
Mira tersadar bahwa kebahagiaan anaknya jauh lebih penting dari apapun. Tiba-tiba suara gemuruh gunung disertai goncangan terdengar keras hingga siapapun yang mendengar menutup telinga. Semua warga terlihat panik menatap gunung merapi. Suara sirene dari balai desa terdengar keras. Itu tanda bahaya, warga desa keluar rumah. Gumpalan asap bagai cendawan raksasa terlihat dari pucuk gunung. Bencana enam tahun yang lalu saat keluarga Sanu kehilangan ayahnya itu terulang lagi. Semua warga berlarian menjauh dari kepulan asap.
Bari mendorong Sanu berlari sekuat tenaga bersama warga yang lainya. Nurjanah menuju sekolah untuk menjemput Clara. Hujan asap mulai menyerang perkampungan. Begitu banyak dan menempel lengket.
lahar panas gunung mulai menyapu apapun yang ada di depannya. Guncangannya tidak sekeras bencana enam tahun yang lalu. Namun, bagi warga yang tinggal di lereng gunung seperti Sanu tentu akan merasakan dampaknya.
Sanu menyuruh Bari berhenti. "Ibu dan Clara mana, Kak." Sanu berteriak mencoba mengalahkan teriakan warga yang panik.
"Kita selamatkan diri dulu, Sanu! Mungkin ibu kamu terpisah dari kita.
Hujan asap semakin lekat.
Sanu menggeleng. "Tidak! Aku ingin melihat ibu dan adikku. Tolong lepaskan Aku, Kak!"
"Tidak ada waktu, Sanu! Terlalu berbahaya kalau kita kembali ke rumahmu."
Sanu berontak berusaha menyusul ibu dan adiknya, tapi dia malah terjatuh dari kursi roda.
"Sanu!" Bari membopongnya, menyuruh Bondan membawa Sanu ke tempat yang lebih aman.
"Mau kemana mas? Jangan nekat terlalu berbahaya!" teriak Bondan.
Bari tidak mendengarkan ucapan Bondan. Mira yang melihatnya memekik memanggil Bari. Sanu pun tidak ingin terjadi apa-apa dengan Bari. Dia menangis menyuruh Bari kembali.
Bari semakin jauh dari pandangan dan menghilang saat kabut asap semakin tebal.
"Kita hanya bisa berdoa semoga Brian selamat," ucap Mira dengan nada getir.
Ditengah kabut asap yang tebal Bari berteriak memanggil-manggil Nurjanah dan Clara. Terdengar perempuan terbatuk-batuk dan seorang anak kecil yang sedang menangis memanggil nama ibu.
Bari segera kesana menuju sumber suara. Terlihat Nurjanah terduduk dengan napas yang terengah-engah.
"Ibu!" Bari segera memggendong Nurjanah, sedangkan Clara berlari di samping Bari.
Masalah Baru muncul, kabut asap yang tebal membuat jarak pandang terbatas. Jalan keluar dari desa terhalang. Bari berhenti sejenak mencoba berpikir. Nurjanah terus terbatuk karena tidak kuat menghirup zat asam yang di keluarkan gunung merapi. sepertinya penyakit paru-paru basahnya kambuh. Kalau Bari tidak bisa keluar dari kepulan asap ini, nyawa mereka bisa terancam.
Clara mendongak menarik celana Bari. "Kak Bari ikut Clara! Clara tau jalan keluar desa!"
Bari mengikuti langkah kecil anak berusia tujuh tahun itu. Clara sering bermain dengan teman sebayanya, jadi dia sudah hapal di luar kepala jalan keluar kampungnya. sepuluh menit berlari kerumunan warga sudah terlihat. Mira dan Sanu menyambut Bari, Nurjanah dan Clara dengan tangisan haru. Petugas kesehatan memberi Clara dan Bari alat bantuan pernapasan. Sedangkan Nurjanah segera dilarikan ke rumah sakit. Nurjanah pingsan karena terlalu banyak menghirup zat asam.
Polisi yang datang menghimbau warga berteduh di tempat pengungsian yang sudah di siapkan karena kemungkinan akan ada letusan susulan. Warga pun segera mengikuti arahan polisi.
