Sanubari

Sanubari
Rindu yang tersampaikan.



semenjak kejadian kemarin, Sanu hampir setiap hari melihat kost nya Bari. Hingga ibu kost terkadang menegurnya karena duduk terlalu lama di depan pintu kost. Apalagi kost nya Bari itu khusus laki-laki.


Sanu mencemaskan Bari, pikirannya kacau. Di lapangan dia kembali tidak fokus, standarnya kembali anjlok.


Mila dan Ilham menemui Sanu di kost. Hari ini Sanu memang tidak masuk kantor. Alasannya sakit, padahal dia memang sudah malas pergi ke lapangan.


"Eh, kalian. Masuk."


Ilham dan Bari duduk lesehan di depan Sanu terlihat murung.


"Ada apa, kenapa wajah kalian murung?"


Ilham dan Mila saling mengendikan kepala, mereka berdua saling melempar siapa yang ingin berbicara terlebih dahulu.


"Ngomong saja? Ilham kamu duluan yang bicara."


Ilham tersentak, "Begini, Kak. Kami berdua mau keluar dari pekerjaan ini."


Sanu terkejut, "Kenapa?"


"Kita sudah tidak kuat lagi, Kak. Kita sudah lima bulan mengikuti Kak Sanu, tapi, sejauh ini belum ada perkembangan juga. Sementara orang tua kami terus menanyakan hasil yang kami dapat dari pekerjaan kami." Mila menjelaskan kepada Sanu.


Sanu dengan berat hati merelakan kepergian Ilham dan Mila. Hati Sanu begitu terpukul, kini Sanu tinggal sendiri. Sanu sudah tidak kuat lagi, pikiran Sanu mendorongnya kuat untuk keluar dari pekerjaan ini.


Malam hari Rina datang membawakan makanan untuk Sanu.


"Hey Sanu, aku bawakan makanan dari pak Nazar."


Sanu terdiam cukup lama, suasana lengang. Rina menaruh tas punggungnya disamping Sanu lalu mengambil handuk lekas mandi. Suara guyuran dari kamar mandi terdengar riuh di telinga Sanu. Rina keluar dari kamar melihat makanannya belum tersentuh.


"Kamu kenapa lagi, Sanu? Minggu kemarin kamu kelihatan sudah semangat. Tapi, kenapa kamu kumat lagi," cibir Rina.


"Aku mau keluar, Rina."


"Keluar kemana, biar aku temani kamu," ucap Rina.


"Aku mau keluar dari pekerjaan ini."


Rina yang sedang berkaca dengan cepat mendekati Sanu.


"Kenapa, Sanu. Bolehlah kamu tidak semangat, tetapi jangan sampai berhenti di tengah jalan."


"Aku sudah tidak punya hasrat untuk ke lapangan lagi. Tadi siang Ilham dan Mila kesini , pamit undur diri."


Rina menghela napas. "Banyak trainer yang seperti itu, Sanu. Kehilangan crew itu sudah biasa. Kita bangun lagi crew baru."


Sanu menggeleng, tersenyum menatap Rina. "Maaf ya, Rina."


"Aku tau kamu ingin keluar bukan karena Ilham dan Mila. Tapi karena Bari, kan. Kamu ingin mencari Bari?"


Sanu terdiam, menelaah ucapan Rina.


"Kalau aku jadi kamu, Sanu. Aku akan membuktikan kepada Bari, kalau aku bisa tanpa dia." Rina sedikit kesal dengan Sanu.


"Tidak tau, Rina. Pikiran ini terlalu membebaniku." Bulir bening menetes di pipi Sanu.


Rina menghela napas. "Ya sudahlah, Sanu. Kalau itu menjadi keputusanmu. Aku doakan kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik di luar sana."


Rina memeluk Sanu, Rina seakan tidak rela kehilangan teman kost nya itu. Bagaimanapun juga, mereka sudah tujuh bulan satu kost. Suka duka telah dilewati, saling bercerita, bercanda. Bagi Rina, Sanu adalah sahabat terbaiknya.


"Kapan kamu akan bilang sama pak Nazar, Sanu?"


"Hari senin."


"Besok kamu di kost saja tidak usah pitcing."


"Besok kan hari minggu, Rina?"


"Aku tau, Sanu. Maksudku aku mau pitcing hari minggu. Jadi kamu di kost saja tidak usah keluar sampai aku kembali." Rina menjelaskan kepada Sanu.


...***...


