Sanubari

Sanubari
Terkejut.



Rina dan Sanu mulai mempersiapkan diri membeli pakaian untuk meeting besar minggu depan. Meeting dilakukan selama tiga hari. Sanu dan Rina sudah tidak sabar ingin segera ikut meeting. Selain bisa menambah ilmu mereka juga bisa berkenalan dengan para leader yang berada di kantor lain.


Satu minggu berlalu, keberangkatan menuju hotel di kawasan pantai carita Banten di mulai. Mobil para manager di siapkan untuk menuju tempat tujuan. Sanu dan Rina duduk di belakang mobilnya pak Haris. Di perjalanan mereka bernyanyi, bercanda sambil melihat pemandangan alam yang indah. Pohon kelapa yang berada di sepanjang jalan dan kawasan pantai pasir putih di setiap mata memandang membuat mereka berdua tak henti-henti berteriak takjub. Butuh waktu kurang lebih empat jam untuk sampai ke tempat tujuan.


Pak Hasan selaku manager utama memberikan sedikit pengarahan kepada leader dan manager supaya menaati aturan yang ada di hotel ini, sekaligus memberi kunci kamar. Satu kamar akan dihuni untuk dua orang. Sanu lagi-lagi satu kamar dengan Rina. Muna dan leader yang lain berada di sebelahnya.


Sanu dan Rina menikmati Kamar hotel yang luas, kamar mandi yang memakai shower, suhu airnya juga bisa di atur panas, dingin dan sedang. Tinggal pilih saja mau mandi dengan suhu air apa. Rina dan Sanu merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk sambil berguling-guling layaknya anak kecil.


"Ini sungguh menyenangkan, Sanu. Seumur-umur aku baru menikmati ruangan senyaman ini."


"Aku juga, Rina. Sedari kecil aku tinggal di rumah gubuk jauh dari perkotaan."


Suara bising manusia terdengar di lantai bawah, rupanya kantor cabang dari Semarang, Surabaya dan Medan sudah datang. Sanu dan Rina menuruni tangga hendak berkenalan dengan mereka. Saling tukar cerita satu sama lain.


Sanu ternyata cukup terkenal di kantor cabang. Itu karena hampir tiap minggu namanya selalu berada di peringkat top guys teratas. Bahkan Sanu dipuji memilki paras yang cantik dan rambut yang indah oleh leader dan manager dari kantor lain.


Malam hari semua manager dan leader duduk di meja panjang dengan kursi tamu yang tertata rapi. Pak Hasan selaku manager utama memberi materi apa yang besok akan di berikan kepada manager kepala cabang. Besok siang juga ada seorang pengusaha muda yang sukses bernama Brian Atmaja hendak memberi ceramah motivasi.


Brian Atmaja, Sanu seperti familiar dengan nama itu. Tapi, Sanu lupa dimana. Ah ... sudahlah, mungkin ini hanya perasan Sanu saja.


Setelah dua jam mendengarkan ceramah dari manager cabang. Acara ditutup dengan makan malam secara prasmanan. Ini yang di tunggu-tunggu para leader. Makan seefood sepuasnya.


Selesai makan, para leader dan manager masih menikmati fasilitas yang ada di hotel. Bermain bilyard, berenang di malam hari atau sekedar duduk di kamar menonton tv.


Sanu dan Rina memilih duduk di balkon kamar sambil melihat pemandangan laut yang tampak kerlap kerlip oleh perahu nelayan.


"Indah sekali pemandangan," takjub Sanu.


Sanu teringat saat Bari mengajaknya di pantai ancol lima bulan yang lalu. Suasananya begitu romantis kala itu. Malam ini Sanu juga memakai syal berwarna hijau pemberian Bari.


"Hey Sanu, penyakitmu kambuh ya?" tanya Rina.


"Apa, Rina." Sanu tidak mengerti ucapan Rina.


