
Mereka berdua pun bersalaman sebagai tanda persetujuan.
"Malam hari nanti kamu boleh ke rumah, jangan lupa, ajak dua orang yang kemarin menghabiskan biskuit buatan Bulek."
Sanu tersenyum sumringah, "Baik Bulek. Terima kasih."
Bulek Yanti pun permisi kepada Sanu dan pak Nazar yang masih menunggu di depan pintu masuk. Pak Nazar dan bulek berpapasan saling melempar senyum.
"Bagaimana, Sanu?" tanya Pak Nazar.
Sanu tersenyum, "Nanti malam Sanu diizinkan membawa Dara kesini lagi, Pak Nazar." Sanu bersorak senang memegang erat tangan pak Nazar.
"Bagus, Sanu."
"Tapi, Sanu diberi tenggang waktu setahun kepada bulek Yanti untuk menjadikan Dara minimal asisten manager."
"Tidak apa-apa, Sanu. Kamu buktikan kepada buleknya Dara kalau kamu bisa."
Sanu mengangguk penuh keyakinan sekalian minta izin untuk pulang malam.
Program pagi sudah selesai, Seperti biasa Sanu pitcing dengan kedua MD nakalnya.
"Kita jangan pitcing ke Sawah besar lagi deh, Kak. Susah dapat hukum rata-rata," keluh Agus.
"Yang susah itu pemikiranmu, buktinya Kak Sani setiap hari bisa membuktikan hukum rata-rata disana."
"Ya itu Kak Sanu, asisten manager, kita kan masih MD," alasan Eko.
"MD karatan. Kita sekali lagi pitcing kesana. Kak Sanu punya kejutan untuk kalian."
"Paling disuruh terapi banyak orang lagi," gerutu Agus.
"Sudah ikut saja, jangan banyak protes."
Agus dan Eko mengikuti arahan Sanu. Mereka pitcing disana sampai sore. Hasilnya sudah bisa di tebak, mereka berdua zero. Tapi, anehnya Sanu tidak marah kepada mereka.
"Tumben Kak Sanu tidak ngomel?" tanya Eko.
"Jadi kalian ingin Kak sanu ngomel kepada kalian."
"Tidak, Kak. Eko tuh yang minta di omelin."
"Enak Saja, kalau aku di omelin, kamu juga pasti kena omel," balas Eko.
"Sudah jangan bertengkar, ini Masjid tempat orang ibadah, bukan tempat orang berdebat tidak penting. Dari pada kalian bertengkar terus, lebih baik kalian pitcing lagi. Kak Sanu tunggu di sini," ucap Sanu.
"Kak Sanu, tidak ikut pitcing?" tanya Agus.
"Tidak, Kak Sanu ada urusan lain."
"Kalau kita pitcing lagi, nanti bisa telat pulangnya," protes Eko.
"Sudah tidak apa-apa, kan Kak Sanu sudah bilang, ada kejutan untuk kalian berdua."
"Siap," ucap serentak.
"Jangan lupa jam lima harus sudah ada di sini, kalau tidak Kak Sanu tinggal."
"Siap, Kak." Mereka berdua pun pitcing lagi.
Sanu bisa sedikit istirahat, bersandar di tiang Masjid yang sejuk. Tanpa sadar perlahan demi perlahan mata Sanu terpejam.
Eko dan Agus yang melihat Sanu tertidur, gatal ingin mengerjai Sanu. Eko mendekatkan mulutnya ke telinga Sanu sambil berteriak kebakaran.
Sanu dengan cepat terbangun gelagapan, melihat Eko dan Agus tertawa lepas. Sanu menjadi kesal.
"Kalian ini ya, berani mengerjai leadernya." Sanu menjewer telinga Eko dan Agus hingga mereka mengerang kesakitan.
"Sakit, Kak! Kita janji, tidak akan ganggu Kak Sanu saat tidur."
Sanu pun melepas jewerannya. Eko dan Agus memegang telinga mereka yang tampak merah.
"Ayo ikut Kak Sanu."
Tanpa protes mereka berdua mengikuti langkah Sanu. Mereka di ajak ke rumah buleknya Dara lagi.
"Kok kita kesini lagi?" Tanya Agus.
Sanu menempelkan jari telunjuknya menyuruh Agus diam.
"Walaikum salam." Bulek dengan senyum sumringah menghampiri Sanu. Eko dan Agus menjadi heran dengan sikap ramah bulek.
