
Muna yang melihat begitu banyaknya orang yang mengerumuninya begitu marah.
"Lihat apa kalian? Pergi kalian semua! Kalian hanya ingin melihatku menderita, kan!"
Muna menangis berteriak sebal. Dia sudah tidak peduli lagi nasibnya di kantor ini. Muna hanya ingin meluapkan kekesalannya kepada semua orang. Orang-orang yang mengerumuninya pun pergi.
Kini Muna sendirian di kamar, menangis meratapi nasibnya.
Esok hari para leader dan manager di ajak pak Hasan pergi ke pantai untuk bermain wahana di sana. Mereka semua bermain air dan menaiki Banana boots. Wajah mereka tampak riang, jarang-jarang mereka bisa tamasya seperti ini.
Sanu ada di dalam kamar, tubuhnya masih lemah.
'Ceklak ...' Bari membuka pintu kamar Sanu.
Sanu yang masih terbaring memakai selimut tebal tersenyum tipis kepada Bari.
"Hay Sanu, mari sarapan dulu," ucap Bari membawakan bubur hangat untuk Sanu.
Bari menyuapi satu sendok bubur ke mulut sanu. Sambil menguyah bubur, Sanu menatap Bari lekat.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Bari.
"Jadi nama aslimu adalah Brian?"
"Itu nama pemberian orang tua ku."
"Kenapa kamu tidak memakai nama itu saja?" tanya Sanu.
Bari tersenyum sambil menyuapi Bari. Suasana lengang.
"Jadi aku harus memanggilmu apa?"
"Panggil saja aku Bari. Aku lebih suka nama itu dari pada nama Brian Atmaja."
"Kenapa?"
"Karena dengan nama itu aku bisa terhubung denganmu."
Sanu menunduk, wajahnya bersemu merah.
Bari kembali menyuapi Sanu untuk yang kesekian kalinya. Sanu menggeleng manja. Bari sedikit memaksa Sanu untuk menghabiskan makanannya. Bubur yang ada di mangkok pun sudah habis. Bari meletakkan mangkok bubur di meja samping tempat tidur Sanu.
Bari lalu menatap Sanu lekat. Dengan wajah malu Sanu Memberanikan diri menatap Bari. Mata mereka berdua saling menatap. Bari mencondongkan tubuhnya hendak mencium Sanu. Sanu memejamkan matanya terlihat bersiap ingin di cium Bari.
"Ach ...!" Suara teriakan terdengar di kamar sebelah.
Bari dan Sanu terperanjat. Suara itu dari kamarnya Muna
"Kamu tunggu di sini, Sanu." Bari segera memeriksa keadaan Muna.
Muna terlihat tergeletak di lantai menahan sakit.
Bari segera menolong Muna, tapi Muna dengan segera menepis tangan Bari.
"Aku tidak butuh bantuanmu."
Sanu mendengar suara keras dari Muna. Dia penasaran berjalan keluar kamar menghampiri Bari.
"Muna, kamu kenapa?"
Muna terdiam lalu menatap Sanu dan Bari dengan tatapan sinis.
"Muna ...! Jaga mulut kamu!" bentak Bari.
"Ternyata kalian memanfaatkan keadaan ini untuk melakukan hal mesum. Iya, kan."
Sambil tergopoh Muna mencoba berdiri menahan sakit duduk di tepi kasur. Muna terlihat seperti orang yang tidak waras. semenjak kejadian kemarin, cara bicara Muna menjadi ngelantur. Emosinya seperti tidak terkendali.
Bari memilih meninggalkan Muna, mununtun Sanu ke kamarnya.
Matahari mulai berada di atas kepala. para leader dan manager pulang ke hotel setelah bersenang-senang. Mereka menyantap makan siang sebelum bersiap kembali ke Ibu Kota.
Kondisi Sanu juga sudah mulai membaik.
"Wajahmu cerah sekali hari ini, Rina?"
"Benarkah, mungkin karena hari ini aku gembira bisa menginap di hotel yang mewah dan bermain Banana boots di laut," terang Rina.
