Sanubari

Sanubari
Sanu diculik.



Dua minggu berlalu, Kampleng masih tetap mengikuti Sanu secara diam-diam. Selama ini dia belum mendapatkan informasi dari Bari. Bahkan Kampleng tidak pernah melihat Bari bersama dengan Sanu. Ini membuat Kampleng tidak bisa memberikan informasi lebih kepada Atmaja. Setiap hari hanya informasi tentang aktifitas Sanu yang Atmaja terima dari Kampleng.


"Maaf, Tuan. Sudah dua minggu ini saya mengawasi Sanu. Tapi tidak ada perkembangan, Apa benar Sanu ada hubungannya dengan den Brian?" tanya Kampleng saat berada di ruang kerja Atmaja.


"Apa kamu meragukanku, aku melihat sendiri gadis itu datang bersama Brian. Aku hanya ingin tau apa rencana Brian membawa gadis itu ke pernikahanku."


"Bagaimana kalau kita culik gadis itu, lalu kita paksa gadis itu mengatakan dimana Brian berada," usul Kampleng.


Atmaja sejenak memegang dagunya. "Baik, tapi jangan sakiti gadis itu. Kita hanya butuh informasi dari dia saja. Setelah mendapatkan informasi dari Brian, lepaskan segera gadis kecil itu," titah Atmaja.


"Siap, Tuan. Saya akan segera menghubungi teman saya untuk menjalankan perintah ini."


Atmaja mengangguk, merestui Kampleng. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.


"Masuk," ucap Atmaja.


Glenca tersenyum dengan memakai dres biru sambil membawa tas hernes mahal yang bergelantung di tangan kirinya.


"Sayang ..." Glenca mencium pipi keriput kanan dan kirinya Atmaja.


"Ada apa kamu kesini, Sayang?" tanya Atmaja.


"Aku hanya ingin meminta tranfer uang ke kamu," jawab Glenca.


"Bukankah minggu kemarin uang bulanan kamu sudah aku tambah, kenapa kamu minta lagi."


"Uang belanja kamu hanya cukup untuk membeli tas ini, sayang. Aku malu kalau harus pergi dengan temanku hanya memakai tas itu-itu saja."


Atmaja memegang kepalanya, dia tidak habis pikir dengan kelakuan istri barunya itu.


"Baik, nanti aku tranfer ke rekeningmu."


"Gak mau, maunya sekarang," rengek Glenca.


Atmaja menatap Glenca dengan rahang yang masih mengeras, mengambil handphone yang ada di saku celananya.


📱"Imel, tolong kamu tranfer uang ke rekening istri saya, sekarang."


📱"Baik, Pak."


Telpone ditutup.


"Sekarang kamu puas, kan?"


Glenca mengangguk lalu mencium pipi suaminya itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Sayang." Dengan langkah cepat Glenca meninggalkan ruangan Atmaja.


Atmaja berteriak kesal. "Kalau begini terus aku bisa bangkrut."


Glenca keluar dari gedung di jemput sebuah mobil berwarna hitam. di dalamnya ada pria muda berdasi sedang menyetir. Glenca duduk disamping pria itu.


"Bagaimana, sayang. Berhasil." Pria itu membelai lembut rambut pendek Glenca.


Glenca mengangguk, tersenyum kepada pria itu.


"Bagus, Sayang. Kita kuras harta Atmaja, lalu kita bisa bersenang-senang," ucap pria itu tertawa.


"Tentu saja, Sayang," ucap Glenca yanf ikut tertawa.


Pria muda itu bernama Arya, teman Bari semasa kuliah, teman Glenca juga. Arya adalah orang yang dilihat Sanu saat berada di restoran Jepang. Arya juga kekasih Glenca, dia menyuruh menikahi Atmaja yang mata keranjang, supaya bisa menguras hartanya.


Mereka berdua hendak menuju ke sebuah Bank untuk mencairkan uang yang baru saja ditransfer melalui rekeningnya Glenca. Setengah buat modal usaha Arya, setengah lagi untuk mereka bersenang-senang.


"Begitu mudahhya pak tua itu tergoda rayuanku," ucap Glenca sambil tertawa.


"Itu karena kamu cantik, sayang. Pria mana yang tidak tergoda dengan orang secantik kamu," ucap Arya memegang lembut pipi Glenca.


"Ada, sayang."


"Siapa?"