"Kalian, mari masuk, bulek sudah siapkan makan malam. Terutama untuk kalian berdua," tunjuk bulek kepada Eko dan Agus.
"Terima kasih, Bulek," ucap Eko.
"Makan malam, coy?" bisik Agus.
Mereka berdua begitu senang, kebetulan sekali perut mereka sangat lapar.
Buleknya Dara menyiapkan gudeg beserta lauk tempe, tahu, telur dan ayam goreng. Agus dan Eko sudah tidak sabar untuk menikmatinya. Aroma harum yang tersaji di meja makan membuat liur Agus dan Eko mengalir deras di sela-sela lidah.
"Silahkan dimakan," ucap bulek dengan ramah.
Agus dan Eko berebut centong berlomba mengambil nasi terlebih dulu. Namun, Sanu menegur mereka berdua karena berisik. Akhirnya Sanulah yang terlebih dulu mengambil nasi itu. Agus Dan Eko tampak menggerutu kepada Sanu.
Bulek hanya tersenyum melihat kelakar mereka bertiga.
"Masakan bulek, benar-benar juara," puji Agus yang masih dalam posisi makan.
Bulek tersenyum mengucapkan terima kasih kepada Agus.
Sanu sudah selesai makan, dia meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang hanya tinggal sisa tulang ayam saja. Sedangkan Agus dan Eko masih dalam aktifitas makan, entah sudah berapa piring yang mereka habiskan. Perut mereka berdua seperti tidak ada kenyangnya, selalu lapar. Sanu jadi malu dengan kelakuan Agus dan Eko.
"Dara sudah tau Bulek?" tanya Sanu.
Bulek menggeleng, "Belum, Bulek ingin memberi kejutan Dara."
"Daranya dimana, Bulek?"
"Bulek sengaja menyuruh Dara keluar, paling habis isyak dia sudah pulang."
Sanu menggangguk. Ternyata Bulek Yanti tidak segala yang Sanu bayangkan. Bulek sangat baik jika bisa mengenalnya lebih dalam lagi.
Tak berselang lama, suara motor terdengar di halaman rumah. Sanu sejenak menengok ke arah pintu. Ternyata itu Dara sedang membawa kardus yang di taruh di jok depan motor maticnya.
"Eko, Agus, bantu Kak Dara," perintah Sanu.
Eko dan Agus yang sudah selesai makan menghampiri Dara.
"Kalian kok ada di sini?" tanya Dara.
"Ceritanya panjang, Kak," ucap Eko sambil membawa kardus yang terlihat berat itu.
Dara masuk ke rumah, melihat Sanu duduk di meja makan dengan bulek Yanti.
"Kak Sanu." Dara terheran dengan kedatangan Sanu.
"Hay Dara ...," sapa Sanu.
"Kak Sanu sudah lama di sini?" tanya Dara yang masih heran.
"Lumayan."
"Dara, duduk dulu sini, Nak," ucap bulek Yanti.
Dara duduk, melihat bingung kedekatan Sanu dan bulek nya.
"Bulek sudah membicarakan ini kepada Sanu tadi pagi."
"Maksud, Bulek."
"Bulek mengizikanmu proses kelapangan, tapi dengan syarat hanya satu tahun. Jika selama satupun tidak ada perubahan, bulek akan menjemputmu kembali."
Dara pun menangis haru, berterima kasih kepada bulek nya. Dara berjanji akan memanfaatkan waktu setahun ini dengan sebaik-baiknya.
"Kamu boleh berkemas malam ini juga, Dara. Panggil dua anak laki-laki itu membantumu berkemas."
Sanu memanggil Eko dan Agus untuk membawakan barang-barang Dara.
Sanu baru tau kenapa bulek Yanti menyuruh Eko dan Agus ikut. Ternyata untuk membawakan barang-barang Dara yang banyak dan berat.
Ada empat kardus sudah dikemas, Eko Dan Agus masing-masing membawa dua kardus. Mereka tampak kesusahan, Dara tidak tega melihatnya. Tapi, Sanu mencegah Dara membantunya, sebab, mereka berdua menghabiskan makanan bulek yanti.
Dara baru tau, ternyata ini alasan bulek menyiapkan hidangan yang enak. Dara yang tadinya kasihan dengan Eko dan Agus. Sekarang malah tertawa sendiri, membiarkan mereka bersusah payah membawa barang-barangnya.