Minggu pagi di rumah Mira Atmaja, Bari tampak berdandan rapi memakai jaket bomber.


"Mau kemana, Brian?" tanya Mira.


"Aku mau menemui Sanu, Ma."


"Hati-hati, tidak usah ngebut."


Bari mengendarai motor sport bewarna birunya. Bari berharap semoga Sanu ada di kost. Bari ingin mengajak Sanu jalan-jalan. Sudah satu bulan Bari tidak melihat Sanu.


Suara ketukan pintu terdengar dari kamar kost Sanu. Suara ketukan itu terdengar pelan. Sanu membuka pintu kayu itu dan terkejut dengan tamu yang datang. Sanu termenung, tubuhnya mematung. Seorang pria tinggi kekar berada di depannya. Pria yang selama ini membuat Sanu memikirkannya. Bari terlihat semakin bersih dan rapi, dia terlihat tampan.


"Bari ...!"


"Hay, Sanu. Lama tidak berjumpa," sapa Bari.


"Kamu kemana saja?" lirih Sanu.


Bari tersenyum, " Badan kamu semakin kurus, Sanu."


Sanu memajukan bibirnya.


"Aku hanya bercanda." Bari memegang wajah Sanu dengan kedua tangannya.


Sanu menyunggingkan senyum. Mata Sanu mulai sembab. Dia begitu senang ada Bari dihadapanya.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, Sanu."


Tanpa pikir panjang Sanu mengangguk bergegas mengganti pakaiannya.


"Kita mau kemana, Kak?"


"Ikut saja, Sanu." Bari memberikan helm untuk Sanu.


"Ini motor Kak Bari?"


Bari mengangguk sambil menaiki motornya.


Sanu tidak menyangka Bari punya motor sport yang pastinya harganya mahal. Bari mengajaknya ke Taman Mini. Memarkirkan motornya dengan sempurna.


"Ayo kita masuk, Sanu. Aku tidak sabar melihat taman bunga." Bari dan Sanu menyewa sepeda tandem mengayuh berdua mengelilingi Taman Mini. Istirahat di Danau sambil menikmati angsa yang bernyanyi di atas air danau.


Sanu menyandarkan kepalanya di pundak Bari. Menceritakan semua kejadian saat Bari tidak ada. Sanu juga bercerita tentang keinginannya yang ingin keluar dari kantor MLM ini.


Bari menentangnya untuk hal ini. "Kamu harus kuat, Sanu. Maafkan aku yang pergi begitu saja."


"Semua crew sudah hilang," ucap Sanu.


"Kamu bangun lagi, Sanu. Aku yakin kamu bisa."


"Kak Bari kemana saja? Aku melihat Kak Bari di dikejar dua orang tinggi besar."


"Mereka," Bari sedikit bingung mrnjelaskannya, "Mereka dept colektor, dulu orang tuaku hutang kepada bos mereka. Dan aku dipaksa untuk melunasinya," alasan Bari.


Sanu menegakkan kepala yang sudah nyaman di pundak Bari lalu menatapnya.


"Kenapa Kak Bari tidak pernah cerita, kenapa Kak Bari malah memberiku uang saat aku pulang." Sanu mendesak Bari untuk menjawab.


Bari tertawa melihat tingkah Sanu. Sebenarnya Bari juga bingung harus menjawab apa. Dia tertawa supaya raut wajahnya tidak mencurigakan di mata Sanu.


"Kok malah tertawa." Sanu memajukan bibirnya bermuka masam.


"Nanti aku ceritakan ke kamu, Sanu. Lebih baik kita ke taman bunga sebelum hujan datang."


Sanu mendongak melihat awan yang mulai gelap.


"Kak Bari sekarang kerja dimana?"


"Aku kerja di pabrik. Kita sudah sampai?"


kakek penjaga kebun bunga menghampirnya.


"Apa kabar, Kek?" sapa Sanu.


Kakek itu tersenyum. "Baik. ini musim anggrek bermekaran." Kakek penjaga kebun bunga itu menunjukan kebun anggrek yang mekar berwarna warni.


Sanu dan Bari berjalan hendak melihat bunga anggrek yang bermekaran. Sudut Mata Sanu terfokus bunga anggrek berwarna hijau. Sanu mendekatkan hidungnya untuk menghirup aroma anggrek berwarna hijau itu.


"Harum sekali ...," Kagum Sanu.


Sanu dan Bari menikmati indahnya kebun anggrek sampai sore hari.


Bersambung ...