Sanubari

Sanubari
Sanu Pulang.



Semua staf terkejut, mereka tidak mengira perusahaan tempat mereka bertiga sedang dalam kondisi kritis.


"Memang apa yang terjadi dengan perusahaan kita?" tanya salah satu staf.


Bendahara perusahaan menjelaskan. "Selama lima bulan ini uang kas perusahaan sering di pakai pak Atmaja untuk kebutuhan istrinya."


Bendahara perusahaan memberikan data berapa pengeluaran perusahaan selama lima bulan ini.


Semua staf tercengang melihat pengeluaran perusahaan. Mereka tidak menyadari kalau selama ini pak Atmaja sering mengambil uang kas perusahaan.


"Ini gila. Buat apa pak Atmaja mengambil uang sebanyak ini," geram salah satu staf.


"Tidak perlu di permasalahkan lagi, yang terpenting bagaimana kita menyelamatkan perusahaan ini. Rencana saya akan mencari investor untuk menanamkan uang di perusahaan ini. Kalian ada usul lain?" Bari mencoba menenangkan kondisi.


"Maaf, Pak. Apa perusahaan ini akan di jual?" tanya salah satu staf.


"Tidak, kita hanya meminjam uang dalam bentuk jatuh tempo kepada investor. Mungkin selama tiga tahun."


"Berarti Pak Brian sedang berjudi?"


"Kurang lebih seperti itu. Apa kalian ada cara yang lebih baik lagi selain ini."


para staf terdiam, mereka tidak punya pilihan lagi selain mengikuti ide dari Bari.


"Tidak ada yang menjawab, berarti kalian setuju dengan ide ku ini," ucap Bari.


"Kami setuju, Pak. Tapi masalahnya, siapa yang mau meminjamkan uang sebesar itu."


"Kita cari jalan keluarnya bersama-sama. Tugas utama kita sekarang mencari investor untuk perusahaan kita. Ada pertanyaan?"


Semua menggelengkan kepalanya.


"Baik, meeting saya tutup. Sukses untuk kalian semua."


Semuanya kembali ke ruangannya masing-masing. Tinggal Bari dan Ali yang masih bersandar di kursi empuknya.


"Kamu hebat, Brian. Jiwa kepemimpinan kamu benar-benar kuat," ucap Ali.


"Sudahlah, kamu jangan sering memujiku."


"Aku bukan tipikal orang yang suka memuji, aku hanya berbicara sesuai kenyataan. Dari mana kamu bisa mendapatkan ilmu seperti itu?"


"Dari lapangan!" jawab Bari singkat.


"Maksudmu, Sales."


Bari mengangguk menatap Ali.


Malam tiba, Sanu tengah bersiap mengepakkan barang untuk persiapan pulang besok.


"Ceklak ...." Pintu kamar terbuka.


"Kak Sanu mau kemana? Tanya Dara saat dia baru pulang ke kost.


"Aku besok mau pulang, Dara."


"Lha ... sepi dong di kost sendirian. Kak Sanu sudah bilang sama pak Nazar."


"Sudah."


"Berapa lama Kak Sanu di kampung?"


"Mungkin satu minggu. Kak Sanu rindu sama adik dan Ibu yang ada di kampung. Kamu bagaimana hari ini di lapangan."


"Prestasi dong! Semua crew Dara juga bisa membuktikan hukum rata-rata."


"Keren, selepas Kak Sanu pulang, Kak Sanu akan menggembleng kamu supaya cepat jadi asment. Kamu siap Dara."


"Siap. Dara pengen buktikan sama keluarga Dara, kalau Dara bisa sukses di Ibu Kota."


"Bagus, Dara. Itu yang Kak Sanu suka darimu."


"Pukul tujuh malam."


"Dara antar ya!"


"Tidak usah, Kak Sanu bisa sendiri."


Tiba-tiba wajah Dara menyelidik. "Dara tau ... pasti Kak Sanu di antarkan sama kak Bari, makanya Dara tidak boleh mengantar."


Sanu menaruh koper dan tas dipojok ruangan. "Bukan itu alasannya Dara. Kalau kamu mengantar Kak Sanu, siapa yang akan menjaga crew kamu?"


Dara mengangguk-anggukkan kepalanya, terasa masuk akal alasan Sanu kali ini.


"Sana mandi, jangan bertanya terus. Badan kamu bau keringat, Dara." Sanu menjepit hidungnya dengan tangannya.