Dari bawah Sanu melihat sungai yang jernih kini berubah menjadi lahar panas yang bisa melelehkan benda apapun. Sanu teringat kejadian enam tahun lalu ketika letusan berskala 4 Vei meluluh lantahkan perkampungannya. Untungnya letusan kali ini hanya menimbulkan hujan asap tebal yang menutupi perkampungannya.
...***...
Warga kampung yang terdampak erupsi gunung merapi berada di Gedung olah raga sebagai tempat pengungsian sementara.
Bari terlihat sudah tidak memakai selang pernapasan lagi. Dia menghampiri Sanu dan Mira yang duduk beralaskan tikar.
"Mama dan Sanu tidak apa-apa, kan?" tanya Bari memegang lembut pundak Mira.
Mira tersenyum, memegang lembut wajah Bari. "Mama tidak apa-apa, Brian? Seharusnya Mama yang bertanya kepadamu."
Bari tersenyum tipis menatap Mira dan Sanu.
"Ibu kamu sudah ditangani dokter, kamu tenang saja, Sanu. Clara kondisinya juga baik-baik saja." Bari mencoba menenangkan Sanu.
Sanu merasa lega. "Aku ingin menemui Clara, Kak?"
"Terima kasih sudah menyelamatkan Clara dan Ibu." Sanu tersenyum menggenggam tangan Bari.
Mata mereka berdua saling beradu cukup lama. Mata sepasang sejoli yang saling merindukan.
Mira sebagai orang tua bisa merasakan betapa kuatnya cinta Sanu dan Bari. Bondan dan Jaka yang sedari tadi membantu warga dengan tenaga mereka sudah kembali menghadap Mira. Tugas mereka sudah selesai.
"Mama mau pulang dulu ya, Sayang? Mama tunggu kabar baik dari kalian berdua."
Sanu dan Bari tersenyum. Mira hendak kembali ke Ibu Kota menaiki pesawat. Kondisi sudah kondusif. Mira juga sudah mengirim bantuan untuk warga desa yang terdampak bencana. Bari pengantar Mira sampai di depan gerbang menunggu mobil jemputan datang, lalu kembali menemui Sanu.
"Aku ingin melihat Clara, Kak?" rengek Sanu.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." Bari mendorong kursi roda Sanu menuju ruangan adiknya.
Clara masih tertidur dengan bantuan selang pernapasan. butuh waktu untuk melepas selang yang menempel di hidungnya. Minimal sampai dia terbangun.
Sanu berada disampingnya, memegang tangan kecil adiknya.
"Clara anak pintar, Sanu. Dia yang menuntunku saat jarak pandang terbatas karena kabut asap yang tebal," ucap Bari.
"Clara belum pernah mendapat kasih sayang dari seorang ayah. Waktu Bapak meninggal Clara Baru berusia enam bulan," ucap Sanu.
Bari mengusap rambut pendek Clara.
Malam tiba, Eko, Agus dan Dara datang ke pengungsian. Tadi pagi Mereka melihat dari televisi terjadi erupsi gunung merapi yang letaknya tidak jauh dari rumah Sanu dan keluarganya. Mereka khawatir dengan keadaan Sanu dan keluarganya.
Mereka mencari kesegala ruangan, tapi tidak menemukan sosok Sanu.
"Coba kamu tanya, Gus?" Dara menyuruh Agus bertanya kepada warga.
Agus mengangguk.
"Pak mau tanya, nama pengungsi yang bernama Sanu dimana ya?"
"Waduh, saya tidak tau Dek, pengungsi di sini banyak, dari beberapa desa."
Agus tersenyum mengucapkan terima kasih.
Dara menjadi khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Sanu.
"Tenang saja, Kak? Sanu dan keluarga pasti selamat. Berita tadi pagi menyiarkan kalau tidak ada korban." Eko menepuk bahu Dara.
Dara menaik-turunkan kepalanya.
Tepat di depan ruangan, Sanu keluar. Dara yang melihat Sanu pun memanggilnya.
"Kak Sanu!" seru Dara menghampiri Sanu, lalu memeluknya.
"Dara ... kalian kok tau aku ada di sini?"
"Ya tau lah, Kak Sanu lupa ya, kalau kita anak pitcing."
Sanu melebarkan senyumnya.
Dara pun dibuat terkejut saat Bari keluar dari ruangan yang sama dengan Sanu.
"Ada Kak Bari juga?" Dara terpana membuka mulutnya.