Sanubari

Sanubari
Nonton Film.



Malam hari, Dara melihat Sanu Sedang menyiram bunga melati di kamar kost.


"Kak Sanu ...!" Dara secara spontan memeluk erat Sanu hingga dada Sanu sesak.


"Dara, kapan kamu akan melepas pelukan ini, dadaku mulai sesak."


Dara pun melepas pelukannya.


"Aku khawatir dengan Kak Sanu, kemarin malam aku melihat Kak Sanu di culik di masukan ke dalam mobil. Syukurlah Kak Sanu tidak apa-apa."


Sanu tersenyum, "Terima kasih ya, Dara. Berkat kamu aku bisa terselamatkan."


"Jadi kak Bari yang menyelamatkan, Kak Sanu."


Sanu mengangguk.


Dara menepuk dahinya. "Ingin sekali aku diculik supaya Kak Bari menyelamatkanku."


"Kamu ini, Dara. Ada ada saja."


"Rina datang bersama Elfa melihat Sanu sedang bercengkrama dengan Dara.


"Sanu ...! Kamu tidak apa-apa, kan." Wajah Rina tampak khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Rina. Tenang saja."


"Syukurlah, Sanu. Aku mengkhawatirkanmu."


"Apa Kak Sanu kenal dengan penculik itu?" tanya Elfa.


"Tidak, Elfa. Aku juga tidak tau kenapa aku bisa di culik," alasan Sanu.


"Kalau kenal itu namanya bukan diculik, Elfa. Tapi, diajak main ke rumahnya," sahut Dara.


Mereka berempat pun tertawa.


Di tempat lain Bari mengutus Bondan dan Jaka untuk menjaga Sanu secara diam-diam sampai menjadi manager. Bari tidak ingin proses perjuamgan Sanu terganggu.


"Aku percayakan Sanu kepada kalian."


"Siap, Mas."


Bari pun segera kembali ke Surabaya. Jauh-jauh dari jakarta hanya untuk menyelamatkan Sanu.


Esok hari, Sanu Masuk ke kantor seperti biasa. Pak Nazar yang melihat Sanu pun tidak sabar untuk bertanya.


"Sudah sembuh, Sanu."


Sanu mengernyitkan dahinya. "Sembuh?"


"Kata Dara vertigo kamu kambuh?"


Sanu menyunggingkan senyum kepada pak Nazar lalu masuk ke kantor.


Pak Nazar pun merasa aneh dengan sikap Sanu.


Sanu naik ke lantai tiga disana sudah ada Agus dan Eko sedang belajar sistem.


"Eh ... Kak Sanu," sapa Agus.


Sanu tersenyum.


"Katanya kemarin Kak Sanu sakit, ya?" tanya Eko.


"Iya ... kenapa kalian tidak menjengukku," goda Sanu.


"Kemarin sebenarnya kita ingin jenguk Kak Sanu, cuma kita berdua capek muter-muter teritory."


"Salah sendiri muter-muter, kalian kemarin zero ya," tunjuk Sanu.


Eko dan Agus tertawa nyengir.


"Sudah kuduga,"


"Kalian itu sudah besar harus bisa berdikari, memang kalian tidak mau jadi trainer kaya kak Dara?"


"Mau sih, tapi kita masih ingin pitcing dengan Kak Sanu. Nanti kalau kita jadi trainer, harus cari teritory sendiri," ucap Eko.


Sanu tertawa menutup mulutnya. "Kalian ini ada-ada saja."


Dara dan crew yang lain datang menghampiri Sanu.


"Kemana saja kamu, Dara?" tanya Sanu.


"Aku di rooftop, Kak. sedang belajar sistem," jawab Dara.


"Kamu tidak usah berbohong kepadaku, Dara. Aku tau kamu di rooftop hanya ingin ngobrol dengan teman-teman yang lain."


Dara tersenyum nyengir menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


Sanu sudah seperti ibu-ibu yang setiap hari harus menasehati anaknya untuk disiplin. Karena dia sudah punya banyak crew, jadi kesibukannya di kantor, ya mengurus crew nya. Tapi semua crew Sanu, merasa senang dengan perhatian Sanu. Contohnya Eko dan Agus yang selalu ingin pitcing dengan Sanu. Mereka berdua tidak akan semangat, kalau pitcing dengan leader lain.