Dara mencium aroma keringat yang menempel di bajunya. Dengan seketika Dara menutup hidungnya.


"Bau."


"Sudah tau bau, dicium," cibir Sanu.


Dara segera mengambil handuk yang berada di balik pintu, lalu menuju kamar mandi.


...***...


Adzan Magrib berkumandang, Sanu segera melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim sebelum berangkat ke stasiun Pasar Senen.


Setengah jam lagi kereta akan berangkat, Suasana di stasiun begitu ramai. Sanu duduk di peron menunggu kedatangan kereta dengan penumpang lainnya. Biasanya kereta sedikit terlambat.


Bunyi tut ... tut ... tut ... memekakan telinga Sanu. Kereta arah Sleman datang, para penumpang segera memasuki kereta mencari nomor duduk masing-masing. Sanu berada di gerbong delapan nomor kursi dua puluh tiga. Sesaat Sanu memandang dari arah jendela melihat aktifitas di dalam stasiun. Pemandangan yang jarang dilihat oleh Sanu. Para Pramuniaga menawarkan tenaga untuk membantu membawa barang. Seorang anak kecil merengek minta di gendong, padahal bapaknya masih membawa barang banyak.


Tak berselang lama, seorang suami istri paruh baya duduk disamping Sanu tersenyum ramah. Sanu membalas senyuman suami-istri yang masih setia dalam suka maupun duka itu.


Suara lembut annoucer terdengar di setiap telinga penumpang. Sang annaucer memberitahu kereta akan berangkat lima menit lagi. Sanu akan menempuh perjalanan sekitar enam jam. Itu berarti, sekitar pukul satu Sanu baru sampai di stasiun Maguwo Sleman.


Kereta Bogowonto arah Jogja dengan gagah mulai memutar rodanya. Suasana malam tampak hening, hanya bunyi mesin kereta yang kadang memekakkan telinga. Suami-Istri paruh baya terdidur saling bersandar di bahu dengan wajah lelah.


Tak berselang lama, Pramugara menawarkan selimut dan makanan instan untuk sekedar mengisi perut dan menahan dingin dari Ac kereta.


Sanu sekali lagi menatap dari jendela kereta, tidak ada yang istimewa. Hanya lampu rumah penduduk yang terang menghiasi malam.


Setengah perjalanan kereta berhenti di Tasikmalaya. Sebagian penumpang keluar untuk sekedar menghirup napas dan yang laki-laki menyalakan rokok sambil bertukar pikiran dengan penumpang lainnya.


Sekitar lima belas menit istrahat, kereta kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Tinggal tiga jam lagi untuk sampai di stasiun Maguwo Sleman.


Sanu memutuskan untuk tidur sejenak, bersandar di kursi sambil mendengarkan lagu sendu menggunakan headset.


Malam semakin larut, Sanu terbangun lalu melihat jam yang ada di tangan kirinya. Sudah pukul dua belas malam, satu jam lagi Sanu akan tiba di Sleman. Sanu menoleh ke kiri, suami-istri paruh baya tersenyum kepada Sanu.


"Turun dimana, Nak?" tanya sang istri.


"Sleman, Bu. Kalau ibu turun dimana?"


"Bantul."


"Panjenengan tiyang Bantul to, Bu?(Anda orang bantul, Bu)?" tanya Sanu.


"Nggeh(Iya)" Sang istri mengangguk.


Sanu dan Suami-Istri itu saling bercakap-cakap, hingga tak terasa kereta Bogowonto berhenti di stasiun Maguwo Sleman.


Sanu turun sambil membawa barang bawaannya yang cukup berat. Seorang Pramuniaga dengan sopan menawarkan diri untuk membawa barang bawaan Sanu.


"Sampai jalan utama ya, Pak," ucap Sanu.


"Baik, Mbak."


Setelah membayar jasa Pramuniaga, Sanu memesan mobil online untuk mengantarnya sampai ke rumahnya. Sekitar lima menit menunggu, Mobil pesanan Sanu datang. Sanu segera masuk mobil. Sang supir memakai mabs untuk petunjuk arah menuju rumah Sanu. Desa Sanu memang lumayan jauh dari stasiun, wajar saja karena desanya terletak di lereng gunung merapi. Jadi harus melewati jalan yang cukup terjal untuk sampai kesana.