Sanubari

Sanubari
Jejak Kampleng.



Di tempat lain, Bondan melaporkan kepada Mira bahwa mobil yang di kendarai Bari rem nya Blong. Polisi sedang menyelidikinya kenapa rem nya bisa blong padahal mobilnya baru.


"Kalau memang benar ada yang mencelakai anakku, aku tidak akan pernah memaafkannya," ucap Mira tajam menatap kedepan.


Sebuah mobil berwarna silver datang. Itu mobil milik Ali.


"Selamat pagi, Bu." Sapa Ali.


"Dari mana saja kamu baru terlihat?" tanya Mira sinis.


"Saya baru saja selesai mengurus pemakaman pak Atmaja, Bu."


Mira menghela napas. "Apa ada laporan terbaru tentang kecelakaan yang di alami anakku."


"Saya yakin ini sudah di rencanakan. Saya akan mencari tau ini," ucap Ali.


"Siapa yang kamu curigai?"


"Glenca," jawab Bari singkat.


Mira mendengus, matanya mrnatap tajam ke depan, rahangnya mengeras. "Jika memang wanita busuk itu pelakunya, aku akan membuat hidupnya sengsara seumur hidup."


"Kita harus mencari buktinya terlebih dahulu," ucap Ali.


"Bondan! kamu bantu Ali," perintah Mira.


"Baik, Nyonya." Bondan mengangguk.


Ali dan Bondan segera menuju rumahnya pak Atmaja.


"Mau kemana kita?" tanya Bondan.


"Ke rumah pak Atmaja. Aku mau bertanya kepada Mbok Yem."


Bondan terkekeh. "Kebetulan, sudah lama aku tidak bertemu dengan teman lama."


Mobil Ali berhenti dengan sempurna di halaman rumah Atmaja. Mbok yem dan kerabat terlihat sedang menyiapkan hidangan untuk tahlilan nanti malam.


Ali dan Bondan menghampiri mbok Yem. "Bisa ikut saya sebentar Mbok?"


"Bisa, Mas. Memang ada apa ya. Bukan apa-apa lho soalnya Mbok sedang sibuk menyiapkan acara tahlilan nanti malam."


"Kita duduk dulu, Mbok. Tidak lama." Ali mengajak mbok yem duduk di ruang tamu.


"baik, Mas."


Mereka bedua duduk berhadapan.


"Sebelum kecelakaan, pergi kemana Brian dan pak Atmaja, kenapa Sanu juga ikut ke dalam mobil?"


"Pak Atmaja mau cek up ke rumah sakit, biasanya di antara sama Kampleng, kebetulan Kampleng sedang sakit, jadi pak Atmaja meminta tolong kepada den Brian untuk mengantarkannya, saat itu den Brian membawa Sanu datang kerumah."


"Dimana Kampleng?" tanya Bondan


"Mungkin masih di rumahnya," jawab mbok Yem.


Ali dan Bondan saling menatap, terlihat ada kejanggalan.


"Terima kasih ya, Mbok."


"Sama-sama, Mas. Saya permisi dulu." mbok Yem beranjak dari ruang tamu menuju dapur.


"Kita ke rumah sakit, semoga ada petunjuk," ucap Ali.


Bondan mengangguk, mengikuti langkah Ali.


Glenca dari jendela kamar mengawasi Ali dan Bondan.


"Kalian tidak akan mendapat bukti apa-apa," ucap Glenca tersenyum sinis.


"Aku curiga kalau ini ada hubungannya dengan Kampleng," ucap Bondan saat dalam perjalanan.


"semoga ada cctv yang mengawasi aktifitas mereka."


Ali dan Bondan sampai di rumah sakit memarkirkan mobilnya.


"Kita tanya kepada receptionis." Ali dan Bondan masuk ke dalam.


"Mau tanya, Mbak? Bisa mbak tunjukan, jam berapa pasien stroke yang bernama Atmaja cek up.


"Baik." Receptionist terlihat mengetik laptop nya. "Jam delapan tiga puluh sampai setengah sepuluh pagi, Pak?"


"Ruangan cctv dimana ya?"


"Lurus saja Pak, mentok belok kanan?"


Ali tersenyum mengucapkan terima kasih, lalu menuju ruangan cctv.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Petugas membuka pintu. "Ada yang bisa saya bantu."


"Baik." Petugas memutar kembali saat Bari dan Sanu mengantar Atmaja cek up.


