
Hari-hari dilalui Sanu seperti biasa, semenjak kejadian Muna yang menyebabkan crew Sanu keluar, Muna mulai dijauhi para trainer. Bahkan trainer yang awalnya mendukungnya kini berbalik menjauhinya. Muna dianggap sosok licik yang menghalalkan segala cara.
Hari demi hari sikap Muna mulai berubah. Dia mulai ramah terhadap Sanu. Sering menawarkan makanan saat Sanu dan yang lainnya sedang santai di kantor. Tapi, seperti kata Rina. Sanu harus tetap waspada kepada Muna.
Hari ini sudah memasuki awal bulan, itu artinya, minggu ini Sanu akan bertemu dengan Bari. Sanu sudah tidak sabar menunggu hari minggu. Sanu membayangkan Bari, pasti dia sedang sibuk bekerja.
Sanu masih di jalan hendak menuju kost, Saat sampai di kost Rina dan crew nya yang bernama Elfa berada di dalam mengobrol dengan Dara.
"Dari mana saja kamu, Sanu?" tanya Rina.
"Aku habis fotocopy, Rina." Sanu meletakkan tas punggungnya di samping tempat tidur.
"Hari minggu nanti rencananya kita mau jalan, kamu mau ikut?" ajak Rina.
"Aku mau ke tempat Aida, Rina. Ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Aida siapa, Kak?" tanya Dara.
"Teman satu kampung."
"Aku ikut ya," ucap Dara.
"Jangan ... lebih baik kamu ikut dengan Kak Rina saja. Soalnya Kak Sanu lama di tempat Aida. Kamu pasti akan bosan, Dara," Sanu beralasan.
"Benar Dara, aku pernah ikut sekali dengan Sanu ketempat temannya, seharian aku hanya diam melihat mereka ngobrol."
Dara menaik turunkan kepalanya.
"Ya sudah, aku mau buat goal dulu. Ayo Elfa kita buat goal buat besok." Rina dan Elfa kembali ke kost yang hanya bersebelahan dengan kos nya Sanu.
Suara handphone berbunyi dari saku celana Sanu. Itu dari Bari, Sanu senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Bari.
"Kak Sanu kenapa ... kok senyum sendiri?" tanya Dara yang melihat Sanu.
"Ah ... tidak, Dara. Temanku mengirim emoji yang lucu. Jadi aku merasa geli melihat emoji itu."
Dara mengernyikan dahinya.
Sanu mengambil handuk yang berada di balik pintu lalu meletakkan handphone nya di atas kasur. Suaranya guyuran air menandakan Sanu sedang mandi.
Suara handphone Sanu berbunyi, Dara melihat notifikasi yang muncul dari layar handphone. Tertera nam Bari yang mengirim pesan kepada Sanu.
Dara penasaran ingin membuka isi pesan itu. Tapi, Dara tidak tau kunci untuk membukanya. Dara pun meletakkan hp itu ke tempat semula.
Tiga puluh menit Sanu keluar dari kamar mandi. Manik mata Dara terfokus dengan kalung yang melingkar di leher Sanu. Dara tergelitik untuk bertanya.
"Kalung kak Sanu bagus.?"
Sanu menunduk melihat kalung tertulis SanuBari itu. "Ini pemberian seseorang."
"Seseorang ... pacar Kak Sanu ya," tebak Dara.
Sanu tersentak. "Bukan! Ini dari teman."
Dara menatap Sanu menyeringai. "Teman atau teman ... wajah Kak Sanu kok memerah."
"Apaan sih kamu, Dara. sudah ah, Kak Sanu mau ganti baju. Kamu sudah buat goal belum."
"Sudah, Kak."
Dara masih penasaran dengan orang yang bernama Bari. Rencananya dia hendak bertanya kepada Rina. Rina pasti tau siapa itu Bari.
Hari minggu tiba, Dara Elfa dan Rina sudah berpakaian rapi hendak jalan-jalan ke Monas.
"Kamu kapan ke tempat Aida, Sanu."
"Nanti siang saja, Rina. Aku mau tiduran dulu."