Mungkin juga begitu, bukan hanya Rina yang wajahnya tampak lebih segar. leader yang lain juga seperti itu. Mungkin beban yang mereka tanggung sedikit hilang dengan diadakannya meeting ini.
Rina dan Sanu mengemas barang-barang mereka. Bari dari pagi tadi sudah pergi. Katanya ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Bari berpesan kepada Sanu untuk semangat proses di lapangan. Sanu memegang teguh kata dari Bari. Sehabis pulang dari sini, Sanu berjanji akan semangat menggapai impiannya menjadi manager.
Suasana hotel begitu ramai dengan hiruk pikuk manusia yang memadati ruangan. Mereka melakukan foto bersama untuk kenang-kenangan. kapan lagi bisa melakukan hal seperti ini lagi. Mungkin tahun depan kalau masih di adakan.
Muna satu mobil dengan Sanu dan Rina. Muna berjalan pincang memakai tongkat penyangga duduk di kursi depan, sedang Sanu dan Rina duduk di belakang. Suasana di mobil begitu hening. Rina dan Sanu memilih diam supaya Muna tidak berteriak menegur mereka karena alasan berisik.
Walaupun dalam hati Sanu marah kepada Muna. Karena dialah orang yang menyebabkan Sanu celaka. Tapi, Muna juga yang membuat Sanu mendapat perhatian lebih dari Bari. Ditambah lagi, para manager akan memberi hukuman yang pantas kepada Muna.
Empat jam perjalanan dari pantai carita, akhirnya sampai juga di depan kantor. Jam menunjukan pukul sembilan malam. Mereka bertiga turun dari mobil di sambut Dara dan Elfa yang berteriak histeris melihat Sanu dan Rina datang.
Muna dengan kaki pincang menatap tajam Dara dan Elfa berjalan menuju kost nya.
Dara berbisik kepada Sanu. "Kak Muna kenapa?"
"Jatuh." jawab Sanu singkat.
Sanu dan Rina mengajak Dara dan Elfa ke kost, hendak menceritakan pengalaman mereka meeting dengan para leader dan manager. Mereka begitu antusias mendengarkan cerita dari para leadernya masing-masing. Dara ingin sekali mengikuti meeting leader tahun depan, begitupun dengan Elfa.
Esok harinya, para manager memutuskan untuk mengeluarkan Muna. Sebagian besar anak kantor terlihat senang. Selama ini mereka menghormati Muna karena Muna adalah senior di kantor ini. Tapi sebagian besar anak kantor tidak suka dengan sikap semena-mena nya Muna. Ditambah lagi hari ini Muna tidak datang ke kantor.
Elfa dan Rina mencoba menghampiri Muna di kost. Tapi pintu kost dikunci. Padahal kakinya Muna masih butuh perawatan.
"Kemana Kak Muna?" Rina mencoba mencari di sekitaran kost. Tapi tidak menemukan Muna.
Rina dan Elfa kembali ke kantor untuk melaporkan kejadian ini kepada pak Nazar.
"Kak Muna tidak ada di kost, Pak Nazar."
Pak Nazar pun khawatir kalau Muna pulang ke rumah mengadukan kepada orangtuanya. Rencananya, pihak kantor akan nenanggung biaya pengobatan Muna.
Pak Nazar pun melaporkan kejadian ini kepada Manager utama.
"Jika memang Muna tidak ada di kost, tunggu sajalah. Muna tidak akan jauh-jauh dari sini," ucap pak Hasan.
"Tapi bagaimana kalau Muna bercerita yang tidak-tidak kepada orangtuanya."
Pak Hasan memegang dagunya tampak berpikir. "Kita hadapi saja, pak Nazar. Lagi pula, saya punya bukti rekaman saat Sanu dijatuhkan ke kolam. Kita bisa memakai alat bukti itu untuk melawannya, kalau memang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
Pak Nazar pun tersenyum lega. Ternyata pak Hasan sudah memikirkan perkara ini sejauh ini. Pak Hasan adalah teman proses pak Nazar saat mereka masih muda. Cuman pak Hasan lebih dulu menjadi manager. Pak Nazar butuh proses delapan tahun untuk menjadi manager. Sedang pak Hasan cuman dua tahun.