Sanubari

Sanubari
Akhir Yang Manis



Nurjanah tersenyum, melihat ketulusan Bari. "Tapi ... apakah bu Mira setuju jika kalian nanti menikah."


Bari menunduk, suasana lengang sesaat.


Nurjanah mengerti isyarat dari Bari.


"Tadi Kak Bari diantar Eko sama Agus ya," ucap Sanu mengalihkan pembicaraan.


Bari mengangguk, tersenyum kepada Sanu.


"Mereka dari dulu tidak berubah."


"memangnya kenapa?"


"lihat saja tingkahnya." Sanu menunjuk Eko dan Agus yang sedang makan mie dengan lahapnya.


Bari terkekeh.


"Bisa rugi aku kalau mereka sering kesini," canda Sanu.


Bari berdiri mendorong kursi roda Sanu keluar.


"Sudah habis berapa mangkok?" tanya Bari yang melihat tumpukan piring di meja sisa makanan Agus dan Eko.


Mereka berdua hanya menyunggingkan senyum, lalu melanjutkan acara makannya.


Suara gemuruh seperti buldozer terdengar dari arah gunung merapi. Kali ini suaranya begitu keras. Hingga warga sekitar panik.


"Suara apa itu Sanu?" tanya Bari.


"itu suara gunung merapi, warga di sini sudah biasa mendengar suara itu."


"keras sekali suaranya, apa tidak mengganggu."


Sanu menggeleng. "Tidak apa-apa jika belum ada suara sirene yang ada di balai desa."


Bari menaik-turunkan kepalanya.


"Kak Sanu, Kak Bari, kita pulang dulu ya. Hari ini yang bayar makanan kami Kak Bari," ucap Agus seperti tidak punya dosa.


"Lha kok aku?"


"Kan kita yang memberi tau rumah Kak Sanu. Coba kalau kita tidak memberi tau, Kak Bari bisa tersesat lebih jauh lagi. Itu bisa menghabiskan biaya lebih banyak lagi." ucap Agus.


Bari menggaruk tengkuk belakangnya. "Terserah kalian lah."


"Kita doa kan semoga kalian langgeng. Punya anak yang banyak," ucap Eko sambil tertawa.


Suara gemuruh dari perut gunung merapi datang lagi. Kali di sertai sedikit gempa.


"Kenapa ini?" Bari sedikit panik.


"Tidak apa-apa, Kak? Sirine akan berbunyi dengan sendirinya kalau sesuatu terjadi."


Bari mencoba menenangkan pikirannya.


"Kita jalan-jalan saja yuk, Kak!" ajak Sanu.


Bari mengangguk mendorong kursi roda Sanu berjalan mengellingi desa.


"Desa kamu indah juga ya, Sanu."


"Desa ku ini termasuk tempat wisata, Kak. Kalau hari libur banyak orang dari luar daerah bermain di desaku."


Bari mendongak memutar kepalanya melihat langit sore yang biru bermahkotakan awan putih layaknya kapas.


"Ayo kita pulang, Kak. Sudah Sore," ucap Sanu.


Bari mengangguk mendorong kursi roda Sanu.


Tidak disangka Sanu berpapasan dengan Latif di pertigaan desa. Latif memandang sinis ke arah Sanu. Latif tau kalau pria yang sedang bersama Sanu itu adalah tunangannya dari Ibu Kota.


"Siapa dia? Kenapa wajahnya tidak bersahabat denganmu, Sanu?" tanya Bari.


"Dia dokter Latif, orangnya baik kok, dia banyak membantu warga di sini, Kak." Sanu tidak mau memberitahu masalahnya dengan dokter Latif kepada Bari. Takutnya nanti tadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Bari percaya dengan Sanu.


"Kak Sanu ... dari mana?" tanya gadis kecil berusia tujuh tahun.


"Clara ... kamu sudah bangun?"


"Siapa itu, Sanu?" tanya Bari.


"Ini adik perempuanku, namanya Clara," jawab Sanu.


Bari tersenyum, melambaikan tangan. "Hay Clara ... kenalan dong."


Sanu dan Bari tertawa kecil melihat tingkah Clara.


"Adik kamu bikin gemes ya, persis seperti Kakaknya," canda Bari.


Wajah pun Sanu bersemu merah, mencubit gemas pinggang Bari.


...***...


