atmaja itu yang membuat Mira tidak tahan dan menceraikan Atmaja.
Mira tau Bari mengajak Sanu datang kesini untuk membujuknya supaya mau membantu perusahaan Atmaja. Mira mau melihat, bagaimana Sanu bisa membujuknya, atau malah dia semakin marah dengan Atmaja.
Di Kamar, Bari diam-diam memperhatikan Ibunya. Bari tersenyum, sepertinya Mira tampak memikirkan sesuatu.
Esok paginya di waktu libur, Ali yang hanya memajai kaos biasa dan celana jeans datang hendak menemui Bari. Mira yang sedang berolahraga di halaman depan, menemui Ali.
"Kamu pengacaranya Atmaja, kan?"
"Betul, Bu," ucap Ali sopan.
"Ada urusan apa kamu kesini."
"Saya ingin bertemu dengan Brian, Bu."
"Buat?" Mira melipat kedua tangannya di dada menatap sinis Ali.
Ali tampak berpikir mencari alasan yang tepat.
Tiba-tiba Bari datang menyapa Ali dengan riang. "Di tunggu dari tadi baru datang.
Ali dan Bari melakukan tos. Konsentrasi Mira pun agak sedikit terganggu.
Sebenarnya Mira sudah tau maksud kedatangan Ali kesini. Pasti mau mengajak Bari bertemu dengan Sanu. Namun, Mira hanya ingin menggertak Ali saja supaya dia mau berbicara jujur.
"Mau kemana kalian?" tanya Mira Lagi.
"Kita mau jalan, Ma? sambil cuci mata." Bari menepuk pundak Ali.
"Sejak kapan kamu akrab dengan pengacaranya Atmaja, Brian?" Mira bertanya ketus.
"Brian 'kan tiap hari ke kantor papa, Ma. Setiap hari kita bertemu membicarakan pekerjaan."
Mira memandang sinis Ali.
"Kita pergi dulu ya, Ma." Bari berpamitan mencium punggung tangan Mira.
"Mama kamu galak banget," ucap Ali saat menyetir mobil.
"Ya wajarlah namanya juga ibu-ibu, tapi hatinya baik, mama semenjak bercerai dia lebih perhatian denganku," ucap Bari.
Ali terkekeh. "Dasar anak mama."
Setengah jam perjalanan Bari dan Ali sampai di Pasar Minggu. Ali memarkirkan mobilnya di dekat pasar, lalu berjalan menuju kost nya Sanu.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Dara membuka pintu, berteriak histeris melihat Bari.
Bari tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuk kepalanya, heran melihat tingkah Dara, Sedangkan Ali hanya menahan tawa.
"Sanu ada, Dara?" tanya Bari.
"Ada sedang mandi," jawab Dara.
Dara terlihat memakai baju rapi dengan tas punggung di belakangnya.
"Kamu mau pitcing ya, Dara?"
Dara mengangguk.
"Siapa yang datang, Dara!" Suara dari Kamar mandi.
"Rina sama Elfa!" canda Dara.
"Ooo ...." Sanu keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi atas dada sampai pahanya. Terlihat seksi, Bari yang melihatnya tubuh putih nan mulus mematung membuka mulutnya.
"Achhh ...."Sanu berteriak saat Bari dan Ali ada di depan pintu.
Dara dengan cepat menutup pintu kost. Bari dan Ali sedikit terperanjat.
"Pagi-pagi sudah dapat rejeki," bisik Ali ke telinga Bari.
Bari mendelikkan matanya ke arah Ali.
"Dara! Kamu ini," hardik Sanu.
Dara tersenyum nyengir mengangkat tangan berbentuk huruf V. "Maaf, hanya bercanda."
"Bercandanya tidak lucu." Sanu segera mengganti Baju, lalu menemui Bari dan Ali.
"Sudah siap kamu, Sanu?" tanya Ali.
"Tenang, nanti ada Kak Bari yang siap membantumu," ucap Ali tersenyum menyeringai ke arah Bari.
Bari hanya melirik sebal ke arah Ali.
"Aku berangkat dulu ya, Kak?" pamit Dara nyelonong tiba-tiba.
"Iya, yang semangat pitcingnya."
"Beres." Dara menuruni tangga sambil mengacungkan jempolnya ke atas berjalan membelakangi Sanu.
