
Esok harinya, tim Sanu menyebar pitcing menuju ke perumahan. Tim dibagi menjadi empat. Tiap trainer membawa MD nya masing-masing. Mereka pitcing penuh semangat sampai sore. Benar saja, ternyata di perumahan tidak sekeras yang ada di perkampungan. Mereka semua berhasil membuktikan hukum rata-rata. pulang ke kost dengan senyum sumringah. Tim Sanu pun menemukan teritory yang baik untuk pitcing dua minggu ke depan.
Satu minggu di lalui Sanu dengan baik. Standarnya melebihi target. Sanu begitu senang dengan kinerja crew nya. Sanu pun memberikan kemeja kepada masing-masing crew. Tinggal satu minggu lagi, jika standarnya terpenuhi Sanu akan menjadi asisten manager.
"Kalau besok ada yang bisa dua pcs, Kak Sanu akan beri bonus uang lima puluh ribu!"
Semua crew bersorak gembira. Tiap hari Sanu memberi tantangan untuk crew nya. Ini supaya crew nya semakin semangat di lapangan.
Dua minggu berlalu, Sanu berhasil menyelesaikan pengejarannya sebagai asisten manager. penjualan alat selama dua minggu ini pun sangat tinggi. Bahkan melebihi standar manager.
Sanu begitu gembira sekaligus lega. Akhirnya Satu langkah impiannya tercapai. Tinggal bangun dua orang lagi supaya bisa jadi manager.
Sanu dan crew pulang ke kantor dengan senyum lebar. Mereka merayakan keberhasilan dengan makan di rumah masakan Padang.
"Hari ini makan sepuasnya, Kak Sanu yang bayar," ucap Dara crew paling senior di tim Sanu.
Semua crew bersorak, memesan makanan sesuka hati mereka.
Setelah makan, tim Sanu pulang ke tempatnya masing-masing. Sanu dan Dara membuka kost yang selama dua minggu ini tidak di tempati.
Rina melihat Sanu masuk ke kamar kost dengan Dara.
"Hey Sanu! Kenapa tidak beri kabar kalau pulang hari ini."
Sanu tersenyum, "Maaf, Rina. Aku sibuk mengurus crew dan barang-barang yang ada disana."
"Selamat ya, Sanu. Kamu besok di angkat jadi asisten manager." Rina mengulurkan tangannya. Mereka bersalaman.
"Kalau Kak Rina, kapan?" celetuk Dara.
"Huss ..." sergah Sanu.
"Tidak apa, Sanu. Aku belum ada perkembangan."
"Semangat, Rina. Jangan menyerah ...." Sanu mencubit gemas pipi Rina.
Malam hari di atas rooftop kantor, perasaan Sanu tampak bimbang. Dia ingin menelpone Bari memberi tau kalau besok dia diangkat menjadi asisten manager. Tapi Sanu takut kalau telponenya tidak diangkat karena kesibukan Bari.
"Telponelah, Sanu," ucap Rina.
"Aku takut mengganggunya, Rina."
"Coba saja dulu." Rina mulai kesal.
Sanu menatap lama wajah Rina menyakinkan dirinya.
Sanu kembali mencari nomor kontak Bari. Tapi, dia hanya menatap layar handphone tanpa menekannya.
"Apa lagi ...! Kenapa kamu hanya menatap layar handphone mu itu?" tanya Rina kesal.
Sanu menghela napas lalu menggelengkan kepala.
"Kalau kamu tidak berani, biar aku yang telpon." Rina menyodorkan tangan meminta handphone nya Sanu. Namun, Sanu menolaknya.
Rina semakin kesal menjambak sendiri rambutnya. "Terserah kamu, Sanu. Dari jaman nenek moyang kita sampai sekarang, yang namanya orang jatuh cinta, selalu saja rumit."
Sanu pun heran kepada dirinya, padahal hanya ingin menelpone Bari. Tapi, teramat susahnya.
Rina pun turun ke bawah meninggalkan Sanu.
"Mau kemana, Rina?"
"Makan! Perutku lapar," jawab Rina sambil menuruni tangga.
Sanu masih berada di rooftop memandang langit malam yang dihiasi bintang.
Andai Bari mendengar kata hati Sanu, akankah dia datang menemuinya? pikiran Sanu mulai melayang kemana-mana.
