
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil yang ditumpangi Sanu sampai depan rumah. Sanu turun dari mobil setelah membayar biaya perjalanannya. Sanu menghirup dalam-dalam udara desa yang sejuk. Suasana begitu sepi, sebab masih jam 2 dini hari.
Sanu melihat lamat-lamat rumahnya, yang dari dulu tidak ada perubahan. bertembok tanpa plamir semen dan kayu penyangga yang semakin rapuh dimakan rayap. Sanu berjalan pelan mengetuk rumah yang masih terkunci. Suara Sanu lirih memanggil nama ibu.
Ketukan demi ketukan pintu di lancarkan Sanu. Nurjanah yang masih belum terpejam matanya lirih mendengar suara dari pintu menyebut kata ibu.
Nurjanah segera beranjak dari tempat tidur, melihat dari jendela rumah, siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? Nurjanah segera membuka pintu rumahnya setelah tau anaknya datang dari Ibu Kota.
"Sanu ...! Kamu pulang, Nak?" Nurjanah tidak kuasa menahan Air matanya.
"Ibu." Sanu memeluk tubuh renta ibunya yang berlinang air mata.
"Kamu semakin cantik, Nak," ucap Nurjanah saat memandangi wajah ayu Sanu.
Sanu tersenyum tipis lalu masuk rumah duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Kesehatan Ibu bagaimana?" tanya Sanu.
"Ibu baik, Nak. Sekarang ibu bisa berobat gratis di puskesmas terdekat. Dokternya pun sangat baik kepada Ibu."
"Siapa yang mengantar ibu ke puskesmas?" tanya Sanu.
"Ibu naik ojeg yang ada di ujung perbatasan desa."
Sanu tersenyum simpul Lalu beranjak dari tempat duduknya melihat adiknya Clara yang tertidur pulas. Sanu mencubit kecil pipi Clara yang cabi itu.
"Clara sudah besar ya, Bu."
"Tahun ini Clara sudah masuk SD, usianya hampir enam tahun," ucap Nurjanah.
Nurjanah beranjak dari samping Sanu.
"Ibu mau kemana?" tanya Sanu.
"Ibu mau membersihkan kamarmu, Nak? Sudah lama kamarmu tidak ada yang memakai."
"Tidak usah, Bu. Biar Sanu saja. Ibu istirahat saja."
"Jangan begitu, ibu masih kuat. Keadaan ibumu ini sudah lebih baik semenjak ada dokter Latif."
"Siapa itu dokter Latif, Bu?
"Dokter puskesmas yang memeriksa ibu. Kamu harus berkenalan dengan dokter Latif, orangnya baik."
Sanu tampak cuek dengan ucapan ibunya. Dia lebih memilih membuka isi tas nya.
"Ibu ... Sanu punya hadiah untuk Ibu."
"Taruh saja di meja," ucap Nurjanah yang masih membersihkan kamar Sanu.
Sanu menaruhnya di meja.
"Sudah selesai, kamu bisa menempatinya sekarang."
Sanu tersenyum, mengangkat barang bawaannya menuju kamar. Nurjanah terbelalak dengan banyak pakaian baru yang ada di meja.
"Sanu apa ini punya kamu, Nak."
"Itu untuk Ibu," jawab Sanu saat sedang menaruh barang di kamarnya.
"Banyak sekali, Nak."
Sanu menghampiri Nurjanah. "Gak pa-pa, biar ibu terlihat lebih cantik saat ketemu dengan pak Dokter." Sanu mengedipkan Satu matanya.
"Kamu ini ada-ada saja, Justru ibu ingin menjodohkanmu dengan dokter Latif," canda Nurjanah.
Sanu tersenyum lebar menatap ibunya.
"Kamu kerja apa, Nak. Penampilanmu tampak berbeda sekali."
"Sanu kerja di kantor distribusi, jabatan Sanu termasuk tinggi disana, Bu. Nanti Sanu akan membeli barang-barang yang lebih layak untuk ibu dan Clara."
Nurjanah kembali menangis, mengucap syukur karena anaknya sukses di Ibu Kota. Sanu menyeka pipi ibunya yang semakin menua, menatap lekat wajah ibunya.
"Sanu ke kamar dulu ya, Bu? Sanu mau istirahat."
Nurjanah memandang foto almarhum suaminya yang terpasang di dinding rumah yang dulu berharap anaknya akan sukses di masa depan.
