
"Kue lapis! Terima kasih ya, Sanu." Rina terlihat gembira.
Sanu tersenyum.
"Selamat ya, Sanu. Kamu hebat, besok aku akan melihat sahabatku ini menjadi manager baru." Rina mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Rina." Mereka bersalaman.
Elfa yang keluar dari kamar mandi juga mengucapkan selamat untuk Sanu.
"Dara mana, Kak?" tanya Elfa.
"Masih tidur," jawab Sanu.
"Pasti lelah ya, seharian jalan-jalan," ucap Elfa.
Sanu mengangguk.
"Aku juga ingin lho Kak, lotrip ke luar daerah, ingin cari suasana baru," ucap Eva kepada Sanu.
Mendengar ucapan dari Eva, Rina menunduk. Rina juga ingin lotrip, tapi apa daya. Dia harus punya banyak crew dulu baru boleh lotrip. Sedangkan crew nya Rina hanya itu-itu saja.
Sanu jadi merasa tidak enak kepada Rina. Wajahnya Rina terlihat murung.
"Oya, Rina. Kamu sudah makan?" Sanu mencoba mengalihkan pembicaraan.
Rina tau Sanu ingin menghiburnya. "Belum, ayo kita makan."
Sanu mengangguk mengajak Rina, ke warung Padang.
"Aku juga dong, Kak?" pinta Elfa.
"Tenang ... nanti Kak Sanu bawakan juga untuk Elfa. Kamu di sini dulu saja, temenin Dara, takutnya nanti tiba-tiba dia bangun."
"Memang kenapa kalau Dara bangun?" tanya Elfa.
Sanu berbisik kepada Elfa. "Dara kalau bangun suka mengambil makanan, dari pada kue lapis ini nanti dimakan sama Dara, lebih baik kamu jagain."
Elfa membulatkan mata, lalu mengangguk.
"Ya sudah, Kita pergi dulu ya, Elfa."
Elfa tersenyum.
Rina dan Sanu duduk berhadapan di meja makan.
"Tidak usah dipikirkan ucapan Elfa, Rina."
"Aku merasa tidak berguna saja." keluh Rina.
"Siapa bilang, buktinya sampai saat ini Elfa dan keempat crew kamu masih bertahan. Aku yakin kamu pasti bisa. Aku akan membantumu sekuat tenaga."
Rina mendongak menatap kipas angin yang berputar di langit-langit. "Entahlah, Sanu. Yang aku tau aku hanya ingin terus melakukan."
"Itu bagus, Rina. Yang penting jangan pernah menyerah."
Rina mengangguk mantap.
pesanan tiba, empat nasi bungkus dibawa pulang ke kost.
Malam harinya, Sanu ingin sekali menelpone Bari. Sanu dari tadi menatap layar handphone yang belum di aktifkan. Sanu hendak memberitahu Bari tentang dirinya saat ini. Tapi, entah kenapa tangannya begitu berat menekan layar handphone nya.
"Kak Sanu kenapa, sih? Dari tadi Dara lihat tegang amat."
"Tidak apa-apa, Dara. Mungkin aku terlalu lelah."
"Kalau lelah tidur, Kak Sanu. Bukan malah melototin handphone mati."
Sanu melirik sebal ke arah Dara. Ternyata Dari tadi Dara memperhatikannya. Sanu menaruh handponenya disamping kasur, dia lantas menarik selimutnya.
Esok harinya, penyambutan manager baru tiba. Sanu maju ke depan saat moderator memanggil namanya. Sanu memberikan kata-kata mutiara untuk para trainer dan leader yang masih berjuang. Aura Sanu begitu nyata, semua anak kantor mendengarkan perkataan Sanu dengan seksama.
Pak Nazar datang memberi selamat kepada Sanu serta memberi plakat sebagai manager baru di kantor ini. Sanu begitu bangga dengan pencapaiannya selama ini. Impiannya kini menjadi kenyataan. Selanjutnya, Sanu akan menjadikan Dara sebagai asisten manager, sesuai kesepakatan kepada buleknya.
Suasana kantor begitu sepi, tapi Sanu menikmatinya. Baru pertama kali ini Sanu merasakan enaknya jadi manager. Hanya duduk di kantor, tapi uang mengalir terus seperti atm berjalan. Kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia.