Sanu sangat merindukan Bari, sudah tiga bulan lebih dia tidak melihat wajah Bari. Sanu hanya bisa melihat Kalung pemberian Bari yang melingkar di lehernya serta syal warna hijau yang malam ini di pakai untuk menahan hawa dingin sebagai pengingat.
Esok harinya, pernyambutan asisten manager baru dimulai. Semua anak kantor memberi Selamat untuk Sanu. Walaupun acara penyambutannya sederhana, tapi, Sanu sangat gembira dengan hasil yang didapatnya saat ini. Sanu sudah bisa menikmati incom pasif dua puluh lima persen dari penjualan alat.
Tujuan berikutnya, Sanu akan fokus menjadi manager. Sanu bersyukur, punya tim yang mendukung penuh dirinya.
Sanu juga tidak segan bertanya kepada para manager. Pak Nazar tidak henti membimbing Sanu supaya jadi manager. Semua anak kantor juga mendukung Sanu. Mereka tidak segan juga bertanya kiat-kiat cepat menjadi asisten manager.
Sanu membeberkan semua perjalanannya dari awal masuk kantor hingga sampai menjadi asisten manager. Tapi, Sanu tentunya tidak menceritakan kisah pertemuannya dengan Bari. Sanu hanya menceritakan garis besarnya saja.
Malam tiba, Sanu dan Dara hendak pulang ke kost. Badan Sanu begitu lelah, dia ingin segera merebahkan diri di atas kasur. Di depan kost, Sosok pria tinggi memakai topi berdiri membelakangi Sanu. Sepertinya Sanu tidak asing dengan pria ini. Topi biru yang di kenakan pria ini sama dengan topi pemberiannya kepada Bari.
Pria itu menoleh, Sanu begitu terkejut saat melihat pria tinggi itu.
"Bari ...!"
Dara menatap Sanu heran. Sekilas Dara menatap wajah Bari. Dara pun terpukau melihat wajah tampan Bari. Matanya tajam seperti panah yang menusuk hati Dara.
"Hay, Sanu. Aku kesini ingin mengucapkan selamat untukmu."
Sanu sejenak mematung lalu tersadar saat dara menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Iya terima kasih."
"Kenapa kamu tidak menghubungiku?"
"Aku takut mengganggu kesibukanmu," ucap Sanu.
Tiba-tiba, Dara mengulurkan tangannya. "Hay, Aku dara, crew nya Kak Sanu yang paling cantik."
"Dara ...," tegur Sanu.
Dara tidak menghiraukannya. Bari bersalaman dengan Dara.
"Kak Bari pacarnya Kak Sanu, ya?" tanya Dara.
"Dara ... lebih baik kamu ke dalam, dech," perintah Sanu.
"Kenapa?"
Sanu mendelik ke arah Dara.
"Oiya, Dara. Aku bawakan coklat untuk kamu." Bari memberikan coklat panjang kepada Dara.
"Terima kasih, Kak Bari yang tampan?" Dara lalu menutup pintu kost. Tapi Sanu tau kalau Dara pasti akan menguping pembicaraan. Sanu menggajak Bari ngobrol di jembatan dekat kost.
Dara kesal menendang pintu, yang memang hendak megintip percakapan Sanu dan Bari.
"Selamat ya, kamu hebat, Sanu."
"Terima kasih. Kak Bari tau kabar aku jadi asisten manager dari siapa?"
"Dari pak Hasan."
Sanu mengangkat satu alisnya belum mengerti arah pembicaraan Bari.
"Sebenarnya dari awal pak Hasan sudah tau kalau aku adalah anak dari Mira Suganda. Cuma, pak Hasan menyembunyikannya dari anak kantor, bahkan juga aku sendiri."
"Pantas saja saat kak Bari menghilang, pak Hasan tampak tenang."
"Aku ingin memgajakmu jalan minggu depan, Sanu. Kamu ada waktu?"
Sanu mengangguk dengan mantap.
"Kalau begitu, aku tunggu kamu jam delapan pagi di sini ya. Aku harus segera kembali ke rumah. Ada urusan yang harus aku selesaikan." Bari seperti biasa mengacak-acak rambut Bari.
Sanu tersenyum, sudah lama rambutnya tidak di pegang Bari. Sanu melambaikan tangan menatap kepergian Bari yang semakin jauh dari pandangannya.