"Pak ... anakmu saiki wes dadi uwong.(Pak ... anakmu sekarang sudah sukses," ucap Nurjanah lirih sambil mengusap lembut foto almarhum suaminya.
...***...
Esok harinya, Sanu masih tertidur dengan pulasnya. Tiba-tiba sebuah tangan kecil menepuk di pipinya. Tangan itu begitu lembut, tapi Sanu masih tetap merasakan sedikit Sakit. Sanu mencoba membuka matanya. Lamat-lamat dia melihat seorang anak kecil tersenyum dengan lucunya.
"Clara ...? Kak Sanu 'kan masih ngantuk." Sanu menguap menutup mulutnya.
"Mana oleh-oleh buat Clara." Clara menodongkan tangannya.
"Sebentar ya, Cantik. Kak Sanu mau cuci muka dulu." Sanu mencubit gemas pipi cabi Clara.
Clara mengangguk, dengan lugunya anak berumur enam tahun duduk di pinggir kasur.
Setelah mencuci mukanya, Sanu mengambil toples yang berisi coklat dan beberapa baju untuk adiknya.
"Taraa ...! Kak Sanu belikan coklat dan baju untuk Clara."
Clara tersenyum riang, menari-nari tidak beraturan. Sanu melebarkan bibirnya hingga terlihat giginya yang rapi melihat tingkah lucu adiknya itu.
Sanu melihat jam dinding yang menempel disamping foto almarhum ayahnya. Jam menunjukan pukul delapan pagi. Nurjanah terlihat sudah rapi dengan baju barunya.
"Mau kemana, Bu?" tanya Sanu.
"Ibu mau ke puskesmas, periksa rutin."
"Sanu antar ya, Bu."
"Boleh. Clara diajak sekalian."
"Sanu mandi dulu ya, Bu."
Nurjanah mengangguk. "Ibu tunggu di luar."
Sanu mengangguk segera menuju kamar mandi. Tiga puluh menit Nurjanah menunggu. Sanu keluar dengan Memakai celana skinny yang ujungnya di lipat hingga memperlihatkan mata kakinya dan kemeja biru tua. Itu warna yang disukai Bari. Sanu terlihat cantik dengan rambut panjang nan lurus berkilau keemasan.
"Ayo, Bu. Sanu sudah siap."
Ibunya terpukau melihat penampilan anaknya yang semakin cantik. "Kamu semakin dewasa semakin cantik, Sanu."
"Anak siapa dulu dong?" Sanu tersenyum mendekatkan wajahnya ke Nurjanah."
"Ibu Nurjanah," sahut Clara.
"Clara pintar!" seru Sanu bergandengan tangan dengan Clara.
Nurjanah menjadi malu sendiri di buatnya. Mereka bertiga berjalan menuju perbatasan desa, jaraknya lima ratus meter dari rumah Sanu. Dalam perjalan, para warga kampung tampak pangling dengan Sanu yang sekarang. Terlihat cantik dan lebih dewasa.
"Nur, anakmu wes muleh, tambah ayu.(Nur anakmu sudah pulang, tambah cantik)," ucap Salah satu warga.
"Iyo, Mbak. Lagi muleh soko Ibu Kota. (Iya, Mbak. Baru pulang dari Ibu Kota)."
Clara tidak henti meluapkan rasa senangnya karena Kakaknya telah pulang. Terkadang dia juga menarik tangan Sanu karena tingkah jahilnya.
"Itu tukang ojegnya," ucap Syamsiah menunjuk pangkalan ojeg.
"Terno neng puskesmas, kang. Pit loro ae, seng cilik ben tak pangku, (Antar ke puskesmas, Pak. Motor dua saja, yang kecil biar saya pangku)," ucap Nurjanah.
"Tidak usah, Bu. Nanti ibu capek, Motor tiga sekalian saja, Bang," Sahut Sanu.
"Lho ... iki anakmu seng paling gedi iku to. Walah ... ayu temen, ( Ini anakmu yang paling besar itu, kan. Cantik benar," ucap salah satu tukang ojeg.
"Wes ora usah ngodo, ayo ndang mangkat, (Sudah tidak usah menggoda, ayo cepat berangkat)."
Sekitar sepuluh menit perjalanan, Nurjanah dan kedua anaknya sampai di depan puskesmas. Nurjanah mengambil nomor antrian, kebetulan belum ada pasien yang datang.
Seorang pria muda memakai jas putih khas dokter memanggil nama Nurjanah.
Bersambung ...