"Ayo kita berangkat," ucap Bari.
Ali mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir. Sanu dan Bari duduk di belakang Ali.
"Hey, kenapa kalian duduk dibelakang? Kalian pikir aku supir?" protes Ali.
"Sekali-kali tidak apa-apa, aku mau bicara serius dengan Sanu," ucap Bari.
"Ini sudah sering terjadi, Brian? Setiap kali ada Sanu, kamu memilih duduk di belakang," ucap Ali.
Sanu dan Bari tidak mempedulikan ucapan Ali, mereka malah asyik ngobrol karena sudah lama tidak bertemu. Ali sebenarnya juga hanya bercanda, dia hanya ingin menggoda pasangan kekasih itu.
"Nanti aku harus ngomong apa sama mama kamu?" tanya Sanu.
"Apa sajalah, Sanu. Yang penting mama senang," ucap Bari.
"Itu namanya kamu memasrahkan urusanmu kepadaku. Apa Kak Bari tidak ada cara lain, selain membujuk mamanya Kak Bari?"
Bari menggeleng. "Aku sudah mencoba semuanya, Sanu. hanya mama harapan perusahaan papa."
"Bagaimana kalau mama Kak Bari tetap tidak mau?"
Bari merubah posisi duduknya menatap Sanu. "Perusahaan papa akan bangkrut dalam satu bulan ini."
Sanu menyandarkan tubuhnya di kursi mobil menepuk dahinya. "Ini beban buatku, aku hanyalah gadis sembilan belas tahun. Apa yang harus aku lakukan."
Bari menggenggam tangan Sanu, tersenyum seolah ingin menyakinkan Sanu.
"Kenapa Kak Bari meminta bantuan kepadaku? aku tidak tau apa-apa tentang perusahaan pak Atmaja."
"Entahlah, Sanu. Saat Ali menyarankan meminta bantuan orang, aku langsung teringat namamu. Dan entah kenapa, aku sangat yakin kamu bisa membujuk mamaku."
Sanu tersenyum bersandar di pundak Bari yang hangat. Ali yang melihat kemesraan mereka dari kaca mobil, hanya bisa berdehem.
Mobil tanpa terasa sudah ada di halaman rumah Mira Suganda. Kebetulan ini masih terbilang pagi. Mira terlihat sedang minum sebuah jus dengan omlette untuk menambah tenaga.
"Mama ... coba lihat siapa yang datang," ucap Bari.
"Hey, Sanu? Mama sudah buatkan omlette dan jus Alpukat untukmu," ucap Mira menyambut Sanu dengan riang.
"Terima kasih, Ma-ma." Sanu terlihat masih canggung saat mengucapkan kata mama kepada Mira. Bukan apa apa, masih ada ketakutan di hati Sanu.
mira tersenyum tipis menatap Sanu.
"Bari mau ke kamar dulu ya, Ma?"
'Deg ...' Jantung Sanu mulai berdetak kencang tak karuan. Namun, Sanu berusaha menenangkan.
"Satu senyum, dua senyum, tiga senyum, empat senyum, lima senyum, enam senyum, tujuh senyum, delapan senyum, sembilan senyum, sepuluh senyum," batin Sanu berusaha mengendalikan rasa gugupnya
"Bagaimana pekerjaanmu, Sanu?" tanya Mira.
Sanu terperanjat, yang membuat Mira mengerutkan dahinya.
"Baik, Ma." Sanu mengangguk dengan cepat.
Mira tertawa lembut. "Kamu gugup ya bicara dengan calon mertuamu ini."
Sanu semakin tertekan, kerongkongan Sanu seperti melarangnya bicara. Sanu hanya mematung membuka mulutnya.
"Tidak usah gugup, anggap saja kamu sedang bicara dengan ibu kamu sendiri, atau temanmu juga boleh."
Sanu mengangguk tersenyum nyengir. Perasaan Sanu sedikit lega, kini dia mulai mengobrol dengan mamanya Bari.
"Mama setiap bulan ke luar Negri ya?"
Mira mengangguk.
"Pasti menyenangkan ya bisa jalan-jalan ke luar Negri."
"Kamu juga bisa ke luar Negri, Sayang?"
"Benarkah, aku ingin ke Jepang, melihat bunga sakura bermekaran."
Bersambung ...