
Sanu menemukan adik dan ibunya. Adik perempuan Sanu sedang tertidur disamping Nurjanah yang tampak kesulitan mengambil udara. Tubuh ibu Sanu semakin kurus.
"Ibu," ucap Sanu lirih.
Nurjanah tersenyum melihat Sanu datang. Sanu langsung mencium punggung tangan ibunya yang mulai menua. Membelai lembut rambut adiknya yang tertidur pulas.
Sanu menemui dokter memintanya untuk memindahkan kamar ibunya ke ruangan ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Dokter menyarankan agar ibunya Sanu segera di operasi dengan menyedot lendir yang ada di rongga paru-paru nya. Karena cairan lendir yang ada di dalam rongga paru-paru ibunya sudah semakin banyak. Ini menyebabkan Nurjanah sulit untuk benapas.
Sanu mengiyakan ucapan dokter. Biaya operasi penyedotan lendir pun tergolong murah. Sanu masih punya uang pemberian Bari. Rencananya Sanu akan memakai uang itu untuk biaya operasi Ibunya Sanu.
Dokter segera memindahkan Nurjanah ke ruang operasi. Clara masih tertidur lelap, sepertinya dia sangat kelelahan. Sanu menatap adiknya dengan lekat. Clara bertambah tinggi, usianya hampir lima tahun sekarang.
Oiya ... Sanu lupa belum menghubungi Bari. Sanu segera merogoh saku celana skinny nya mengambil benda pipih itu memberitahu Bari bahwa dia sudah sampai di kampung.
Tidak perlu waktu lama, Bari membalas pesan dari Sanu. Dia bilang 'semangat ya, Sanu. Jangan lupa oleh-olehnya.'
Sanu tersenyum sambil memberikan emoji jempol ke atas.
Sanu segera ke ruang receptionist untuk melakukan pembayaran. Sanu membuka amplop coklat dari Bari. Alangkah terkejutnya Sanu, melihat uang yang ada di dalam amplop coklat itu. jumlah uangnya dua juta, ini lebih dari cukup. Dari mana Bari mendapatkan uang sebanyak ini?
Sanu segera membayar biaya operasi ibunya lalu duduk di ruang tunggu rumah sakit. Dia masih memikirkan uang dari Bari. Apa mungkin Bari menabung? Kalau dipikir-pikir Bari memang sering membuktikan sistem di lapangan, dia juga tidak pernah bangun orang. Sikap misterius Bari selalu membuat Sanu bertanya sendiri dalam hati.
Suara rengekan anak kecil memanggil ibu membuyarkan lamunan Sanu. Sanu segera menghampiri sumber suara itu.
"Clara ..." sapa Sanu penuh semangat.
sedetik itupun Clara terdiam melihat kakaknya ada di depannya.
"Kak Sanu ...."Clara langsung memeluk Sanu sambil merengek. Clara terlihat Rindu dengan kakanya kandungnya itu. Sanu mengambil tas punggungnya memberikan coklat kepada Clara.
"Telima kasih Kak Sanu." Clara langsung membuka bungkus coklat lalu memakannya.
"Sama-sama, Clara ...."
"Ibu dimana, Kak."
"Ibu sedang dirawat dokter, sayang."
"Ibu sedang sakit Kak Sanu. Clala yang melawat ibu," ucap Clara dengan polosnya.
"Clara hebat." Sanu mengacungkan dua jempol untuk Clara.
Sanu kembali memeluk tubuh mungil adiknya. Bagaimanapun juga anak seusia Clara tidak seharusnya menanggung beban seberat ini.
Sanu tanpa sadar meneteskan bulir bening di pipi lalu menatap lekat Clara.
"Kak Sanu nangis, ya," ucap Clara.
Sanu sedikit tercengang, lalu dia menyeka pipinya.
"Kak Sanu jangan nangis, kalau Kak Sanu nangis, Clala juga ikut nangis." Clara pun menangis dengan sendirinya.
Sanu kembali mendekap tubuh mungil adiknya mencoba menenangkannya.
Dokter yang menangani ibunya, menghampiri Sanu.
"Operasinya sudah selesai, jika besok kondisi pasien sudah membaik bisa langsung pulang." Dokter itu tersenyum mengabarkan kondisi ibu Sanu.
Sanu mengucap syukur ibunya bisa diselamatkan.
"Clara, ayo kita lihat ibu."