Di kantor, Sanu juga di hormati oleh leader lain, Sanu menunjukan kerja kerasnya walaupun banyak masalah yang menimpanya. Sanu selalu memberi contoh kepada leader yang lain, bagaimana bersikap yang baik kepada crew.


...***...


Hari minggu telah tiba, Sanu dan yang lainnya berencana untuk jalan-jalan.


"Hari ini kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Dara kepada Sanu.


"Bagaimana kalau kita ke Ragunan."


"Males ah, tidak ada cogan," balas Dara.


"Kita nonton film, yuk!" usul Elfa.


"Ide yang bagus, aku sudah lama tidak menonton film di bioskop."


Semua tampak setuju. Mereka berempat menuju mall di kawasan depok menaiki kereta listrik.


Suasana di mall begitu ramai, wajar saja ini hari libur. Banyak orang-orang membawa sanak keluarganya untuk sekedar menikmati waktu senggang mereka.


Sanu, Elfa, Dara dan Rina masuk membeli tiket hendak menonton film romantis. Bioskop di mulai setengah jam lagi. Mereka berempat duduk di kursi panjang sambil membeli popcorn untuk sekedar mengisi perut mereka.


Dara dan Elfa begitu centil saat melihat banyaknya cowok ganteng berkeliaran di area studio. Rina menegur mereka agar matanya tidak jelalatan.


"Kenapa sih, Kak. Kan jarang-jarang bisa lihat cowok ganteng," ucap Elfa.


"Iya Kak Rina paham, tapi jangan terlalu mencolok gitu, dong. Kayak Kak Rina ini lho, santai, tenang, walaupun pengen juga."


Sanu tertawa, "Aku kira kamu tidak tertarik dengan pria, Rina."


"Enak saja, aku masih normal ya? Nanti kalau aku jadi manager, wajahku akan ku permak," canda Rina.


mereka semua tertawa teepingkal. Sanu dan yang lain tidak bisa membanyangkan kalau wajahnya Rina di dandani.


Pintu bioskop terbuka, pengunjung yang sedari tadi menunggu di luar segera masuk ke dalam. Sanu, Rina, Dara dan Elfa duduk di kursi bagian tengah. Mereka berempat tampak tidak sabar menunggu pemutaran film perdananya.


Terlebih lagi Sanu, ini pertama kalinya dia menonton film di bioskop. Ruangannya begitu gelap, hanya layar besar yang menerangi tempat duduk para pengunjung. Suasananya romantis memang, terlebih lagi jika membawa pasangan menonton bersama.


Di dalam ruangan juga ada karyawan yang menjajakan makanan dan minuman. Sanu sekali lagi membeli dua popcorn dan dua minuman dingin untuk Dara dan Elfa. Mereka berdua sangat suka yang namanya ngemil. Terlebih Elfa, semanjak proses di sini, tubuhnya tidak bertambah kurus malah bertambah gemuk sebab setiap malam dia selalu ngemil.


Flim sudah berjalan selama tiga puluh menit. Sanu melihat kiri dan kanan terlihat Elfa dan Dara menangis melihat adegan film romantis itu. Sanu tidak mengerti mengapa mereka menangis, ini kan hanya sebuah film? Sanu mencoba bertanya kepada Elfa dan Dara kenapa mereka menangis? Tapi, mereka berdua malah menyuruh Sanu diam. Sanu menjadi kesal sendiri, dia berpindah tempat duduk di samping Rina hendak bertanya. Ternyata Rina juga menangis melihat film itu. Sanu semakin heran, kenapa mereka hanya menonton film bisa menangis.


Sanu menggoyang-goyang tubuh Rina yang mungil.


"Hey, Rina. Kenapa kamu menangis?"


"Apa sih, Sanu. Kamu tidak lihat aku sedang apa," ucap Rina.


Sanu melipat tangannya, sebal kepada mereka bertiga. Bagi Sanu hari ini mereka menyebalkan. Sanu pun dengan wajah cemberut memakan popcorn yang hendak diberikan kepada Dara dan Elfa.


"Apa yang dipikirkan mereka, hingga menangis seperti itu." Sanu mencoba mencerna pemikirannya.