Di rumah Mira Suganda, Bondan dan Jaka berhasil mendapatkan alamat Sanu yang ada di desa. Mira dan dua anak buahnya bergegas menuju Sleman. Mira duduk di jok belakang, sedangkan Bondan dan Jaka di depan bergantian menyetir.


"Berapa lama kita sampai disana?" tanya Mira.


"Mungkin sekitar dua belas jam, Bu."


"Berarti pagi kita bisa sampai disana. Kalian jangan memaksa kalau mengantuk. Lebih baik istirahat dulu, Baru setelah itu bisa melanjutkan perjalanan lagi," perintah Mira.


"Baik, Bu."


pagi tiba, mobil Alpard warna hitam Mira telah sampai di Sleman. Mira dan dua anak buahnya sarapan di sebuah restoran sederhana disambut lagu daerah dan suara gamelan yang menenangkan hati.


selesai sarapan mereka bergegas menuju kampungnya Sanu.


Di tempat lain, Sanu dan Bari terlihat bahu membahu membuka warung. Nurjanah datang membawa barang belanja dari pasar. Para warga berebut untuk membelinya. Bari kagum dengan Sanu, walaupun dalam kondisi tidak sempurna, tapi dia tetap berhasil dimanapun tempatnya.


"panjenengan sinten? (Kamu siapa?)" tanya salah satu warga.


Bari terdiam tidak paham dengan bahasa daerah. Sanu yang menterjemahkan kepada Bari.


"Nama saya Bari, Bu. Tunangannya Sanu," jawabnya.


Warga kampung terlihat heran, mereka tidak percaya. Di sepanjang jalan mereka membicarakan tentang Sanu yang cacat bisa beruntung mendapat pria setampan Bari.


Sanu yang mendengar ghibahan warga kampung pun bersedih. Bari menguatkan Sanu kalau cintanya tidak akan pernah berubah kepadanya.


Sanu tersenyum mengucapkan terima kasih.


Tak berselang lama, sebuah mobil alpard datang teparkir di depan rumah Sanu. Jaka membuka pintu mobil. Mira yang memakai dres panjang dengan kaca mata hitam turun dengan elagan.


Para tetangga Sanu terfokus dengan mobil mewah berwarna hitam dan orang yang turun dari mobil itu.


Bari keluar hendak menengok siapa yang datang. Bari membulatkan mata saat tau mamanya datang ke rumah Sanu.


"Mama!"


"Bari! Apa yang kamu lakukan di sini? Ini bukan tempatmu," ucap Mira.


Sanu pun keluar melihat siapa yang datang. Mira melihat Sanu memakai kursi roda.


"Mama sudah tau jawabannya, kan?"


"Apa yang kamu cari dari gadis cacat itu!" hardik Mira.


Sanu hanya menununduk.


Nurjanah datang tidak terima dengan omongannya Mira.


"Maaf Bu Mira, walaupun anak saya cacat, tapi Ibu tidak seharusnya menghina."


Mira berdecak. "Saya kesini tidak untuk bertengkar dengan Ibu. Saya hanya ingin membawa anak saya pulang."


"Bari tidak mau pulang sebelum menikahi Sanu, Ma." Bari menggenggam erat tangan Sanu.


"Kamu ..." Mira menahan emosinya.


"Maaf, Ma? Bukannya Bari melawan Mama, tapi Bari sudah berjanji kepada Sanu untuk hidup bersama selamanya. Mohon Mama merestuinya." Bari dengan sadar bersujud di bawah kaki Mira.


Para tetangga Sanu pun mendukung Bari. Mereka bersorak mendesak Mira untuk merestui hubungan Sanu dan Bari.


Mira semakin tersudut, menyuruh Bari berdiri.


Mila menghela napas. menatap Bari lekat. "Baiklah, Mama akan merestui hubungan kalian. Tapi dengan satu syarat, kamu dan Sanu harus tinggal di Ibu Kota. Mama tidak mau ditinggal anak satu-satunya," ucap Mira.


Bari terharu memeluk Mira, lalu mengucapkan terima kasih.


Para tetangga Sanu pun bersorak gembira. Nurjanah yang melihat kesungguhan Bari menangis haru.


Mira mendekati Sanu, lalu memeluknya sambil terisak. "Maafkan Mama ya, Nak."


Sanu mengangguk tak kuat menahan tangis.


Bari mendekati Sanu ikut memeluknya. Nurjanah bersyukur kepada Tuhan karena telah mengembalikan kebahagiaan anaknya.


Bersambung ...