
📱"Minta coklat, Baju sama sepatu."
📱"Siap cantik."
📱"Clara mau main dulu, Daa, Kak Sanu."
Sanu tersenyum haru, handphone di kembalikan kepada Aida.
📱"Sudah dulu ya bu."
📱"Iya, Nak. Jangan lupa jaga kesehatan."
📱"Siap," ucap Aida.
Sanu menghela napas lega.
"Sekarang kamu sudah tenangkan, Sanu."
Sanu mengangguk, tersenyum kepada Aida.
"Aku mau pulang, Aida. Besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat kantor."
Aida mengangguk, "Kamu naik apa?"
"aku mau pesan ojek online, biar lebih cepat sampai."
"Hati-hati, Sanu. Salam dari teman kantormu."
Sanu mengangguk, berpamitan dengan Aida.
Sesampainya di tempat kost, Sanu melihat Dara yang sudah tertidur pulas. Sanu mengambil handuk yang ada di gantungan balik pintu menuju kamar mandi. Sedari tadi Sanu memang belum mandi.
pagi telah tiba, Seorang berusia empat puluh tahunan dengan kumis tebal duduk di warung depan kantor Sanu memesan kopi hitam. Pria itu adalah Kampleng, orang suruhannya pak Atmaja. Kampleng mendapat kabar dari temannya kalau Sanu bekerja sebagai MLM di Pasar minggu. Kampleng mengawasinya dari warung kopi depan kantor.
Terlihat pak Nazar berada di depan pintu masuk kantor, apa yang dikatakan teman Kampleng benar adanya. Kampleng melihat Sanu masuk kantor. Kampleng pun memfoto lokasi tempat kerja Sanu lalu dikirimkannya foto itu ke pak Atmaja.
Pak Atmaja menyuruh Kampleng mengirim lokasinya serta mengikuti dimana Sanu akan beroperasi.
Jam menunjukan pukul sembilan pagi, Sanu dan anak pitcing lainnya, keluar dari kantor. Sanu masih ke teritory kemarin, daerah Kelapa Gading. Kampleng mengikuti dari belakang. Kampleng menelpone Atmaja memberi tau secara detail tempat Sanu pitcing. Tempat itu tidak jauh dari kantornya Atmaja.
"Kasih tantangan lagi dong, Kak Sanu. Biar kita semangat," ucap Agus.
Sanu menghembuskan napas kasar. "Kalian itu ya, semangat jangan karena di beri tantangan."
"Supaya kita bisa lebih semangat, Kak Sanu," sahut Eko.
Sanu menatap serius kedua MD. "Oke, tapi tantangan kali ini tidak semudah sebelumnya."
"Apa, Kak. Katakan saja, kita pasti bisa menaklukannya," ucap Agus.
"Yang pertama kalian berdua harus bisa membuktikan hukum rata-rata. Yang kedua, salah satu dari kalian harus bisa closing batu bata dengan harga yang sama dengan alat dolpin ini," jelas Sanu.
"Bagaimana caranya kami bisa menjual batu bata semahal itu?"
"Ya dengan komunikasilah. Kalian jangan terfokus dengan batu bata nya, tapi kalian harus membuat castamer percaya dengan apa yang kalian punya."
Agus dan Eko saling menatap satu sama lain. "Apa hadiah untuk kami."
"Ambil uang penjualan batu bata kalian. Biar Kak Sanu nanti yang mengganti uang castamer. Tapi kalau kalian gagal, kalian berdua harus traktir Kak Sanu."
"Baik, kita setuju." Agus dan Eko bersalaman dengan Sanu.
Mereka berdua pun pitcing dengan semangat.
"Ingat apa yang dikatakan Kak Sanu, pakai komunikasi," ucap Agus kepada Eko
Siang pas waktu dzuhur mereka sudah bisa membuktikan hukum rata-rata. Kini tinggal bagaimana caranya menjual batu bata seharga alat dolpin. Sanu mulai ketar-ketir, kalau Kampleng bisa dia harus memberi uang tiga ratus lima puluh ribu. itu uang jajan yang diberikan pak Hasan kepada Sanu selama satu minggu. Ditambah lagi alat yang ada di tas punggung Sanu belum terjual.
