Sanubari

Sanubari
Ending.



Eko dan Agus tertawa melihat expresi Dara.


"Hay Dara ... lama tidak bertemu," sapa Bari.


Dara masih terpaku, masih belum mengerti mengapa ada Bari di sini.


"Tidak usah heran seperti itu, Kak Dara? Kak Bari sudah dari kemarin tinggal di rumah Kak Sanu," ucap Agus.


"Ooo ...." Dara masih melongo.


"Kemarin kita tidak sengaja lihat Kak Bari nyasar mencari Kak Sanu. Untung ketemu kita! Jadi kita bisa mengantar ke rumah nya Kak Sanu."


Dara menatap kesal Eko dan Agus, menepuk punggungnya. "Kenapa kalian tidak bilang, kalian mau menyembunyikan sesuatu dariku."


"Kak Dara tidak bertanya," ucap Eko.


Dara melotot ke arah Eko dan Agus.


Sanu dan Bari pun tertawa menutup mulutnya melihat tingkah mereka bertiga.


"Kalian di sini kost dimana?" tanya Bari.


"Kami kost di dekat alun-alun, Kak. Kami kesini khawatir dengan Kak Sanu," jawab Dara.


"Terima kasih, Dara." Sanu melebarkan tangannya memeluk Dara.


Mereka berbincang di gedung pengungsian, hingga larut malam


Satu minggu kemudian, keadaan mulai normal. Clara terlihat sudah berlarian bersama teman sebayanya. Nurjanah juga sudah pulih, tapi butuh istirahat yang cukup. Para pengungsi di perbolehkan kembali di desa masing-masing.


Terlihat Desa Sanu yang dulu hijau kini di penuhi tumpukan abu vulkanik setebal 2 cm. Para Warga bergotong royong membersihkan Abu Vulkanik dari gunung merapi. Sebagian ada yang menjualnya untuk dijadikan perekat bahan Bangunan.


Mobil Alpard warna hitam yang di pakai ibunya Bari, tertutup Abu vulkanik. Mira tidak sempat mengambilnya karena ada pekerjaan di Ibu Kota. Mira hanya memberikan Bari kontak mobilnya. Bari membersihkan mobil itu. Cat mobilnya mulai terkelupas karena terkena hawa panas dari abu vulkanik. Namun, tidak masalah bagi Bari, yang penting mesin mobil masih bisa menyala.


Bari lalu membantu Sanu dan Clara membersihkan rumah. Sanu hanya bisa membantu seadanya. kondisinya tidak memungkinkan untuk bergerak lincah. Clara yang berusia tujuh tahun mendorong kursi rodanya. Clara sudah terbiasa membersihkan rumahnya. Ibunya yang selalu mengajari Clara untuk jangan mudah bergantung kepada orang lain selagi kita masih bisa melakukannya.


Butuh waktu seharian untuk bisa membersihkan abu vulkanik. Bari duduk bersandar di kursi, terlihat kelelahan. Sanu membuatkan teh hangat untuk Bari. Clara yang mengantarkannya.


"Terima kasih, Clara."


"Kak Sanu yang membuatkan untuk Kak Bari," ucap Clara.


"Kalau begitu bilang sama Kak Sanu, minggu depan mau diajak nikah sama Kak Bari."


Clara yang masih polos hanya mengangguk, lalu menyampaikannya ke Sanu.


"Kak Sanu ...."


"Apa, Clara?"


"Katanya minggu depan Kak Sanu mau diajak nikah Sama Kak Bari." Clara berbicara sambil memainkan jari-jari kecilnya.


Wajah Sanu bersemu merah, senyum-senyum sendiri.


"Kok Kak Sanu jadi malu?" tanya Clara dengan polosnya.


Sanu mencubit gemas pipi Clara.


Clara berlari menemui Bari.


"Bagaimana, Clara?" tanya Bari pelan.


"Kak Sanu malu tapi dia senang."


"Kok Dara tau?"


"Karena pipi Clara tadi dicubit sama Kak Sanu, biasanya kalau Kak Sanu mencubit pipinya Clara, berarti Kak Sanu gembira."


Bari tertawa. "Ooo ... gitu ya, Clara!"


Clara mengangguk.


Sanu dari dapur diam-diam mendengarkan obrolan Bari dan Clara. Dia salah tingkah sendiri melihat adiknya yang belum bisa berbohong.


Sanu memutar kursi rodanya menghampiri Clara. Menyuruhnya tidur karena hari sudah larut. Clara mengangguk, segera masuk kamar.