"Kita berangkat dulu ya, Sanu."
"Sanu mengagguk, "Semangat ya.
jalan-jalannya."
"Kak Rina."
"Apa, Dara." Rina masih memainkan handphonenya.
"Bari itu siapa?"
Rina sontak ke menoleh arah Dara. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu."
"Kemarin aku tidak sengaja melihat pesan dari Bari hp nya kak Sanu. Terus, kak Sanu juga punya kalung betuliskan SanuBari. Aku curiga itu pacarnya kak Sanu."
"Kamu buka Hp nya Sanu, ya."
"Tidak Kak, waktu itu hp nya di taruh di tempat tidur, kak Sanunya sedang mandi. lagian aku tidak bisa membuka nomor pin nya."
Rina menepuk keningnya.
"Kenapa?" tanya Dara.
"Tidak apa-apa. Bari itu hanya teman, mantan anak proses juga." Rina beralasan.
...***...
Sanu menunggu Bari di jalan utama dekat kostnya. Tak lama berselang, Bari datang menggunakan motor sport berwarna biru berhenti di depan Sanu.
Bari membuka helm nya. "Sudah lama menunggu, Sanu."
"Tidak, Kak "
"Ayo kita berangkat."
Sanu duduk di belakang melingkarkan tangannya ke pinggang Bari.
Kali ini Bari mengajak Sanu ke Ancol. Masuk ke pintu gerbang melihat pemandangan laut lepas. Sanu berlari berteriak kencang saat sampai di bibir pantai, bersahutan dengan suara angin yang mengibas-ibaskan rambut indahnya.
Sanu sangat jarang melihat laut karena kampung halamannya yang terletak di lereng gunung merapi. setiap hari yang dilihat hanya pepohonan rindang dan suara gemuruh gunung.
Sanu berjalan di jembatan cinta ancol supaya lebih luas melihat laut yang terhampar di setiap mata memandang.
Bari menghampiri Sanu. "Kamu gembira sekali hari ini, Sanu."
Sanu menyunggingkan senyum. "Aku jarang melihat pantai.
Sanu dan Bari duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Sanu menceritakan perkembangannya satu bulan ini kepada Bari. Dari yang memiliki crew cantik bernama Dara hingga terbongkarnya kejahatan Muna yang membuat ketiga MD nya keluar.
Bari terkejut saat Sanu menceritakan tentang kejahatan Muna.
"Itu sudah perbuatan krimanal, Sanu. Dia seharusnya tau kalau bangun orang itu sangat susah. Kamu harus berhati-hati dengan Muna."
Sanu mengangguk, "Rina juga memberitahuku seperti itu, Kak."
Sanu bersandar di pundak Bari yang terasa hangat. Pundak yang memberi ketenangan bagi Sanu. Pundak yang membuat Sanu bisa bercerita apapun. Pundak yang selalu dirindukan Sanu untuk bersandar.
Kali ini Bari yang mulai bercerita tentang pekerjaannya yang semakin hari semakin memusingkan kepalanya. Bari juga meminta izin kepada Sanu untuk merestuinya berangkat ke Surabaya.
"Kenapa harus ke Surabaya?" tanya Sanu.
"Aku dimutasi disana, Sanu."
"Kapan Kak Bari berangkat ke Surabaya?"
"Minggu depan." jawab Bari singkat.
Sanu menatap Bari lekat. Mungkin Sanu akan jarang sekali bertemu dengan Bari.
"Mungkin kita akan bertemu dua kali dalam setahun. Kamu sabar ya." Bari memegang lembut rambut Sanu.
Sanu tersenyum, "Semangat ya, Kak."
Angin laut semakin menusuk tulang, Langit sore pun mulai menampakkan cahaya keemasannya.
Sanu dan Bari beranjak dari jembatan dermaga cinta ancol yang begitu romantis. Sanu duduk di belakang Bari yang menaiki motornya. Sanu menangis, seakan tidak merelakan kepergian Bari. Dalam hati, Sanu ingin Bari tetap di sini. Bari hanya mengantar Sanu sampai di depan stasiun Pasar Minggu.