"Penyakit senyum-senyum sendiri," ucap Rina tertawa.


"Kamu itu, Rina. Ada-ada saja. Aku tersenyum karena melihat perahu nelayan yang berkelap-kelip itu."


"Ya ya ya," Rina seperti tidak percaya dengan alasan Sanu.


"Sudahlah, Rina. Aku mau tidur saja," ucap Sanu.


Rina terkekeh, Sanu selalu saja mengalihkan pembicaraan saat dia mulai terpojok.


pagi tiba, para leader dan manager melakukan senam pagi sebelum sarapan datang. Udaranya begitu segar, berbeda dengan udara Ibu Kota yang sesak dengan polusi. Mereka bercanda ria saling bertukar cerita Tentang pengalamannya proses di lapangan.


Selesai makan, para leader dan manager masuk ke kamarnya masing-masing bersiap untuk melakukan acara berikutnya.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, semua leader sudah memasuki ruang meeting. Para manager akan memberikan pengarahan mengenai perkembangan kantor dan tata cara membangun crew.


Mereka semua terlihat mendengarkan secara seksama arahan dari para manager hingga jam istirahat tiba.


"Kita Istirahat dulu sampai jam 12.45 masuk lagi ke ruangan ini. Karena akan ada pengarahan dari pengusaha muda bernama Brian Atmaja," ucap Pak Hasan.


Semua leader dan manager menuju ke meja makan hendak makan siang. Sekelebat Sanu melihat motor sport berwarna biru dari halaman. Sanu menghampiri motor itu. Motor biru itu mirip dengan motor yang sering dipakai Bari.


"Apa mungkin Bari ada di sini," gumam Sanu.


"Hay Sanu, kamu sedang apa? Acara berikutnya akan segera di mulai," ucap Rina mengingatkan.


"Ini seperti motor yang sering di pakai Bari."


Rina menghela napas. "Yang punya motor model seperti ini banyak, Sanu. lagian Bari tidak mungkin kesini, dia kerja di Surabaya, kan."


Sanu pun masuk ke ruang meeting, mungkin apa yang dikatakan Rina benar. Bari tidak mungkin ke sini. Mungkin karena Sanu rindu dengan Bari.


Acara selanjutnya akan segera di mulai, suasana di ruang meeting tampak ramai dengan percakapan orang sekeliling. pak Hasan memegang mic menyambut pengusaha muda bernama Brian Atmaja.


Sosok pria tinggi nan tampan berjalan elegan ke podium. Pria itu memakai setelan jas berwarna hitam dengan dasi panjang serta topi bewarna biru. Seluruh audience kagum melihat pria itu. Kharismanya seolah menyihir setiap mata yang memandang.


Sanu terbelalak melihat siapa pria yang naik ke podium itu. Dia adalah Bari, seorang pengusaha muda. Sanu menggosok berulang kali netranya, hampir tidak percaya itu Bari. Ya ampun, jadi selama ini Sanu berhubungan dekat dengan seorang pengusaha muda.


"Selamat siang ..."


Seruan kompak menyambut sosok Brian Atmaja.


Bari mulai bercerita tentang pengalamannya menjadi pengusaha di usia muda. Dia juga bercerita pengalamannya yang pernah masuk di perusahaan MLM sama seperti yang lain.


Sanu tidak mendengarkan cerita Bari. Dia sudah tau itu. Sanu hanya terfokus sosok Bari yang semakin tampan dan elegan.


"Aku tidak menyangka kalau Bari adalah Brian Atmaja." Rina juga tidak kalah terkejut melihat Bari.


Sanu masih mematung, pandangannya masih tertuju kepada Bari, lamat-lamat mendengarkan ucapan Rina.


Setelah acara selesai Bari tersenyum kepada Sanu. Sanu membalas senyuman itu.


"Ayo kita keluar Sanu, mau sampai kapan kamu menatap Brian Atmaja," ucap Rina.