"Brian bukannya tidak mau denganmu, tapi dia sebagai lelaki itu terlalu bodoh," ucap Arya.


Glenca tersenyum, memandang lekat Arya, lalu bersandar di pundak Arya.


"Sayang, aku pengen,' ucap Glenca mesra.


"Pengen apa?" tanya Arya pura-pura polos.


"Masak kamu tidak tau, sih. Kita cari hotel, yuk," balas Glenca sambil meraba lembut dagu Arya.


Arya pun tidak kuat dengan ******* manja Glenca. Arya meningkatkan kecepatan mobilnya menuju hotel terdekat hendak melakukan hubungan terlarang.


...***...


Sore hari, Kampleng dan kedua temannya sudah siap untuk menculik Sanu. Mereka bertiga memakai penutup kepala yang hanya memperlihatkan mata dan hidung mereka saja. Mereka menunggu di dalam mobil, menunggu kesempatan saat keadaan sepi.


Sanu turun dari kereta listrik bersama dengan Eko dan Agus. Menyebrang di jembatan penyebrangan.


"Itu dia orangnya?" tunjuk Kampleng kepada ketiga temannya.


"Kapan kita mulai bergerak?" tanya salah satu temennya.


"Kita tunggu waktu yang tepat." jawab Kampleng.


"Bagaimana kalau malam hari saja."


"Boleh, siapkan obat biusnya."


Sanu seperti biasanya selalu bercanda dengan Eko dan Agus setiap pulang dari teritory. Mereka melakukan Evaluasi bersama dengan santai, tidak tegang seperti leader-leader yang lainnya. Karena bagi Sanu, crew itu sudah lelah seharian pitcing, kalau mereka dibuat tegang, apa yang di ucapkan tidak akan masuk ke telinga mereka. Itu sebabnya mengapa Sanu mudah sekali mengambil simpati crew nya. Semua crew Sanu begitu respect dengannya.


Malam tiba, program pun malam sudah selesai. Sanu dan Rina hendak makan di warung Budhe. Kampleng dan kedua temannya diam-diam mengintai dari kejauhan.


Selesai makan, Sanu pamit dulu kepada Rina, hendak ke tempat fotocopy. Rina mengangguk. Kampleng dan kedua temannya pun mengikuti Sanu dari belakang. Sanu mulai merasa ada yang mengikutinya. Sanu menoleh ke belakang, tidak ada orang, hanya tukang bakso langganan yang biasa lewat. Sanu meneruskan berjalan menuju tempat fotocopy. Saat sampai di jalan utama, dari belakang seorang membekap Sanu menggunakan tisu yang sudah dicampur obat bius hingga dia pingsan. Dara yang tidak sengaja lewat, melihat Sanu dibawa dua orang yang memakai penutup wajah. Sanu segera dibawa masuk mobil.


"Bagus," ucap Kampleng.


Kampleng segera melajukan mobilnya. Dara berteriak memanggil mobil yang sudah melaju itu. Tentu saja teriakan tidak terdengar. Dara segera menuju ke kost melaporkan kejadian ini kepada Rina.


"Apa! Sanu diculik?" Rina begitu panik hendak melapor ke kantor polisi. Tapi, Dara menahannya.


"Kalau kita melaporkan kejadian ini ke kantor polisi, kita akan menunggu dua puluh empat jam. Itu terlalu lama, aku takut kak Sanu kenapa-napa."


"Terus kita harus bagaimana?" tanya Rina panik.


"Lebih baik kita panggil Kak Bari saja," ucap Dara.


"Aku tidak punya nomornya," ucap Rina.


"Aku punya, Kak."


"Dari mana kamu punya nomornya Bari."


"Itu tidak penting, yang penting Kak Sanu segera diselamatkan."


Dara segera mencari nomor kontak Bari lalu manempelkan benda pipih itu ke telinganya. Cukup lama hingga Bari mengangkat telponnya.


📱"Halo Kak Bari."


📱"Ini siapa ya?"


📱"Ini Dara, Kak."


📱"Oh, Dara. Ada apa Dara."


📱"Kak Sanu di culik, Kak. Maaf kalau Dara menelpone Kak Bari soalnya Dara bingung harus menelpone siapa lagi."


📱"Terima kasih atas informasinya, Dara. Kamu tenang saja, aku akan mencari penculik itu sampai ketemu."


📱"Terima kasih, Kak." Sambungan selesai.