Clara mengangguk, berjalan bergandengan tangan dengan Sanu.
Sanu dan Clara hanya bisa melihat dibalik kaca. Menatap Nurjanah dengan samar.
...***...
Siang mulai benderang, seorang perawat memberitahu kepada Sanu bahwa ibunya telah siuman. Sanu memanggil Clara yang sedang bermain dengan anak yang lainnya untuk segera ke kamar Nurjanah. Dengan langkah cepat Sanu memggendong Clara menuju kamar perawatan ibunya.
Disana dokter masih mengecek kondisi ibunya memakai alat tensi darah.
Dokter tersenyum kepada Sanu, "Kondisi pasien semakin baik, mungkin besok bisa pulang."
Sanu memandang dokter itu penuh haru, mengucapkan terima kasih
Nurjanah tersenyum haru kepada Sanu dan Clara. Menciumi kepala kedua anak kandungnya. Tangisan kebahagiaan mengiringi keluarga kecil mereka.
Suara telpon berbunyi nyaring di saku celana Sanu. Mila, salah satu crew Sanu menelponnya. Mila bilang, dia rindu dengan Sanu mila juga mempertanyakan kapan akan kembali ke jakarta.
Sanu menjawab minggu depan.
Sanu kembali ke kamar perawatan ibunya.
"Telpon dari siapa, Nak?" tanya ibunya dengan suara pelan.
"Dari teman kerja, Bu?"
Nurjanah tersenyum, "Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak."
Suster datang, menyuruh Sanu dan Clara keluar karena kondisi ibunya masih lemah.
"Sanu dan Clara pulang dulu, Bu. Mau membersihkan rumah."
Nurjanah mengangguk.
Sanu pulang memesan ojeg online, Sanu duduk di belakang sedang Clara duduk di depan tukang ojeg.
Rumah Sanu tampak kotor dan berdebu. Mungkin sudah berhari-hari tidak dibersihkan. Sanu dan Clara mulai melakukan pekerjaan rumahnya. membersihkan debu yang menempel di setiap rumah.
Setelah selesai membersihkan rumah, Clara langsung tertidur di kursi tamu yang terbuat dari kayu. Sanu tertawa kecil melihat tingkah lucu adiknya itu. Sanu segera memindahkan Clara di tempat tidurnya.
Sanu juga letih, semenjak pulang, dia hanya tidur di kereta. Sanu merebahkan tubuhnya di kursi tamu yang panjang. Melemaskan otot-ototnya supaya tidak terlalu pegal.
Malam tiba, bintang di lereng pegunungan merapi tampak jelas dan indah. Sanu bangun dari lelahnya. Clara masih tertidur. Perut Sanu terasa lapar, Sanu mencari Warung makan terdekat, membeli nasi bungkus untuk dia dan Clara.
Sanu teringat dengan Bari jika berhubungan dengan nasi bungkus. Bari selalu memberi nasi bungkus jika Sanu sedang tidak ada uang. Sosok Bari membuat Sanu ingin kembali ke Ibu Kota. Sanu mendongak ke atas melihat satu bintang yang terpancar indah di langit. Dia mengibaratkan bintang itu adalah Bari. Terang benderang menyinari hati Sanu.
Clara terbangun meminta makanan kepada Sanu.
"Kak Sanu, pelut Clala." Clara memegangi perutnya menandakan dia lapar.
Sanu memberikan Nasi bungkus berisi telur dan susu untuk Clara.
Esok menjelang, Sanu dan Clara menjemput ibunya pulang dari rumah sakit. Kondisinya masih lemah, tapi sudah bisa berjalan walaupun dengan langkah pelan. Butuh waktu dua tiga hari untuk memulihkan badannya. Dokter memberikan beberapa obat untuk dikonsumsi ibunya.
Sanu pamit dan mengucapkan terima kasih untuk dokter yang merawat ibunya. Kali ini, Sanu memesan mobil online untuk perjalanan pulang. Mobil online itu berhenti tepat di halaman rumah Sanu.
Sanu menuntun ibunya menuju rumah, duduk di kursi rumah.
"Terima kasih ya, Nak."
Sanu tersenyum tipis kepada Nurjanah.
"Ibu istirahat saja, biar Sanu yang memesan makanan."
Nurjanah tersenyum haru, dia bersyukur punya anak yang baik seperti Sanu dan Clara.