Eko dan Agus mencari batu bata yang masih utuh lalu membungkusnya dengan plastik hitam serta di ikat dengan karet.
Mereka mulai pitcing menyusuri pintu ke pintu. Sangat susah memang, tapi Agus dan Eko bukanlah pria yang mudah menyerah begitu saja. Mereka terus berusaha sampai jam pulang berakhir.
Sore telah tiba, Sanu menunggu Eko dan Agus di Mushola. Hari ini Sanu bisa membuktikan hukum rata-rata. Agus dan Eko berjalan pelan dengan wajah murung.
Sanu tersenyum hendak mengejek mereka. "Wajah kalian kenapa, pasti gagal ya?"
Mereka berdua terdiam sejenak, Secara tiba-tiba Eko menunjukan uang closing batu bata di depan wajah Sanu.
"Taraa ... kita berhasil, Kak Sanu harus tepati janji." Eko dan Agus menari-nari tidak beaturan.
"Ya sudah antar Kak Sanu ketempat castamer kalian?"
Agus dan Eko terdiam, raut wajahnya mulai berubah.
"Kenapa, kalau kalian tidak menggantarku, mana aku tau rumahnya," ucap Sanu.
Eko dan Agus saling menunjuk satu sama lain. Sanu menjadi curiga, jangan-jangan mereka berdua berbohong. Eko dan Agus hanya tersenyum nyengir menatap Sanu.
Sanu mendelikan matanya, dahinya mengerut, Sanu sudah menebak dari gerakan tubuh mereka berdua.
"Kak Sanu tau sekarang, kalian pengen kualat." Sanu menjewer telinga Agus dan Eko hingga mereka berdua menjinjitkan badannya.
"Sakit, Kak ...! Iya iya kita tidak akan bohong lagi."
Sanu melepas jewerannya. Eko dan Agus memegangi telinga yang memerah.
"Karena kalian kalah, nanti malam kalian berdua harus mentraktir makan Kak Sanu sepuasnya."
"Tentu, tapi jangan mahal-mahal ya, Kak?" tawar Agus.
Sanu melipat kedua tangannya lalu membuang muka kepada Eko dan Agus. "Terserah aku dong."
"Ya sudahlah," ucap Agus dengan malas.
Di tengah keasyikan mereka, Kampleng dengan wajah serius datang menemui Sanu.
"Siapa anda?" tanya Sanu.
"Kamu yang bernama, Sanu?"
"Betul."
"Bisa ikut saya," ucap Kampleng.
"Memang ada apa ya, saya tidak kenal dengan anda."
"Bos saya ingin bicara dengan anda."
"Siapa nama bos kamu?"
"Nanti juga anda akan tau?"
"Maaf saya tidak bisa menuruti kemauan anda.". Sanu pun pergi meninggalkan pria bertubuh kekar itu
Kampleng segera menelpone Atmaja.
📱"Bos, orangnya tidak mau di ajak bicara."
📱"Oke tidak apa-apa, kamu terus awasi dia.'
📱"Siap bos." Sambungan berakhir.
Sanu terlihat berjalan terburu-buru. Ada banyak pertanyaan di benaknya, tentang bapak berkumis tebal itu. Ini pasti ada hubungannya dengan Bari.
"Siapa orang itu, Kak Sanu?" tanya Eko.
"Entahlah aku tidak tau."
"Kenapa orang itu mencari Kak Sanu?" tanya Agus.
"Entahlah aku juga tidak tau."
"Kenapa Kak sanu selalu bilang tidak tau?"
Sanu menghentikan langkahnya, menatap kesal Eko dan Agus.
"Aku harus menjawab apa, memang aku tidak tau siapa bapak itu!"
Eko dan Agus terdiam, mereka tidak berani bertanya lagi kepada Sanu. Wajah mereka berdua menjadi masam. Sanu, Eko dan Agus menaiki metro mini turun di stasiun Pasar Senen lalu menaiki kereta listrik menuju stasiun Pasar Minggu.
Eko dan Agus masih terdiam.
"Kalian kenapa, maaf kalau Kak Sanu tadi kasar."
Eko dan Agus tidak mempedulikan permintaan maaf Sanu. Mereka berdua melenggang melewati Sanu.
Sanu mengikuti dari belakang. "Kalian kenapa, sih."