Pak Nazar mengajak Sanu jalan-jalan ke Mall. Pak Nazar hendak membeli pakaian, Sanu pun juga begitu. Mereka mampir ke Mall terdekat memilih pakaian mana yang akan di beli.
"Kamu mau beli baju apa, Sanu?" tanya pak Nazar.
"Aku mau beli celana saja, Pak Nazar."
Sanu membeli celana skinny berwarna biru terang, sedangkan, pak Nazar membeli kemeja untuk kerja.
"Kita makan yuk, Pak Nazar!" ajak Sanu.
Pak Nazar setuju. Mereka menuju lantai dua untuk mencari outlet makan. Sanu dan pak Nazar mampir di outlet KFC memesan ayam crispy lengkap dengan nasi dan minuman dinginnya. Sambil melihat keramaian di Mall.
Setelah makan Sanu mengajak pak Nazar pulang. Sudut mata Sanu tidak berhenti melihat seorang wanita muda dengan rambut pendek bergandengan mesra dengan pria muda. Itu Glenca, lagi-lagi Sanu melihat Glenca dengan seorang pria yang sama. Mereka begitu mesra, tak jarang Glenca mendaratkan ciuman ke pipi pria itu.
"Sanu." Pak Nazar membuyarkan pandangan Sanu. "Kamu lihat apa?"
"Tidak Pak Nazar. Ayo kita pulang," ajak Sanu segera beranjak dari tempat duduknya. Menuruni eskalator keluar dari Mall.
"Habis ini kamu mau kemana? Bosen lagi kalau di kantor terus."
"Aku mau tidur di kost, Pak Nazar. Badanku masih terasa pegal, belum fit sepenuhnya. Kalau Pak Nazar habis ini mau kemana?"
"Aku mau tidur di kantor." Pak Nazar terkekeh.
Setiba di kantor, Sanu mengambil tas punggungnya untuk dibawa pulang ke kost. Hari ini cuaca begitu terik, sejenak Sanu memikirkan crew nya yang ke lapangan dengan cuaca sepanas ini.
Sanu berjalan dengan pelan menuju kost.
"Sanu." seorang pria memakai topi biru menepuk pundak Sanu. Tatapan matanya tajam, hingga membuat Sanu mematung sejenak.
"Kak Bari!"
"Lagi-lagi kamu tidak memberitahuku kalau hari ini kamu diangkat menjadi manager." gerutu Bari.
"Maaf, Kak Bari. Rencananya Aku ingin memberitahumu malam hari," alasan Sanu.
"Kenapa harus malam hari, Sanu?"
"Biar lebih romantis," jawab Sanu.
Bari terkekeh, "Aku ingin mengajakmu jalan, Sanu."
"Boleh, dimana?"
"Bagaimana kalau kita jalan ke Kota Tua."
Sanu mengangguk, sambil tersenyum.
"Ayo kita menuju stasiun."
"Kak Bari tidak bawa motor?"
"Ada di parkiran, aku ingin naik kereta listrik denganmu."
"Kenapa?" tanya Sanu.
"Biar lebih romantis," jawab Bari.
"Itu kan kata-kataku."
Bari tersenyum lebar. Terlihat raut wajah cerah di Sanu. Sudah lama Sanu tidak bertemu Bari. Badan yang tadi lelah, entah kenapa saat melihat Bari menjadi segar kembali. Sanu duduk rapat di samping Bari sambil menautkan tangan mereka. Suasana kereta listrik cukup lenggang, banyak kursi yang belum terisi oleh penumpang.
Sanu tanpa sadar tertidur di bahu bari. Bari tersenyum sambil megang lembut kepala Sanu. Bari tau sekarang, kalau Sanu masih kelelahan.Tiga puluh menit perjalanan kereta, akhirnya sampai juga di stasiun Jakarta Kota. Bari berbisik lembut di telinga Sanu. Dengan mata yang masih merah, Sanu memaksa tubuhnya untuk berdiri berjalan keluar pintu kereta.
Bari memberikan minuman penyegar supaya tubuh Sanu tidak lelah.
"Terima kasih," ucap Sanu.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju Kota Tua.