Kini hanya ada Bari dan Sanu. Bari menaik-turunkan kedua alisnya hendak menggoda Sanu.


"Tadi yang disampaikan Dara," ucap Bari.


Sanu malah mencubit gemas pinggang Bari. "Kamu ini ya, anak kecil disuruh jadi mak comblang."


Bari tertawa merasa geli. Suasana lengang sejenak. Bari membungkuk, memegang kedua lengan Sanu, menatap penuh arti.


"Aku serius, Sanu. Mau kah minggu depan kamu menikah denganku?" Aku tidak akan meninggalkanmu lagi."


Sanu berkaca-kaca menatap Bari. Dia tidak bisa menahan kegembiraannya. Secara spontan tubuhnya memeluk Bari.


"Aku mau. Tentu saja aku mau. Hanya kamu laki-laki yang aku cintai," ucap Sanu dengan suara parau.


...***...


Satu minggu kemudian, acara pernikahan Sanu dan Bari di gelar. Rencananya akan di gelar dua kali. Yang pertama di rumah Sanu yang kedua di rumah Almarhum Atmaja. Ayah Dari Bari.


Sanu terlihat cantik memakai baju pengantin berbentuk kebaya berwarna putih duduk di kursi pengantin. Sedangkan Bari memakai kemeja putih yang dilapisi jas dan celana hitam. Mereka berdua begitu serasi menjadi ratu dan raja di hari itu. Mira dan Nurjanah berada di sampingnya.


para tamu undangan mengucapkan selamat atas pernikahan Sanu dan Bari. Sudut mata satu teralihkan saat Aida dan Latif bergandengan tangan tampak mesra. Mereka berdua menghampiri Sanu.


"Kalian ...?" Sanu tampak gembira melihat Aida dan Latif datang di acara pernikahannya.


"Kenapa, Sanu? Jangan salah kita sudah jadian," ucap Aida bersandar di pundak Latif.


"Selamat ya ... aku ikut senang mendengarnya."


"Kamu juga selamat ya ... nanti malam kamu jangan nangis lho ya?"


"Maksudnya?" tanya Sanu tidak paham.


Aida hanya tertawa kecil. "Nanti malam kamu juga tau?"


"Kamu mah selalu gitu, Aida?"


"Kak Sanu ...!" Panggil seorang perempuan berambut sebahu.


"Dara, Eko, Agus!"


Mereka bertiga menyalami Sanu.


"Kak Sanu cantik banget!!!" seru Dara menggenggam kedua tangan Sanu.


Sanu tersenyum mengucapkan terima kasih.


"Kak Dara cepetan, perut ku sudah lapar nie," ucap Agus.


Dara melirik kesal. "Ganggu kesenangan orang saja!"


"Agus, Eko kalau mau makan ambil saja sepuasnya," ucap Bari.


"Beres, Kak!" Agus dan Eko mengacungkan jempolnya. Mereka berdua melompat dari podium bergegas mengambil makanan yang disediakan secara prasmaman.


Seusai acara mereka berfoto ria mengenang moment bersejarah ini. Acara bejalan lancar tanpa ada kendala.


Bari mengajak Sanu di kamar. Mata mereka saling berada cukup lama. Jantung Sanu berdegup kencang.


"Apa ini yang di maksud Aida?" bantin Sanu.


"Kamu sudah siap?" tanya Bari lirih.


Sanu mengangguk pelan dengan wajah merah padam.


Bari langsung membopong Sanu dari kursi Roda, lalu merebahkannya di atas springbed. Malam pertama mereka pun dimulai disusul dengan teriakan panjang Sanu.


Dua tahun berselang, Sanu dan Bari mempunyai anak kembar laki-laki dan perempuan yang diberi nama Arsyi untuk anak pertemuan dan Arsya untuk anak laki-laki. Usia anak Sanu baru satu tahun. Mereka hidup bahagia tinggal di rumah Mira bersama dengan keluarga kecilnya.


...~TAMAT~...


**terima kasih bagi teman-teman yang mau bersedia meluangkan waktunya untuk membaca novel SanuBari.


Berikutnya saya akan mencoba menulis novel hasil lomba mengubah takdir yang berjudul 'Aku dan Adik cantikku'


Mohon bantuannya mudah-mudahan suka. Maaf kalau ada salah penulisan atau salah dikata. Hanya manusia biasa๐Ÿ™๐Ÿ™