Ali dan Bondan terlihat mengawasi dengan detail lewat layar cctv. Di jam 8.45 seorang memakai jaket kulit mengendap di antara mobil yang tersusun rapi. Bondan menyuruh menzoom wajah orang itu. Itu adalah Kampleng, mata Bondan terbelalak saat Kampleng masuk ke bawah mobil sambil membawa tank, gunting, dan pisau.


"Bukankah mbok Yem bilang Kampleng sedang sakit?" tanya Bondan.


Ali begitu geram saat tau kalau Kampleng adalah pelakunya.


"Kita cari Kampleng." Ali dan Bondan segera menuju rumah Kampleng.


Rumahnya terlihat sepi, Istrinya bilang kalau Kampleng dari semalam pergi sampai saat ini belum kembali.


"Kamu tau dimana biasanya Kampleng nongkrong?" tanya Ali.


Bondan hendak mengajak Ali ketempat biasa Kampleng bersantai, tapi Jaka menelponenya.


📱"Ada apa, Jack."


📱"Sudah dengar kabar belum, Bang."


📱"Kabar apa? Kalau ngomong yang jelas."


📱"Kampleng meninggal, Bang. Keracunan sianida."


📱"Dari mana kamu tau."


📱"Di televisi, Bang. Coba Bang Bondan lihat berita atau koran pagi ini."


Bondan langsung mematikan handphone nya.


"Ada apa?" tanya Ali penasaran.


"Kampleng katanya meninggal, coba lihat di berita terbaru."


Ali segera melihat kabar berita dari handphone nya bersama dengan Bondan.


"Ini penuh dengan kejanggalan."


"Kita ke diskotik saat Kampleng meninggal." Mereka berdua menuju kesana.


Disana sudah ada polisi dan seorang manager diskotik. Ali mendekati manager itu. Bersalaman memperkenalkan diri kalau Ali adalah orang yang bertanggung jawab atas korban.


"Apa anda sudah melihat cctv sebelumnya?" tanya Ali kepada manager itu.


"Sudah, karyawan saya yang memberi gelas berisi sianida itu pun tidak tau. Tapi dia bersama seorang teman."


"Bisa saya lihat ulang rekaman cctv nya."


"Bisa. Mari ikut saya," ucap manager itu.


Manager diskotik itu memperlihatkan rekaman ulang saat Kampleng datang ke diskotik.


"sepertinya aku tidak asing dengan wajah orang ini."


"Itu Arya temannya mas Brian saat masih kuliah. Dulu dia sering datang ke rumah pak Atmaja," ucap Bondan menjelaskan kepada Ali.


"Mengapa Arya bisa kenal Kampleng?" tanya Ali.


"Aku juga tidak tau," jawab Bondan.


Ali dan Bondan terus melihat rekaman cctv terlihat seorang gadis muda keluar dari ruangan membawa gelas yang di tujukan untuk Kampleng.


"Sepertinya Kampleng memang sengaja diracuni," ucap Bondan


"Anda mengenal teman korban?" tanya manager diskotik.


Bondan mengangguk.


"Coba selidiki orang itu, aku curiga dia lah pelakunya."


Ali mengangguk. "Anda tau dimana korban di makamkan?"


"Petugas rumah sakit yang tau, karena sebelum di makamkan rencananya tubuhnya akan diperiksa dulu."


"Terima kasih atas informasinya." Ali dan Bondan segera menuju rumah sakit tempat Kampleng di autopsi.


Sesampainya di rumah sakit Ali dan Bondan menuju ruang receptionist.


"Apa kemarin malam ada pasien meninggal bernama Ali Ridho atau Kampleng.


"Betul, Pak. Orangnya sudah di makamkan oleh petugas. Itu kehendak keluarganya, Pak."


"Siapa namanya?" tanya Ali.


"Pak Arya," jawab receptionist itu.


Ali memegang rambutnya, terlihat geram. "Di mana almarhum di makamkan.


"Di TPU Menteng Pulo."


Ali dan Bondan kembali mencari jejak Kampleng mengendarai mobil dengan kencang. Mereka berdua berdiri di pusara Kampleng. bondan memegang nisan menangis mamanjatkan doa semoga Kampleng diterima di sisiNya. Bondan teringat masa-masa saat bersama Kampleng belajar di perguruan silat bersama, hingga merantau ke Ibu Kota bersama.


Bersambung ...